Penjelasan Warisan untuk Saudara

13
26001

BincangSyariah.Com – Kewarisan saudara dijelaskan dalam Alquran dalam dua ayat yaitu dalam surah al-Nisa’ [4]: 12 dan 176. Dalam surah al-Nisa’ ayat 12 Allah Swt. berfirman:

وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ ۚ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ

Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu.

Dalam ayat 176, Allah Swt. berfirman

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan ketentuan hukum kewarisan saudara sebagai berikut:

Baca Juga :  Bila Engkau Dihina Balaslah Dengan Kebaikan dan Doa

Pertama, saudara mendapatkan warisan jika pewaris meninggal dalam keadaan kalalah. Pengertian kalalah oleh para ulama faraidh dikatakan ketika pewaris meninggal tanpa meninggalkan anak. Di sini sebagian ulama mengatakan anak laki-laki. Ketentuan tambahan lainnya adalah dan bapak pewaris telah meninggal dunia lebih dahulu dari pewaris.

Kedua, besar bagian saudara pada ayat 12 adalah jika jumlah saudara dua orang atau lebih, maka saudara mendapatkan 1/3 dan jika hanya satu orang maka saudara mendapat 1/6. Oleh para ulama menafsirkan yang dimaksud saudara di sini adalah saudara seibu, sebagaimana dalam tafsir al-Jalalain karya Al-Suyuthi.

Ketiga, pada ayat 176 besar bagian saudara seperti halnya bagian anak. Satu saudara perempuan 1/2, dua atau lebih saudara perempuan 2/3, saudara perempuan bersama saudara laki-laki bersama-sama sebagai ‘ashabah (mendapatkan sisa dengan perbandingan 2:1, yakni dua bagian untuk laki-laki, satu bagian untuk perempuan). Adapun maksud saudara dalam ayat ini adalah saudara kandung atau saudara sebapak.

Selain ketentuan di atas, saudara seibu akan tampil sebagai ahli waris jika pewaris tidak meninggalkan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.

Adapun saudara kandung dengan saudara sebapak dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, Jika ada saudara laki-laki sekandung, maka saudara sebapak baik laki-laki maupun perempuan tidak tampil sebagai ahli waris.

Kedua, jika ada saudara perempuan sekandung bersama dengan saudara perempuan sebapak maka saudara perempuan sekandung mendapatkan 1/2 dan saudara perempuan sebapak satu orang atau lebih mendapatkan 1/6 takmilah (penyempurna).

Ketiga, ketika ada saudara perempuan sekandung dua orang atau lebih maka saudara perempuan sebapak satu orang atau lebih tidak tampil sebagai ahli waris. Namun jika saudara sebapak tersebut bersama dengan saudara sebapak laki-laki maka saudara sebapak mendapatkan sisa/ashabah.

Wallahu a’lam.

13 KOMENTAR

  1. Assalamualaykum…
    Saya bu anna di tangsel. Maaf saya mau bertanya. Orang tua kami sudah meninggal lebih dari 3 thn lalu, saya meminta saudara saya 9 lainnya untuk membagi warisan. Karena saya liat tausiyah di youtube bahwa warisan harus segera dibagikan, setelah itu baru dijual kalau ada yg mau ambil haknya. Tapi saudara saya mengabaikan apa yg saya sampaikan, kata mereka baginya setelah terjual saja, itupun jualnya nanti saja sekarang anggap saja nabung. Hanya satu saudara saya sependapat dgn saya. Rumah utama dipakai 2 orang adik saya, rumah kos2an 3 pintu dipakai adik saya sekeluarga dan penghasilannya diambil dia. Hal ini sudah saya ingatkan tapi diabaikan,saudara saya yg lain tidak suka tapi dibiarkan. Saya kan janda dengan 3 anak, rumah masih mengontrak, sebenernya ada rasa ingin dapet hak saya, cuma saudara yg lain tidak peduli permintaan saya dan menganggap jangan mikir warisan untuk punya rumah, anggap ga ada saja toh bukan pencarian sendiri. Akhirnya sekarang saya takut membahas lagi karena beberapa marah pada saya, SE sehingga saya ga mau dianggap berebut harta warisan. Apakah solusinya untuk permasalahan tersebut? Apakah sikap saya salah? Mohon pencerahan. Terimakasih. Wassalamu’alaikum

  2. Wa’alaikum salam Ibu.

    Terimakasih atas pertanyaannya.

    Pertama, harta warisan harus segera dibagi setelah wafatnya pewaris. jadi tidak baik untuk menunda pembagian warisan.
    Kedua, jika dispakati untuk menjadikan harta warisan menjadi harta bersama kelaurga boleh saja. akan tetapi harus dibagi terlebih dahulu bagian warisannya. sehingga hasil dari pengelolaan harta warisan tersebut dapat dibagi sesuai dengan bagian warisan yang telah ditetapkan.
    ketiga, ketika ada penyalah gunaan harta warisan, penolakan pembagian harta warisan, penguasaan sepihak terhadap harta warisan, atau kegiatan-kegiatan lainnya yang melanggar hukum. Maka ahli waris lainnya dapat mengajukan Gugatan ke Pengadilan Agama. Karena ibu Tinggal di Tangerang Selatan, maka mengajukan ke Pengadilan Agama Kota Tangerang.

    Demikian jawaban dari kami bu, semoga bermanfaat.

    terimakasih

  3. Kedua orang tua sdh meninggal dunia kami tiga bersaudara 2cewek 1 cowok. Yg cowok meninggal duluan dan mempunyai 1 anak perempuam. Gmn cara pembagianya ustad mkdh

  4. Ass saya mau tanya
    Tante saya meninggal tidak punya suami dan anak cuman ada 1 saudara laki laki 2 saudara perempuan bagai mna cara pembagian harta warisan

  5. Assalamualaikum…
    Abang Saya meninggal status nya lajang belum menikah, meninggalkan Ibu, 3 saudara perempuan Sekandung, 2 paman dari ayah. Mohon bantuannya cara pembagian harta warisan nya, Terima kasih..

  6. Assalamu’alaikum
    Saya mau tanya. Kakek saya menikah dgn wanita-1 dgn 1 anak perempuan, cerai dan menikah lagi dgn wanita-2 dgn 2 anak laki-laki, cerai. Selanjutnya menikah dgn nenek saya, wanita-3 dgn 4 anak ( 1 laki & 3 perempuan). Masing2 anak dri istri ke 1-3 sudh dapat warisan dri bapak ( kakek saya). Namun anak (bungsu) dri wanita-3 (nenek saya), meninggal tanpa menikah dan punya anak. Lalu siapakah yg jadi ahli waris dr Tante sya tsb? Yang notabennya harta tsb merupakan warisan dr sang bpak (kakek saya).

  7. Assalamualakum
    Saya mau bertanya pak ustad
    Saudara kandung saya meninggal dengan usia terbilang muda.
    1.meninggalkan 1 istri
    2.meninggalkan 3 anak 1 laki laki 2 perumpuan, masing masing status anak nya dibawah umur
    3.meninggalkan 1 orang tua laki laki
    4.meninggalkan 3 saudara laki laki
    5.meninggalkan 4 saudara perumpuan. Sementara harta yg di tinggalkan berupa uang tunai, rumah, 4 mobil,
    Pertanyaan saya : bagaimana pembagian harta waris nya siapa saja yg mendapatkan warisan nya?
    Mohon penjerahan nya …. trmksh wassalam

  8. Assalamualaikum
    Sya mau bertanya..apakah saja hak kewajiban adik perempuan terhadap kakak laki2 ny ketika ayah sudah tidak ada?apakah ada hak adik perempuan meminta nafka kepada kakak laki2 ny ketika adik perempuan tidak bisa bekerja karena harus mengurus ibu mereka di rumah?

  9. AssWrWb,Saya Bersaudara ada 7 orang satu se ibu bedah bapak
    Bagaimana pembagian waris almarhum Kakak saya yang sebapak dan seibu yang tidak menikah dan tidak mengangkat anak
    Terima kasih.
    Wass WrWb.

  10. Assalamu’alaikum ustad,,
    Kasus yang terjadi dikeluarga saya ialah kakak dr ibu saya yang 1 ibu meninggalkan warisan ke ibu saya sesuai amanat beliau sebelum meninggal dunia namun ibu saya masih punya adik. Jadi dalam wasiatnya adik dr ibu sya tidak disebutkan tuk mendapatkan warisan tersebut. Namun saat penandatanganan surat warisan ternyata adik dr ibu sya dicantumkan. Dalam kasus ini saya n kel menekankan posisi dr adik ibu saya apakah hanya sebagai saksi(bukan ahli waris) n dijawab iya, maka dr itu sy n kel setuju menandatanganinya. Apakah sy n kel sy menyalahi aturan karena menitikberatkan amanat almarhumah daripada surat wasiat karena sebagaimana para pendahulu keturunan ibu saya.
    Mohon pencerahannya ustad.

  11. All mapnih Dayah punya sodara 3 sekandung tapi sudah meninggal semua tapi yg jadi pertanyaan Dayah sodara saya punya anak tapi sudah di beri kan kakenyah aph itu berhak tida mendapt kan lagi

  12. Assalamualaikum
    Saya mau tanya mohon penjelasannya
    Saya mempunyai 2 orang saudara laki laki sebapak dan 2 orang perempuan sekandung dan perkawinan yg sekarang mendapatkan 2orang anak perempuan yaitu saya dan adik saya …
    Harta yg didapat semua dari perkawinan yg sekarang .
    Bapak saya meninggal ..bagaimana hukum warisnya

  13. saya memiliki Saudara laki” yg meninggalkan tanah warisan dari Orang tua kandung saya..
    ahli waris=
    1. dua anak perempuan
    2. Dua saudara laki” (Termasuk saya)
    3. Tiga saudara Perempuan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here