Pentingnya Mewujudkan Dialog dengan Kelompok yang Berbeda

0
27

BincangSyariah.Com – Direktur The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, Ruby Kholifah, menekankan tentang betapa pentingnya mewujudkan dialog dengan kelompok yang berbeda saat diskusi daring dengan tema Hebatnya Kebhinnekaan Indonesia dalam rangkaian acara Muharram For Peace pada Minggu (13/9).

Bagi Ruby, hanya orang bodoh yang tidak bisa menerima kebhinnekaan dan perbedaan, sebab keduanya adalah sesuatu yang sangat natural dan ada di sekitar kita. Kita akan sulit untuk mencari fakta bahwa sekeliling kita homonegis. Tapi, bukti-bukti bahwa sekeliling kita beragam ada banyak sekali. (Baca: Dialog Agama Islam dan Kristen; Lambang Salib dalam Pandangan Filosof Muslim)

Apa yang berat dari situasi tersebut adalah bagaimana meyakinkan kepada orang lain bahwa perbedaan yang ada membawa rahmat. Kita punya sejarah ketidakberhasilan mengelola perbedaan. Beberapa konflik yang terjadi di beberapa daerah misalnya di Sulawesi Tengah juga merupakan salah satu kegagalan dalam mengelola perbedaan.

Orang sangat mudah diprovokasi dengan kebenaran tunggal yang diyakini oleh kelompoknya dan membuat kelompok lain dianggap kalah. Kebenaran tunggal juga semakin menjadi-jadi. Tidak ada kualifikasi, siapa yang bersuara kencang dan suaranya paling banyak dianggap paling benar. Dalam beberapa aspek kehidupan kita yang nyata, kita bertemu dengan situasi seperti itu.

Ruby mengaku beberapa kali dikoreksi karena cara berkerudungnya. Padahal, menurutnya, hanya orang tertentu yang berani melintasi batas kemudian mengoreksi cara berpakaian orang. Orang Indonesia aslinya sangat tidak biasa untuk melakukan koreksi, tetapi bisa saja sangat mudah mengatakan bahwa “kamu benar, aku pengen berdakwah dengan kamu” dan sebagainya. Hal tersebut adalah sesuatu yang bisa aja kita temui di jalan dan dan Ruby sendiri mengalami hal itu.

Baca Juga :  Grand Syekh Al-Azhar Himbau Agar Tidak Berfoto dan Unggah di Medsos saat Sedekah

Usia Indonesia sudah 75 tahun. Artinya, kita punya resilience di dalam masyarakat Indonesia. Hal tersebut harus kita yakini. Jika tidak, kita akan punya level konflik berskalanya besar, nasional. Tetapi, tidak semua komunitas memiliki tingkat resilience yang merespons baik tantangan dari luar komunitasnya maupun persoalan-persoalan di internal komunitas itu sendiri khususnya sebenarnya yang paling urgent adalah yang berhubungan dengan perbedaan.

Mengapa hal ini menjadi begitu penting? Sebab secara geografis kita tinggal di sebuah tempat di mana memungkinkan kita experiencing diversity jauh lebih mudah untuk membangun skill. Agree to disagree bukan sesuatu yang mudah.

Ruby bercerita bahwa AMAN pernah menantang diri sendiri untuk tidak ada di sebuah zona nyaman di mana mereka hanya bertemu dengan orang yang itu-itu saja, orang yang sama. AMAN ingin menantang untuk duduk dengan orang yang berbeda sekali, sampai pada taraf membuat ingin muntah dan marah.

Akhirnya, AMAN mencoba dengan tool yang bernama dialog reflektif, dialog dengan kelompok yang berbeda yang dicoba kepada kelompok perempuan dari berbagai macam latar belakang ideologi. Ada Ahmadiyah, Salafi, dan Wahabi. Mereka menyadari hal tersebut pertama kali dilakukan sebab terlalu lama terbuai dengan melakukan kegiatan yang biasa.

“Untuk mengundang kelompok yang berbeda dengan kita adalah tantangan tersendiri sebab tidak mudah mengundang mereka dan belum tentu mereka mau datang sebab mereka harus mengecek siapa diri kita, begitu juga sebaliknya.” Tegas Ruby.

Setelah dialog benar-benar terjadi, hal tersebut menjadi sebuah pembelajaran di mana kita sendiri yang dilabeli orang progresif, belum tentu memiliki skill untuk menahan diri agar tidak melakukan intervensi saat ada orang lain bicara dengan kacamata atau sudut pandang yang berbeda sekali dengan kita.

Baca Juga :  Apa Tujuan Allah Memberikan Nikmat pada Hamba-Nya?

Skill berdialog dan skill listening perlu diajarkan ke masyarakat. Tapi, apakah masyarakat Indonesia resiliensi? Ada. Tinggal bagaimana memperkuatnya. Dialog dengan orang yang sangat berbeda kemudian menghasilkan beberapa hal. Ternyata dialog yang dilakukan teman-teman sebenarnya tidak perlu. Kita hanya perlu bicara apa yang kita rasakan dan yang kita pikirkan terhadap sebuah isu.

Tidak takut untuk mengungkapkan bahwa dia berbeda dengan kita dan dia merasa nyaman ketika dia menyatakan untuk bisa diterima meskipun sangat berbeda. Kita bisa bicara soal poligami, perkawinan anak, keberagaman dan lain-lain. Dialog dengan kelompok yang berbeda bisa terus diwujudkan dan ada aturan-aturannya.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here