Penjelasan Hadis Bertemu Nabi dalam Mimpi Atau Keadaan Sadar

0
1076

BincangSyariah.Com – Apakah mungkin melihat nabi Muhammad SAW.di masa sekarang? Para ulama salaf telah menjelaskan dan menampilkan banyak hadis yang menerangkan tentang melihat nabi setelah beliau wafat, seperti dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani dan fatwa ulama al-Azhar sebagai berikut :

مَنْ رَآنِىْ فِى الْمَنَامِ فَسَيَرَانِىْ فِى الْيَقْظَةِ وَكَأَنَّمَا رَآنِىْ فِى الْيَقْظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِىْ

Barang siapa melihatku dalam keadaan tidur maka akan melihatku dalam keadaan sadar, dan syaitan tidak bisa menyerupaiku atau maka sungguh seperti melihatku dalam keadaan sadar “(HR Bukhari dan Muslim)

Hadis di atas dipahami oleh para ulama salaf sebagai berikut:

Pertama, melihat Nabi dalam mimpi atau dalam keadaan sadar adalah hal yang mungkin terjadi (tidak mustahil) sebab tidak ada dalil nash yang menentangnya. (Baca: Ningsih Tinampi; Paranormal yang Klaim Bisa Datangkan Ruh Para Rasul, Benarkah Demikian?)

Kedua, melihat Nabi setelah beliau wafat menurut sebagian ulama adalah melihat dzat Nabi dan pedapat lain melihat Nabi dalam sifat lain bisa dibenarkan. Al-Ghazali memaparkan:

لَيْسَ مَعْنَى قَوْلِهِ رَآنِيْ أَنَّهُ رَأَى جَسْمِيٌّ وَبَدَنِيٌّ وَاِنَّمَا الْمُرَادُ أَنَّهُ رَأَى مِثَالًا صَارَ ذَلِكَ الْمِثَالُ آلَةٌ يَتَأَدَّى بِهَا الْمَعْنَى الَّذِي فِيْ نَفْسِيٍ إِلَيْهِ وَكَذَلِكَ قَوْلُهُ فَسَيَرَانِيْ فِيْ الْيَقْظَةِ لَيْسَ الْمُرَادُ أَنَّهُ يَرَى جِسْمِيٌّ وَبَدَنِيٌّ – إلى أن قال – فَمَا رَآهُ مِنَ الشَّكْلِ لَيْسَ هُوَ رُوْحُ الْمُصْطَفَى وَلَا شَخْصُهُ بَلْ هُوَ مِثَالٌ لَهُ عَلَى التَّحْقِيْقِ

Ma’na ro’ani (melihatku) dalam hadis bukan berarti melihat jazad dan badan nabi, sesungguhnya yang dikehendaki adalah melihat gambaran yang dapat dijadikan alat untuk memahami ma’na, begitupula kata fasayaroni fi al-aqdzoh (maka akan melihatku dalam keadaan sadar)  bukan berarti melihat jasad dan badan. Apa yang dilihatnya bukanlah ruh al-mushtafa dan bentuknya melainkan benar-benar sebuah mitsal gambaran baginya”.

Ketiga, melihat Nabi dalam keadaan sadar diperuntukan kepada mereka yang telah melihat Nabi di masa hidup beliau seperti kisah ‘Aisyah. Menurut pendapat lain bahwa melihat Nabi dalam keadaan sadar diperuntukan kepada semua orang. Artinya tidak hanya kepada mereka yang telah melihat Nabi di masa hidup beliau. Namun tentu ini tidak dapat dialami orang yang jiwanya tidak bersih.

Baca Juga :  Denda bagi Pelaku Hubungan Intim pada Siang Ramadan

Keempat, orang yang melihat Nabi setelah wafat beliau harus orang yang kredibel menurut agama atau saleh. Kemampuan itu sebagai karamah baginya. Dia mampu menceritakan dengan jelas tentang wujud Nabi yang dia lihat.

Kelima, bila orang tersebut diperintah atau dilarang melakukan sesuatu maka sesuatu tersebut tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama (Al-Qur’an, Hadis, serta ijtihad para mujtahid) sebab ajaran agama telah sempurna dibawakan oleh Nabi di masa hidup beliau.

Keenam, yang dihasilkan dari pertemuanya dengan Nabi tidak sampai melangar ajaran agama. Apabila hasil tersebut berhubungan dengan hukum maka hukum tersebut tidak wajib dilakukan atau diamalkan oleh orang lain.

Ketujuh, setan tidak mampu menyerupai Nabi dalam berbagai bentuk dan sifat. Sehingga barang siapa melihat Nabi dalam bentuk dan sifat yang baik, menunjukan bahwa agama orang tersebut adalah bagus dan baik, begitupula sebaliknya bila seseorang melihat Nabi dalam rupa dan sifat yang kurang baik berarti terdapat kekurangan dalam agamanya. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here