Penjelasan Ilmu Falak Mengenai Hari Meluruskan Arah Kiblat

0
1302

BincangSyariah.Com- Ketika tanggal 28 Mei dan 16 Juli setiap tahunnya pasti banyak bermunculan himbauan untuk meluruskan arah kiblat. Hal ini disebabkan karena pada dua tanggal tersebut posisi Matahari berada diatas Ka’bah, sehingga semua bayangan yang ditimbulkan dari cahaya Matahari akan menghadap ke arah Kiblat ketika tengah hari di waktu Makkah. Peristiwa ini disebut dengan rashdul kiblat atau istiwa al-a’dzam.

Rashdul kiblat ini menjadi salah satu metode penentuan arah kiblat yang sangat mudah dan praktis serta dapat dipraktekan oleh semua umat Islam. Penentuan arah kiblat dengan metode ini hanya cukup dengan melihat bayangan benda yang disoroti sinar Matahari ketika tengah hari di waktu Makkah. (Baca: Kritik Ali Mustafa Yaqub atas Fatwa MUI tentang Penentuan Arah Kiblat)

Jika dikonversikan ke dalam waktu Indonesia, maka terjadinya peristiwa rashdul kiblat pada tanggal 28 Mei terjadi pada pukul 16.18 WIB atau 17.18 WITA dan untuk tanggal 16 Juli terjadi pada pukul 16.27 WIB atau 17.27 WITA. Untuk wilayah Indonesia bagian timur tidak bisa mengamati rashdul kiblat yang terjadi pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli ini, karena di wilayah Indonesia bagian timur ini Matahari sudah terbenam ketika tengah hari di kota Makkah.

Meskipun demikian, wilayah Indonesia bagian timur ini tetap bisa meluruskan arah kiblat dengan menggunakan metode rashdul kiblat tahunan, yaitu ketika Matahari berada pada titik balik dari Ka’bah atau bagian Bumi yang berkebalikan dengan Ka’bah. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Januari pukul 06.29 WIT dan 28 November pukul 06.09 WIT.

Fenomena Matahari yang berada diatas Ka’bah atau berada pada titik balik dari Ka’bah ini terjadi karena adanya gerak semu tahunan Matahari yang disebut deklinasi Matahari atau kemelencengan Matahari dari Khatulistiwa. Ketika nilai dari deklinasi Matahari ini sama dengan nilai lintang tempat dari Ka’bah atau titik baliknya, maka posisi Matahari ketika tengah hari akan berada diatas tempat tersebut sehingga mengakibatkan bayangan yang dihasilkan akan mengarah kepadanya.

Baca Juga :  Kata Nabi, Ini Godaan Terbesar bagi Umat Islam

Adanya gerak semu tahunan Matahari berupa deklinasi ini sendiri merupakan akibat dari adanya gerak Bumi. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Bumi ini setidaknya memiliki dua pergerakan, yaitu gerak Bumi mengitari Matahari yang disebut revolusi dan gerak Bumi berputar pada porosnya yang disebut dengan rotasi. Dua pergerakan ini dilakukan sekaligus oleh Bumi. Jadi ketika sedang berputar mengitari Matahari, Bumi juga berputar pada sumbu rotasinya.

Sumbu rotasi Bumi yang menjadi acuan bagi Bumi dalam melakukan rotasi inilah yang mengakibatkan adanya deklinasi Matahari. Posisinya yang miring sekitar 23˚ 27’ dari lintasan Bumi dalam mengitari Matahari ini menyebabkan seakan-akan Matahari tampak bergeser ke arah utara dan selatan. Jika digambarkan, siklus pergeseran Matahari ini bisa dimulai ketika bulan Maret, dimana Matahari berada di khatulistiwa untuk bergerak menuju ke utara.

Di bulan Juni Matahari sampai di titik paling utara dan bergerak ke selatan untuk kembali ke khatulistiwa. Pada bulan September, Matahari berada di khatulistiwa untuk bergerak menuju ke selatan. Pada bulan Desember, Matahari sampai di titik paling selatan dan bergerak ke utara untuk kembali ke khatulistiwa pada bulan Maret. Begitulah seterusnya pergerakan semu tahunan dari Matahari ini.

Kemiringan sumbu rotasi Bumi sebesar 23˚ 27’ ini menjadikan pergeseran atau deklinasi Matahari paling jauh dari garis khatulistiwa juga sebesar 23˚ 27’ di titik utara dan selatan. Oleh karena itu, Matahari hanya akan melewati daerah-daerah yang berada pada posisi 23˚ 27’ di sebelah utara khatulistiwa hingga 23˚ 27’ di sebelah selatannya.

Ka’bah yang berada di Kota Makkah sendiri mempunyai nilai lintang tempat sebesar 21˚ 25’ di sebelah utara khatulistiwa sehingga menjadi salah satu tempat yang bisa dilintasi oleh Matahari. Nilai lintang tempat dari Ka’bah yang mendekati nilai maksimum dari deklinasi Matahari mengakibatkan jarak antara dua kali rashdul kiblat yang terjadi dalam satu tahun ini berdekatan.

Baca Juga :  Tiga Hikmah Dialihkannya Kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram

Hal ini dikarenakan setelah menyamai nilai lintang dari Ka’bah sebesar 21˚ 25’, kemiringan Matahari akan mencapai puncaknya sebesar 23˚ 27’ di sebelah utara khatulistiwa pada 21 Juni. Setelah itu Matahari akan kembali melewati Ka’bah lagi untuk kembali menuju ke khatulistiwa dan selanjutnya bergeser terus ke selatan.

Begitu juga yang terjadi pada titik balik Ka’bah, waktu dua kali rashdul kiblat-nya juga terjadi dengan jarak yang dekat, yaitu pada tanggal 28 November dan 16 Januari. Hal ini dikarenakan nilai lintang dari titik balik Ka’bah ini juga mendekati nilai maksimum dari deklinasi Matahari untuk bagian bumi selatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here