Penjelasan Mengapa Ulama dan Dokter Penting Bersinergi

4
194

BincangSyariah.Com – Sebagai agama, Islam memberi apresiasi yang tinggi terhadap persoalan kesehatan. Tanpa ditunjang tubuh yang sehat, akan sulit bagi seorang muslim untuk melaksanakan ibadah, terutama yang berkaitan dengan fisik seperti sholat, puasa dan haji. Kesehatan jasmani adalah wasilah bagi terselenggarakannya sebuah ibadah. Oleh karena urgensinya, maka tidak heran jika dalam pernyataannya, Imam asy-Syafi’i menyejajarkan ilmu kedokteran dengan ilmu fiqih:

العلم علمان علم الفقه للأديان وعلم الطيب للأبدان

“Ilmu ada dua. (Yakni) ilmu fiqih untuk mengetahui persoalan agama dan ilmu kedokteran untuk memahami kondisi badan.”

Konsekuensinya, dalam perihal kesehatan, menaati anjuran dan saran dokter menjadi keharusan bagi seorang muslim, sebagaimana keharusan menaati para ulama dalam permasalahan seputar agama. Hal ini ditegaskan dalam sebuah syair yang disadur oleh Syaikh az-Zarnuji dalam kitabnya, Ta’lim al-Muta’allim:

إن المعلم والطبيب كلاهما # لاينصحان إذاهما لم يكرما

فاصبرلدائك إن جفوت طبيبها # واقنع بجهلك إن جفوت معلما

“Sesungguhnya kedudukan seorang pengajar agama dan dokter serupa; yakni jika keduanya tidak dimuliakan, maka kau tidak akan memperoleh kebaikan. Sabarlah dengan penyakitmu jika engkau tidak mengindahkan nasihat dari seorang dokter. Dan terimalah kebodohanmu jika engkau tidak menaati gurumu.”

Antara keduanya, yakni ulama dan dokter musti saling bahu membahu dan bersinergi sesuai dengan porsi bidangnya, misalnya dalam menghadapi pandemi virus Covid-19. Para dokter menjelaskan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari agar penyakit ini tidak menjadi semakin parah sesuai dengan bidang keilmuan medis yang dikuasainya.

Sementara ulama menerima saran dan masukan ahli medis untuk dijadikan pertimbangan dalam mencarikan solusi bagi umat agar dapat melakukan berbagai ritual ibadah di tengah hantaman gelombang wabah. Sebab diantara maqashid syari’ah (tujuan syariat) adalah hifdz an-nafs (menjaga jiwa). Dalam proses hifdz an-nafs berkenaan dengan pandemi Covid-19, penting untuk memperhatikan saran para dokter. Jika kerja sama ini mampu berlangsung dengan baik, maka kemaslahatan akan dapat dirasakan.

Sebaliknya, jika para ulama merasa terlalu luhur untuk mendengar masukan dari dokter atau para dokter enggan memberikan dan membeberkan anjuran medis yang diketahuinya secara jujur, tentu umat tidak akan memperoleh kemaslahatan. Alih-alih maslahat, hal ini justru membuat umat kebingungan dan pada akhirnya akan menggiring umat menuju mafsadat alias kerusakan. Wallahu a’lam.

4 KOMENTAR

  1. Pembahasan yg menarik,namun sayang masih banyak dikalangan ulama’ kita yg masih “enggan” menerima masukan dari kalangan dokter,jika berkaitan dg praktek keagamaan.
    Ya kita lihat contoh covid-19 sendiri,awal mulanya saat para dokter menganjurkan sosial distancing,para ulama’ kita “enggan” menerimanya jika dikaitkan dg praktik sholat jum’at dan berjamaah.
    Namun lambat laun alhamdulillah banyak ulama’ terbuka menerima saran dokter dg “meliburkan” sholat jum’at dan jama’ah sampai covid betul2 musnah di bumi indonesia kita tercinta.
    Semoga tulisan ini setidaknya bisa meng-edukasi khalayak ramai agar menerima sesuatu ilmu betul2 dari para pakarnya.
    Jazakumullah khoiran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here