Penjelasan Ulama, Puasa adalah Bulan Kedermawanan

1
701

BincangSyariah.Com – al-Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam karyanya Lathaif al-Ma’aarif menyebutkan sekian penjelasan mengapa bisa dikatakan puasa adalah bulan kedermawanan. Sebelum menjelaskan itu, beliau mengutip sekian riwayat tentang keutamaan-keutamaan kedermawanan. Mulai dari firman Allah Swt. dalam sebuah hadis Qudsi bahwa jika ada yang paling dermawan diantara makhluk-Nya, ia takkan mampu mengalahkan kedermawanan Allah.

من حديث أبي ذر رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم عن ربّه، قال: <يقول الله تعالى>، يا عبادي ! لو أن أولكم وآخركم، وحيّكم وميّتكم ، ورطبكم ويابسكم اجتمعو في صعيد واحد، فسأل كلّ إنسانٍ منكم، ما بلغت أمنيته، فأعطيت كلّ سائل منكم ما نقص ذلك من ملكي إلا كما لو أن أحدكم مرّ بالبحر، فغمس فيه إبرةً ثم رفعها إليه، ذلك بأني جواد واجد ماجد، أفعل ما أريد، عطائي كلام، وعذابي كلام، إنما أمري لشيء إذا أردت أن أقول له: كن فيكون.

Dari Hadis Abu Dzar ra.: dari Nabi Saw, dari Tuhannya, Dia berfirman (dalam hadis Qudsi): “Wahai Hamba-Ku, andaikan yang paling pertama hidup sampai yang terakhir diantara kalian termasuk yang masih hidup atau yang sudah mati, yang masih makmur atau kekeringan, kalian semua berkumpul di satu lapang lalu tiap orang meminta apa yang begitu diharapkannya, lalu Aku mmberikan kepada semua yang meminta, itu tidak akan mengurangi kuasa-Ku sama sekali. Ia layaknya kalian lewat di satu samudera, lalu kalian mencelupkan sebuah jarum lalu mengangkatnya (tidak berpengaruh apa-apa pada laut itu). Itu karena Aku adalah Tuhan yang Maha Pemurah, Maha Kaya, dan Maha Sempurna. Aku lakukan yang Aku inginkan. Pemberianku sudah menjadi firman. Azabku juga demikian. Sesungguhnya kekuasaan-Ku terhadap sesuatu itu, jika Aku mengingkan aku tinggal berkata, “jadilah, maka terjadilah !” (H.R. Ahmad)

Baca Juga :  Mencintai Allah di Atas Segalanya

Sampai sekian riwayat bagaimana Nabi Saw. begitu dermawan bahkan mampu menghadiahkan sesuatu kepada orang yang raja-raja di masa itupun belum tentu bisa melakukannya.

Makna dermawan disini, menurut Ibn Rajab al-Hanbali, diantaranya memang harta. Tapi lebih dari itu, Nabi Saw. sendiri juga sangat murah hati untuk berbagi ilmu, nasihat, hingga totalitasnya menghamba kepada Allah. Totalitas menghamba ini ditunjukkan dengan kesungguhan Nabi menunjukkan ajaran-ajaran agama dan keinginannya memberi hidayah pada hamba-Nya yang lain. Nabi berupaya memberi manfaat dengan cara apapun, mulai dari memberikan makan yang lapar, mengajarkan yang belum tahu, menyelesaikan kebutuhan mereka, sampai menanggung beban hidupnya.

Kembali kepada tema puasa adalah bulan kedermawanan, menurut Ibn Rajab al-Hanbali dalam Lathaif al-Ma’arif (310-314), mengapa Nabi bergitu dermawan di bulan ramadan alasanya adalah sebagai berikut,

Pertama, karena kemulian waktu bulan Ramadan itu sendiri dan berlipatgandanya ganjaran amal di dalamnya.

Kedua, membantu orang yang berpuasa, beribadah, dan berzikir mengoptimalkan ketaatannya. Orang yeng membantu orang menjadi taat mendapatkan ganjaran layaknya orang yang melaksanakan ketaatan. Contohnya, adalah memberi makan orang yang sedang berpuasa. Orang yang memberikan makanan berbuka bagi orang berpuasa, ia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tadi.  (H.R. Ahmad, Nasa’I, dan Ibn Majah)

Ketiga, bulan Ramadan adalah bulan dimana Allah menebar kemurahan-Nya kepada hamba-Nya dalam bentuk rahmat, ampunan, terbebas dari api neraka, termasuk Laylatu al-Qadar.

Keempat, kombinasi antara ibadah puasa dan sedekah adalah kombinasi ibadah yang dapat mengantarkan pengamalnya ke surga.

Kelima, menggabungkan antara puasa dan sedekah itu yang paling mampu menghapuskan dosa-dosa dan menjauhkan dari api neraka, khususnya jika ditambah dengan shalat malam.

Baca Juga :  Puasa Ramadan Sebagai Sarana Pencerahan Ruhani

Keenam, dalam melaksanakan puasa tentu ada kekurangan yang terjadi di dalamnya. Maka sedekah hadir untuk membersihkan dan menjadi pelengkap dari kekurangan itu semua. Kekurangan yang dimaksud bukan batal, namun kurangnya keutamaanya misalnya tentu saat berpuasa orang kadang lupa akhirnya berbuat amoral atau berucap yang tidak perlu.

Ketujuh, orang berpuasa tidak makan dan minum karena Allah. Maka jika ia menolong orang berpuasa lainnya agar ia kuat menjalankannya, ia setara dengan orang yang bisa meninggalkan syahwat tulus karena Allah.

 

Semoga kita bisa memperbanyak kedermawanan dan kemurahan hita, di bulan yang penuh berkah ini. Amiin.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here