Penyebab Cacatnya Amal Ibadah

0
948

BincangSyariah.Com – Amal ibadah yang dilakukan setiap hari, mulai dari salat hingga berdoa sebelum tidur adalah bentuk pengabdian kita kepada Allah. Tidak ada yang perlu diharapkan kecuali ridaNya, sehingga kita bisa merasakan indahnya sebuah amal tanpa ingin mendapatkan keuntungan pribadi. Orang-orang yang beribadah kepada Allah karena sesuatu, bukan ikhlas karenaNya adalah mereka yang belum menghayati perintah Allah yang tertuang dalam sifat-sifatNya. Hal seperti itu bisa menyebabkan cacatnya amal ibadah.

Hal tersebut dijelaskan Ibn Atha’illah dalam karyanya kitab Al-Hikam sebagai berikut:

من عبده لشيء يرجوه منه أو ليدفع بطاعته ورود العقوبة عنه فما قام بحق أوصافه

“Siapa saja yang menyembah Allah karena sebuah harapan atau penolakan atas sebuah siksa melalui ibadahnya, maka ia belum menunaikan kewajiban sifat-sifatNya.”

Keterangan tersebut mengisyaratkan bahwa seseorang yang beribadah karena sebuah keinginan pribadi sejatinya hanya memikirkan nafsu dirinya, bukan lagi untuk mengagungkan dan memuliakan Allah. Yang begitulah yang menyebabkan cacatnya amal ibadah kita di mata Allah. dalam kitab Syarhul Hikam dituliskan:

بل هو قائم بحظ نفسه من جلب الثواب أو دفع العقاب بخلاف ما إذا عبده لأجل جلاله وعظمته وما هو عليه من محامد صفاته التى لا يشارك فيها إذ من كان كذالك يستحق أن يخدم بالعبادة فأنه حينئذ يكون قائما بحق أوصافه أي موفيا لها حقها… وفي الحديث لا يكن أحدكم كالعبد السوء إن خاف عمل، ولا كالأجير السوء إن لم يعط الأجرة لم يعمل

“Tetapi ia menunaikan tuntutan nafsunya berupa kehadiran pahala atau penolakan azab. Hal ini tentu berbeda dengan seseorang yang menyembah Allah karena kebesaran, keagungan, dan sifat-sifat terpuji Allah lainnya yang hanya dimiliki oleh-Nya karena mereka yang sudah demikian berhak untuk menyandang khidmat-melayani melalui ibadah sehingga ketika itulah mereka dinilai telah menunaikan kewajiban sifat-sifatNya, maksudnya memenuhi tuntutan sifat-sifatNya. Di dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda, ‘Jangan sampai salah seorang kalian berperilaku seperti budak yang buruk di mana ia baru bekerja kalau takut (siksa majikannya). Jangan juga kalian berperilaku seperti buruh yang buruk di mana ia belum mau mengerjakan kewajibannya sebelum diberi upah.’”

Baca Juga :  Tiga Jenis Noda yang Mengotori Hati Menurut Ibnu Athaillah

Kalam hikmah di atas mengingatkan kembali, bahwa sejatinya manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Konteks ibadah di sini luas, tidak hanya salat, sedekah, atau menebarkan senyuman, melainkan apa-apa yang baik dan diniatkan untuk membantu agama Allah. Seyogyanya kita tidak menprioritaskan keinginan pribadi dalam beribadah, sehingga ibadah yang kita kerjakan tidak tergolong dalam ibadah yang cacat.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here