Penjelasan Mengapa Ramadan Disebut Sebagai Bulan Al-Qur’an

1
1530

BincangSyariah.Com – Di setiap bulan Ramadhan, kita sering mendengarkan para kiai, ulama dan ustad mengatakan Ramadhan disebut sebagai bulan al-Qur’an. Pendapat tersebut tampaknya didasarkan pada QS. Al-Baqarah [2]: 185, syahru ramadhana l-ladzi unzila fihi l-qur’anu huda l-linnasi wa bayyinatin min al-huda wa al-furqan. Ayat di atas menyinggung bahwa di bulan Ramadhan, al-Qur’an diturunkan. Diturunkan kepada siapa? Diturunkan kemana? Diturunkan secara utuh atau awalnya saja? Atau bagaimana?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita coba kutip terlebih dahulu terjemahan ayat tersebut di  Al-Qur’an dan Terjemahnya Kementerian Agama dan Al-Qur’an dan Maknanya karya Pak M. Quraish Shihab.

Dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya Kementerian Agama (edisi 2002), ayat tersebut diterjemahkan begini: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

Terjemahan Pak M. Quraish Shihab agak berbeda dengan Al-Qur’an dan Terjemahnya Kementerian Agama. Pak M. Quraish Shihab menerjemahkan ayat tersebut, begini: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, (bulan) yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an (sebagai) petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk (itu) serta pembeda (antara yang haq dan yang batil).  

Dari dua terjemahan tersebut, poin utama yang bisa ditangkap adalah bahwa al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Kalau dalam terjemah Pak Quraish, al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan adalah bagian permulaannya saja. Kalau dalam terjemah Kementerian Agama, tidak ada penjelasan apakah al-Qur’an yang diturunkan di bulan Ramadhan itu bagian permulaannya atau al-Qur’an secara utuh. Tampaknya Al-Qur’an dan Terjemahnya Kementerian Agama menyerahkan kepada pembaca untuk mengkaji lebih lanjut (apakah yang diturunkan pada bulan Ramadhan itu al-Qur’an secara utuh atau permulaannya saja).

Di dalam Ulumul Qur’an, telah umum diketahui bahwa al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, selama kurang lebih 23 tahun, sedangkan bulan Ramadhan hanya memiliki 29 atau 30 hari. Jika kita memahami bahwa al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan, maka dalil turunnya al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Saw. selama kurang lebih 23 tahun itu menjadi aneh. Rasanya tidak mungkin al-Qur’an yang terdiri dari 114 surat itu diturunkan di setiap bulan Ramadhan dan bukan di bulan-bulan selain Ramadhan. Lantas bagaimana?

Muhammad Ali As-Sabuni (w. 2015) dalam at-Tibyan fi Ulum al-Qur’an menjelaskan bahwa bagian awal al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. pada hari ke-17 bulan Ramadhan, ketika Nabi Muhammad Saw. berumur empat puluh tahun, ketika Nabi ber-tahannus (ber-ta’abbud) di gua Hira, datanglah malaikat Jibril dengan membawa wahyu pertama, yakni surat al-‘Alah ayat 1-5. Tanggal 17 Ramadhan inilah yang kemudian oleh sebagian besar ulama disepakati sebagai hari Nuzulul Qur’an. Jadi, Pak M. Quraish secara tegas menyatakan bahwa yang turun di bulan Ramadahan awalah wahyu pertama al-Qur’an.

Jika kita baca, misalnya Tafsir at-Tabari karya Ibnu Jarir at-Tabari, kita akan mendapatkan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan diturunkan al-Qur’an adalah diturunkan dari Lauh al-Mahfud ke langit dunia pada malam Qadar di bulan Ramadhan. Baru kemudian diturunkan (secara berangsur-angsur) kepada Nabi Muhammad Saw. Ada beberapa riwayat yang dikutip oleh at-Tabari untuk mendukung gagasannya. Saya kutipkan lima riwayat saja. Riwayat pertama, dikisahkan dari Isa ibn Usman, dari Yahya ibn ‘Isa, dari al-‘Amasy, dari Hassan, dari Sa’d ibn Jubair, berkata: al-Qur’an diturunkan sekaligus (jumlatan wahidatan) pada malam Qadar di bulan Ramadhan, kemudian diturunkan di langit dunia.

Riwayat kedua, dikisahkan dari Ahmad ibn Mansur, dari Abdullah ibn Raja’, dari Imran al-Qattan, dari Qatadah, dari Ibnu Abi al-Malih, dari Wasilah, dari Nabi Muhammad Saw., bersabda: “Suhuf Ibrahim diturunkan pada awal malam bulan Ramadhan, Taurat diturunkan hari keenam Ramadhan, dan Injil diturunkan pada hari ketiga belas dan al-Qur’an diturunkan pada hari kedua puluh empatn Ramadhan.”

Riwayat ketiga, dikisahkan dari Musa, dari Amru, dari Asbath, dari as-Sadi (tentang Syahru Ramadhana l-ladzi anzala fihi l-Qur’an), sesungguhnya Ibnu Abbas mengatakan: “Bulan Ramadhan, dan Malam Keberkahan adalah malam qadar. Sesungguhnya malam Qadar adalah malam yang penuh keberkahan, yakni malam di bulan Ramadhan, dimana diturunkannya al-Qur’an sekaligus secara utuh (jumlatan wahidatan) dari Az-Zubur ke Bait al-Ma’mur, yakni tempat-tempat bintang, di langit dunia, hingga menjadi al-Qur’an, yang kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dalam bentuk perintah, larangan dan dalam kondisi peperangan.”

Riwayat keempat, dikisahkan dari Ibn al-Masna, dari Abd al-‘Ala dari Dawud, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, berkata: al-Qur’an diturunkan seutuhnya (kulluhu jumlatan wahidatan) pada malam qadar di bulan Ramadhan ke langit dunia. Jika Allah ingin memberitahukan (bagian dari al-Qur’an) ke bumi, Allah tinggal menurunkannya, hingga berkumpul (menjadi utuh).

Riwayat kelima, dikisahkan dari Ya’qub, dari Hasyim, dari Hashin, dari Hakim ibn Jubair, dari Said ibn Jubair, dari Ibnu Abbas, mengatakan: Al-Qur’an diturunkan pada malam Qadar dari langit yang tertinggi (al-‘Ulya) ke langit (dunia) dalam bentuk yang utuh (jumlatan wahidatan), kemudian terpecah-pecah dalam waktu dua tahun kemudian. Kemudian Ibnu Abbas membaca: fa la uqsimu bi mawaqi’in nujum (Allah bersumpah dengan orbit-orbit bintang dan letak-letaknya). Dan berkata: diturunkan secara terpisah-pisah.”

Dari riwayat-riwayat tersebut, kiranya dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud Bulan Ramadhan di mana al-Qur’an diturunkan adalah di bulan tersebut al-Qur’an diturunkan secara sekaligus utuh dari tempat yang lebih tinggi/mulia (Lauh Mahfuz/az-Zubur/ As-Sama al-‘Ulya/Baitul Izzah) ke langit dunia. Dari langit dunia inilah,  al-Qur’an diturunkan secara terpisah-pisah oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah kepada Nabi Muhammad Saw.

Sedangkan dari sisi bahasa, yang menjadi kunci tentang persoalan apakah al-Qur’an diturunkan secara utuh atau permulaannya saja atau bagaimana pada bulan Ramadhan adalah pada kata unzila. Di dalam kitab al-I’jaz al-Qur’ani fi ar-Rasm al-‘Usmani karya Abdul Mun’im Kamil Sya’ir, dijelaskan perbedaan antara kata nazzala (nazala) dan anzala (unzila) dalam bab khadzfu l-alif. Dua kata ini meskipun berasal dari akar kata yang sama n-z-l memiliki tekanan makna yang berbeda. Nazzala/nazala memiliki makna turun secara berangsur-angsur dan berulang-ulang, sedangkan anzala/unzila memiliki makna turun secara umum atau turun secara keseluruhan dalam satu jumlah sekaligus. Kata nazzala juga memiliki makna at-tafsil (perinci), dan at-tafarruq (terpisah-pisah).

Jadi, kata unzila pada syahru ramadhana l-ladzi unzila fihi l-Qur’an adalah menurunkan sekaligus dalam jumlah satu. Untuk memperkuat argumen ini, kata anzala dan nazzala digunakan dalam satu ayat di al-Qur’an, yakni pada Surah Ali Imrah [3]: 3 nazzala ‘alaika l-kitaba bi l-haqqi muhsaddiqa l-lima baina yadaihi wa anzala t-taurata wa l-injil (Dia menurunkan {secara berangsung-angsur} al-Kitab kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya dan menurunkan {secara utuh} Taurat dan Injil). Dan an-Nisa [4] ayat 136, Ya ayyuha l-ladzina amanu aminu billahi wa rasulihi wa l-kitabi l-ladzi nazzala ‘ala rasulihi wa l-kitabi l-ladzi anzala min qabl (Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan (secara berangsur-angsur) kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan (secara utuh) sebelumnya (Taurat).

Dalam kitab ‘Ulum al-Qur’an, misalnya dalam Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an karya Muhammad Abd al-Adzim az-Zarqani (w. 1948) dijelaskan bahwa tahap tanazzulat al-Qur’an (proses turunnya al-Qur’an) terbagi ke dalam tiga.

  • Tahap pertama diturunkan ke Lauh Mahfudz, sebagaimana QS. Al-Buruj [85]:22, bal huwa qur’anu m-majid, fi lauhi m-mahfudz (Bahkan [yangdidustakan] itu ialah al-Qur’an yang mulia).
  • Tahap kedua, dari Bait al-Izzah ke langit dunia. Dalilnya adalah QS. Ad-Dukhkhan [44]:3, inna anzalnahu fi lailati m-mubarakah (Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi), QS. Al-Qadar [97]: 1, inna anzalnahu fi lailati l-qadr (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar) dan QS. Al-Baqarah ayat 185, syahru ramadhana l-ladzi unzila fihi l-qur’an. Pada tahap ini, al-Qur’an diturunkan secara utuh (jumlatin wahidatin).
  • Tahap ketiga, dari langit dunia diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui malaikat Jibril. Dalilnya adalah QS. Asy-Syu’ara ayat 193-195, nazala bihi r-ruhu l-amin, ‘ala qalbika litakuna mina l-munzirin, bilisanin ‘arabiyyin mubin (Yang dibawa turun oleh Ruh al-Amin [Jibril], ke dalam hatimu [Muhammad] agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan).

Jadi, dua pendapat di atas, yakni pendapat permulaan al-Qur’an (wahyu pertama) diturunkan pada bulan Ramadhan, sebagaimana terjemahan pak M. Quraish Shihab dan pendapat al-Qur’an diturunkan secara utuh dari Lauh Mahfud ke langit dunia pada bulan Ramadhan, sama-sama benar dan menegaskan bahwa Ramadhan itu adalah bulan yang penting.

Selain karena diperintahkannya berpuasa pada bulan ini, al-Qur’an—kitab suci umat manusia—pun  ‘diturunkan’ pada bulan Ramadhan juga. Sehingga perintah mendekatkan diri dengan al-Qur’an (membaca dan mengkaji), mendapatkan tekanan tersendiri pada bulan Ramadhan. Tradisi Tadarus al-Qur’an menjadi salah satu bukti turun menurun tentang pentingnya al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan.  Wallahu’alam.[]

1 KOMENTAR

  1. Ini tulisan keren. Mungkin karena saking kerennya pada bingung mau komen apa… akhirnya no comment

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here