Pengertian Akad Ijarah, Pembagian dan Contohnya

0
37

BincangSyariah.Com – Jual beli dan akad ijarah (sewa) merupakan dua hal yang sejatinya sama. Para ulama Madzhab Hanafi sering menyebut bahwa ijarah adalah shinfun mina al-buyu’at (salah satu bagian  dari jual beli). Objek akadnya (ma’qud ‘alaih) saja yang berbeda.

Ma’qud ‘alaih jual beli merupakan yang terdiri dari aset fisik riel yang bermanfaat (ain al-manfaah), sementara dalam ijarah terdiri atas aset tidak nampak, atau yang sering disebut sebagai “manfaatnya barang” (manfa’atu al-’ain).

Alhasil, ada beda antara dua diksi “barang manfaat” (ain al-manfaat) dengan manfaatnya barang (manfaatu al-ain). Untuk lebih jelasnya, selengkapnya, penulis akan mencoba untuk mengurainya satu per satu dari jual beli.

Kilas Balik Akad Jual Beli

Islam mengalalkan jual beli dan mengharamkan riba lewat pesan tersurat dari Firman Allah SWT dan tertuang di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275. Sementara itu, sudah sering disampaikan dalam  kajian bahwa nenek moyang dari jual beli adalah akad barter (mu’awadlah).

Ditinjau dari sisi barang yang ditukar, para fuqaha telah merumuskan, yaitu ada tiga jenis kategori aset dalam fikih, antara lain: 1) ain musyahadah (aset riel), 2) syaiin maushuf fi al-dzimmah (aset yang hanya bisa ditunjuk karakternya dan dijamin pengadaannya), dan 3) ainin ghaibah (aset fiktif).

Untuk 2 aset yang pertama, dihukumi sebagai sah untuk ditransaksikan. Namun untuk 1 aset yang terakhir, disepakati secara ijma’ sebagai yang haram,  sebab sama saja dengan istilah transaksi fiktif (bai’ ma’dum).

Berbekal tiga kategori aset tersebut, maka berkembang macam-macam jual beli. Pertama, transaksi yang melibatkan fisik harga riel (uang riel) dengan objek yang dijual riel (barang riel), tanpa ada jeda waktu penyerahan, maka disebut jual beli kontan (bai’ halan).

Kedua, transaksi yang melibatkan fisik harga riel (uang riel) dengan objek yang dijual riel (barang riel), bersamaan dengan adanya jeda waktu penyerahan, maka disebut jual beli tempo (bai’ muajjal).

Ketiga, transaksi yang melibatkan fisik harga riel (uang riel) dan objek yang tertanggung (syaiin maushuf fi al-dzimmah), dengan adanya jeda waktu penyerahan yang bersifat terbatas (waqtu hulul al-ajl), maka disebut jual beli salam. 

Keempat, transaksi yang melibatkan fisik harga yang tertanggung (uang maushuf fi al-dzimmah) dengan obyek yang dijual riel (barang riel), dengan disertai adanya jeda waktu penyerahan berbatas waktu pelunasan (hulul al-ajal), maka disebut jual beli kredit (bai’ bi al-taqshith).

Keempat model jual beli ini merupakan yang disyariatkan dalam Islam. Boleh melakukannya, asalkan terhindar dari adanya unsur gharar, ghabn, jahalah, riba, dan sejenisnya. Bagaimana dengan akad ijarah? Ikuti bahasan berikut!

Pengertian Akad Ijarah

Akad ijarah, sering dikenal dengan istilah akad sewa jasa atau sewa pakai. Namanya saja sudah sewa pakai, tentu sifat pemakaian itulah yang menjadi intisari oleh akad ini (muqtadla al-’aqdi).

Karena sifat “pemakain” itu merupakan fisik yang tidak nampak, maka pada hakikatnya, menyebut sebagai jual beli pada akad ijarah “pemakaian” ini adalah seolah sama dengan menjual sesuatu yang tidak nampak / non fisik.

Alhasil, memasukkannya dalam akad jual beli, seolah menjadi sama dengan istilah jual beli barang yang ma’dum (fiktif). Dengan demikian hukumnya menjadi haram sebab ma’dumnya itu.

Namun, para ulama tidak menampik akan adanya orang yang butuh tempat tinggal. Ia secara fisik butuh fisik rumah. Akan tetapi uangnya tidak cukup untuk membeli rumah. Di sisi lain, ada pihak yang punya rumah. Akan tetapi, ia tidak bisa tinggal di rumah tersebut. Sehingga dia butuh keberadaan orang yang mahu tinggal di dalamnya, dengan jalan digaji.

Jika membeli “manfaat tinggalnya” orang di rumah itu juga merupakan aset fiktif, maka itu artinya menyuruh orang agar tinggal di rumah itu, adalah sama dengan akad membeli “manfaat tinggal” yang merupakan “barang fiktif” lagi. Nah, repot, bukan?

Dari sini para fuqaha akhirnya merumuskan dengan berangkat dari tarikh bahwa Baginda Nabi saw. pernah menerima manfaat pengasuhan dan penyusuan kepada Sayyidah Halimatu al-Sa’diyah. Jika penyusuan dan pengasuhan itu dikelompokkan dalam akad jual beli fisik “susu”, maka hal  tersebut masuk dalam ruang jual beli barang “majhul”, sebab unsur tidak bisa ditaqdirnya atau dikira-kirakan.

Lantas, berdasarkan apa, akad penyusuan dan pengasuhannya Nabi itu dipandang sebagai boleh? Akhirnya para ulama berhasil merumuskan kesimpulan, bahwa yang diakadkan adalah bukan fisik “susu”-nya, melainkan “manfaat penyusuan” serta “manfaat pengasuhan”.

Alhasil, menggaji orang untuk menempati rumah yang kosong, atau menyewa rumah, keduanya juga dibolehkan dengan objek yang diakadi adalah manfaat tinggalnya (manfaat al-’ain).

Dari sini masih ditanyakan lagi oleh para ulama’, yaitu apakah menggaji manfaatnya barang tersebut merupakan  boleh yang bersifat muthlaq ataukah muqayyad (terbatas)? Para fuqaha’ dari kalangan Syafiiyah menyampaikan bahwa bukan disebabkan sebagai muthlaq, melainkan karena dlarurah li al-hajah. Mengapa? Sebab yang muthlaq dihalalkan itu adalah akad jual beli dan bukan sekedar akad jasa. Alhasil, akad ijarah hukumnya boleh adalah karena dlarurat kebutuhan (kebentel kebutuhan).

Risiko pembolehan ini menjadikan objek yang diakadi dalam ijarah (ma’qud ‘alaih-nya ijarah), menempati derajatnya

mabi’ (barang dagangan). Sudah barang tentu, syarat utama selaku barang dagangan adalah bersifat maklum. Dengan demikian, objek ijarah juga harus ma’lum. Bagaimana caranya memaklumkan?

Agar menjadi suatu kemakluman, maka ditetapkan dua istilah yang bisa membatasi suatu manfaat, yaitu adanya waktu (muddah) dan pekerjaan (amal). Untuk sewa kontrak rumah,  berarti pemanfaatan  rumah itu dibatasi waktu. Misalnya 1 tahun, 2 tahun. Untuk menyuruh orang tinggal di suatu rumah, maka dibatasi dengan pekerjaan. Boleh juga disertai dengan pembatasan waktu. Misalnya, selama tinggal di situ, ia harus merawat rumah, menjaga kebersihannya, dan lain sebagainya, selama masa kontrak. Nah, di  sini kemudian ma’qud ‘alaih itu disamakan dengan barang dagangan.

Macam-macam Akad Ijarah

Karena sama dengan barang dagangan, maka objek akad ijarah juga bersifat sama dengan macam-macam fisik barang yang bisa dijualbelikan. Ada manfaat yang sifatnya musyahadah (manfaat yang terang nan jelas), manfaat fi al-dzimmah (manfaat yang dijamin penunaiannya) dan manfaat ghaibah (manfaat fiktif).

Pertama, untuk manfaat musyahadah,  misanya adalah sewa rumah, kerjanya seorang karyawan, dan sejeisnya. Hukumnya secara jelas adalah boleh. Dari sini lahir akad ijarah kontan (ijarah halan).

Kedua, untuk manfaat fi all-dzimmah, misalnya adalah memesan pemakaian mobil pada tanggal dan waktu yang ditentukan. Hukumnya adalah boleh dan salah satunya adalah Paylater yang sudah pernah kita kaji bersama. Dalam konteks ini lahir akad ijarah, yang dikenal dengan istilah ijarah salam atau ijarah tempo dan ijarah kredit. Tergantung pembayarannya dilakukan setelah pemanfaatan selesai atau sebelumnya.

Ketiga, untuk manfaat ghaibah,misalnya adalah jual beli surat atau aset pernyataan gaji yang fiktif sebab tidak ada underlyingnya. Hukumnya adalah haram.

Jadi, jelas sudah bahwa akad sewa jasa (ijarah) adalah merupakan turunan dari akad jual beli. Akad jual beli melibatkan obyek barang berupa aset manfaat. Sementara pada akad ijarah, melibatkan manfaatnya aset. Keduanya berbeda dari sisi ma’qud ‘alaihnya. Alhasil, perkembangan pada akad ijarah ke depannya, adalah juga menempati derajat yang sama dengan perkembangan yang terjadi pada akad jual beli. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan kita semua! Amin. Wallahu a’lam bi al-shawab

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here