Pentingnya Memperbaiki Niat dalam Hijrah

0
16

BincangSyariah.Com – Senin (21/09), Kelas Ngaji Sunnah (Ngasuh) yang diselenggarakan el-Bukhari Institute telah memulai sesi pertamanya. Kajian yang diasuh oleh Ustadz M. Khairul Huda ini diawali dengan membahas sejarah hijrah Nabi saw. (Baca: Ngaji Sunnah: Hijrah Sesuai Sunnah Rasulullah)

Ustadz Huda menjelaskan bahwa hijrah memiliki dua arti. Arti pertama adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Arti inilah yang populer dan digunakan sejak masa Rasulullah saw. Pada saat itu umat muslim harus hijrah dari Makkah ke kota Habasyah dan dari Makkah ke kota Madinah untuk menghindari intimidasi kaum Quraisy yang semakin kuat. Kedua, hijrah berarti perubahan prilaku dari yang tidak baik menjadi baik.

Pada sesi tanya jawab, di antara audiens ada yang melontarkan pertanyaan terkait cara memulai hijrah dari keburukan yang sulit untuk ditinggalkan. Selanjutnya ia juga menanyakan cara agar tidak hijrah kebablasan dalam artian menjadi paling suci sendiri, dan cara memperbaiki niat dalam hijrah.

Ustadz Huda memulai menjawabnya dengan mengutip hadis Rasulullah saw. Innamal a’maalu bin niyyat bahwasannya amal perbuatan itu dasarnya adalah niat dulu. Sehingga kita harus memiliki tekad untuk meninggalkan keburukan. Kalau niatnya saja tidak ada maka akan sulit tahap-tahap selanjutnya, setelah itu sedikit demi sedikit memperbaiki niat dalam hijrah.

Kelanjutan hadis tersebut, Rasulullah saw. mengatakan innama likullimriin maa nawaa bahwasannya setiap orang punya niatnya sendiri-sendiri. Hanya orang itu sendiri yang tahu. Fa man kaaanat hijratuhu li Rasulih fa hijratuhu li Rasulih. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan karena menaati perintah Rasulullah saw. maka dia akan mendapatkan pahala dari Allah dan Rasul-Nya. faman kaanat hijratuhu ilam raatin yankihuha awid dunya yushibuha fahijratuhu ilaa maa haajara ilaih. Barang siapa yang hijrahnya karena wanita yang hendak dinikahinya atau dunia, maka hijrahnya untuk apa yang ia niatkan itu.

Baca Juga :  Hijrah kok Cari Musuh ?

Hadis tersebut menekankan pentingnya niat dulu. Niat yang kuat dan minta kepada Allah swt. agar diberi tekad yang kuat untuk meninggalkan keburukan-keburukan. Niat ini juga harus diimplementasikan. Harus diwujudkan dalam perbuatan. Tidak sekedar niat.

Cara untuk meninggalkan keburukan yang sudah menjadi kebiasaan, maka harus mulai dikurangi kebiasaan-kebiasaan tersebut. Kalau memang lingkungan kita tidak mendukung, kita bisa mulai dengan meninggalkan lingkungan. Dalam arti tidak terikat dengan lingkungan kita. Karena kalau sudah terikat akan mempersulit langkah kita memperbaiki diri sendiri.

Adapun cara agar tidak hijrah kebablasan yakni menjadi merasa paling suci sendiri, menurut Ustadz M. Khairul Huda sebenarnya merupakan fenomena yang wajar. Hal ini disebabkan karena orang dapat ilmu dan wawasan baru pasti akan merasa lebih tahu dari orang lain.

Terkait hal ini, Imam Al-Ghazali berkata, “Afatul ilmi alkibru”. Salah satu dampak buruk mempunyai ilmu adalah sombong. Jadi, jika kita mulai mengetahui kebaikan dan bersemangat mengerjakannya, lalu ketika melihat orang lain yang masih berlumuran dosa, kita merasa lebih baik dibanding pelaku dosa tersebut, pada mulanya adalah sesuatu yang normal.

Tetapi, hal itu harus dikoreksi dan dimuhasabahi. Sehingga muhasabah diri sangat penting sekali agar apa yang sudah kita lakukan tidak sia-sia. Jangan sampai karena takabbur dan merasa lebih dibanding orang lain sesama makhluk Allah swt., kemudian kita menyia-nyiakannya dengan melakukan perbuatan dosa, yaitu takabbur.

Takabbur adanya di dalam hati. Termasuk perbuatan hati yang diharamkan dalam Islam adalah sombong. Ada sebuah hadis yang mengatakan bahwa orang yang di dalam hatinya ada sebuah dzarrah dari kesombongan maka dia akan masuk neraka. Riwayat lain mengatakan la yadkhulul jannah man fi qalbihi dzarratun minal kibri.

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada satu benih biji sawi dari kesombongan. Bayangkan biji sawi itu kecil sekali. Oleh sebab itu, jika ada di dalam hati kita perasaan sombong sebesar biji sawi, bersiplah untuk tidak menjadi ahli surga. Naudzubillahimindzalik. Maka, kita harus terus belajar dan terus memperbaiki niat dalam hijrah. Wa Allahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here