Pengajian Tafsir Quraish Shihab: Perintah Menegakkan Keseimbangan (Surah Ar-Rahman ayat 5-8)

0
946

BincangSyariah.Com – Di pembahasan surat al-Rahman sebelumnya,Quraish Shihab banyak menjelaskan tentang sifat Rahman dan Rahim dan kaitannya dengan hakikat Insan dalam al-Quran. Di ayat ini Allah menjelaskan bahwa semua ciptaanNya melingkupi hewan dan tumbuhan berhak untuk hidup dengan baik/Kariim seperti halnya manusia. Tak hanya itu, benda langit pun demikian. Berikut penjelasan singkat yang dipaparkan oleh Shihab.

Matahari, Bulan dan Keseimbangan

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ- وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan”- “Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk( kepadaNya).” (5-6)

Bulan dan matahari yang bersanding dengan kata bi husbaan. Menurut Prof. Quraish Shihab, filosofi dari kata tersebut menandakan adanya perhitungan yang sangat teliti menyangkut perjalanannya. Keduanya selalu menjadi objek terpenting bumi dalam poros kehidupan. Kemudian, Shihab menjelaskan bahwa kata an-najm disini pada hakikatnya tidak diartikan “bintang” saja. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud ialah pohon. as-Syajar disini ditafsirkan sebagai tumbuhan yang tak memiliki batang. Keduanya ikut bersumpuh lutut di hadapan TuhanNya.

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ – أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ

“Dan langit telah ditinggikanNya dan Dia ciptakan keseimbangan”-“Agar kamu tidak merusak keseimbangan itu” (7)

Selanjutnya, Allah menjadikan langit yang tinggi dan diletakkannya sebuah al-Miizan atau timbangan. Apa maksud dari peletakan ini? Allah meletakkan neraca keseimbangan ini tidak lain untuk mengatur semua planet bumi tidak saling bertabrakan. Apakah kita pernah melihat burung-burung yang berkelompok terbang bersamaan? Sungguh indah mereka mampu berterbangan dengan nyaman karena ada neraca keseimbangan. Jika tidak, mereka akan saling bertabrakan satu sama lain.

Perintah Menegakkan timbangan (al-Mizan) dengan Adil

 وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

“Dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan” (8)

Baca Juga :  Kesusastraan Sebagai Mukjizat Al-Quran

Dalam ayat ini, Allah telah menciptakan segala sesuatu dengan perhitungan yang teliti dan sesuai dengan neraca keseimbangan. Pun Allah menuntut kita agar menegakkan neraca keseimbangan di segala aspek kegiatan. Sebenarnya, apa manfaat dari neraca keseimbangan? Tentunya ia akan menghasilkan sebuah moderasi. Sesuai dengan ayat diatas dengan mengutip kata bi al-Qisth yang artinya adil, ia berfungsi untuk menyenangkan kedua belah pihak yang mana di satu sisi tak berlebih, pun tak ada yang merasa dikurangi. Contoh yang paling ringan saja dalam hal berinteraksi. Jika kita ingin diperlakukan baik, patut kiranya untuk memperlakukan hal yang serupa.

Bumi Diciptakan untuk Makhluk Hidup

  وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ

“Dan bumi dihamparkannya untuk makhluk hidup” (9)

Sedikit berbicara tentang bumi, ada dua kata dalam al-Quran yang selalu bersandingan dengan al-Ardh, yaitu kholaqo dan ja’ala. Menurut Shihab, kholaqo ialah menciptakan keadaan tertentu, kemudian ja’ala menciptakan sesuatu yang sudah tercipta menjadi sebuah keadaan tertentu yang tentunya berada dengan sebelumnya.

Kata al-Anaam pada umumnya diartikan sebagai manusia. Namun, dalam ayat ini diartikan makhluk hidup. Allah menghamparkan bumi ini untuk seluruh makhluk hidup termasuk hewan dan tumbuhan. Hal yang perlu digaris bawahi disini bahwa kata “dihamparkan” bukan berarti bumi berbentuk datar, yang dimaksud ialah  hamparan  nikmat yang selalu Allah anugerahkan ke semua makhluk hidup.

Para ilmuwan berpendapat bumi ini bulat atau lonjong, namun Allah menjadikannya datar karena ia dimanfaatkan manusia. Sehingga walau bumi sedang beredar, manusia tak akan merasakannya. Kemanapun ia mengarahkan pandangan, ia tetap melihat bumi ini datar.

Wallahu A’lam. 

Tulisan ini diolah dari video berikut: 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here