Penjelasan Pamali Keluar atau Bermain saat Maghrib Menurut Hadis

0
1572

BincangSyariah.Com – Masyarakat Jawa memiliki sebuah karakteristik yang dikenal dengan kejawennya atau mempercayai suatu hal yang mistik. Akan tetapi apakah fenomena yang terjadi di masyarakat Jawa mampu beriringan dengan sifat agama Islam yang fleksibel? Sehingga kearifan lokal dapat melebur dengan agama Islam yang sifatnya adalah universal.

Dalam keseharian adat budaya nusantara pasti berbeda, dan masing-masing budaya memiliki karakteristik yang unik sesuai dengan kepercayaan mereka. Sebagai contohnya adalah larangan masyarakat Jawa tentang pamali keluar rumah atau bermain saat maghrib.

Kenyataannya, Islam merupakan agama yang fleksibel, maka sunnah-sunah nabi Muhammad dapat mudah beralkulturasi dengan kearifan lokal semisal budaya Jawa. Dalam sunnah nabi ternyata sudah jelas dipaparkan, bahwa Nabi juga melarang umatnya untuk keluar rumah pada waktu magrib hingga menjelang waktu isya’. Berikut hadis yang menjelaskan larangan Nabi Muhammad untuk tidak keluar rumah pada waktu magrib, dalam hadis riwayat imam Muslim pada kitab Shahih Muslim (j. 5)

وحَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، أَخْبَرَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ، أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ – فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ، وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللهِ، وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Mansur telah mengabarkan kepada kami Rauh bin ‘Ubaidah telah mengabarkan kepada kami Ibn Juraij dia berkata: telah mengabrkan  kepadaku “Ata’ bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah ra, berkata; Rasulullah bersabda : apabila hari mulai malam atau malam telah tiba, maka tahanlah anak-anak kalian, karena saat itu setan berkeliaran, apabila malam telah berlalu sesaat maka lepaskanlah mereka dan tutuplah pintu-pintu rumah kalian dan sebutlah nama Allah, karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup dan tutuplah tempat air minum kalian sambil menyebut nama Allah dan tutup pula wadah-wadah kalian sambil menyebut nama Allah walaupun hanya dengan sesuatu yang dapat menutupinya dan matikanlah lampu-lampu kalian. (HR. Muslim)

Kenapa tidak diperbolehkan keluar atau bermain pada waktu maghrib?, karena kalimat fa idzaa dzahaba saa’atun mempunyai makna waktu yaitu awal waktu isya, hal tersebut diambil dari pendapat Ibn Athir al-Jazri. Makna tersebut disepakati oleh para ulama merupakan waktu magrib hingga menjelang awal waktu isya’.

Dari hadis tersebut dapat disimpulkan, bahwa pada waktu magrib hingga menjelang awal waktu isya’ dianjurkan untuk tidak keluar rumah. Selain itu, nabi Muhammad juga menganjurkan untuk menutup pintu-pintu rumah, menutup wadah air minum dengan mengucapkan bismillah.

Jika dikontektualisasikan, hadis larangan untuk tidak keluar rumah pada waktu magrib juga memiliki tujuan yaitu memberikan pelajaran untuk anak-anak, agar menjaga pola hidup yang baik, karena waktu magrib merupakan waktu untuk beribadah.

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga memberikan alasan kenapa Nabi melarang untuk tidak keluar rumah pada waktu maghrib. Alasan rupanya mirip dengan  analisa tradisi jawa, bahwa banyak setan berkeliaran pada waktu magrib. Dalam kitab ‘Umdah al-Qari, yang ditulis oleh Badruddin al-‘Ayni, bahwa sebenarnya, ketika umatnya keluar pada waktu magrib, Nabi sangat mengkhawatirkan, karena pada waktu magrib iblis dan bala tentara setan sedang berkeliaran dalam rangka mencari tempat tinggal. Karenanya anak-anak yang terkadang jauh dari dzikir dan pantuan orang tua akan mudah dimasuki setan.

Bahkan ini senada dengan kepercayaan Jawa, seringkali anak- anak kecil yang keluar rumah pada waktu magrib untuk bermain, tiba-tiba tanpa disangka terjangkit penyakit ayan, anak kecil menjadi ketakutan tidak jelas.

Fenomena tradisi Jawa tentang pamali keluar rumah atau bermain pada waktu magrib, dapat dibuktikan, ternyata dapat relevan dengan ajaran agama Islam. Disebabkan agama Islam yang memiliki sifat fleksibel. Mampu melebur pada masyarakat manapun. Karena sesungguhnya, kedatangan Islam di tanah Jawa atau di Nusantara, bukan untuk menghilangkan atau memutus kearifan lokal yang sudah menjadi masa lalu, akan tetapi Islam juga ikut melestarikannya. Dengan cara memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru dengan yang baik pula. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here