Pengajian Tafsir Quraish Shihab: Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan (Surah Ar-Rahman: 26-28)

1
83

BincangSyariah.Com – Masih dalam penjelasan tafsir surah al-Rahman, seperti yang telah diungkapkan oleh Prof. Quraish Shihab, surat ini disebut sebagai ‘Arusy al-Quran (pengantin al-Quran). Beberapa gambaran keindahan nikmat dunia dan akhirat telah dipaparkan olehNya dalam surat ini. Salah satu contohnya, nikmat duniawi dibahas di ayat sebelumnya menjelaskan tentang indahnya laut dan manfaatnya bagi para penginjak bumi. Adapun nikmat Ukhrawi yang berupa nikmat surga seperti yang akan dibahas dalam tulisan ini.

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ – 26

“Semua yang ada di bumi akan binasa”

Menurut Prof. Quraish Shihab, kata man diatas diartikan sebagai sosok yang berakal melingkupi manusia dan jin. Keduanya tentu akan binasa dan akan diberikan pertanggungjawaban yang kelak akan keduanya terima. Kemudian, kata Faan diartikan sebagai binasa. Binasa tidak bisa disamakan dengan sebuah ketiadaan. Binasa hanya sementara, sedangkan ketiadaan mati selamanya.  Mengapa kata Faan diartikan binasa? Karena manusia dan jin akan dibangkitkan kembali dan menghadap Tuhan membawa dirinya masing-masing.

Apa Tafsir Wajah Tuhanmu ?

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ – 27

“Dan wajah Tuhanmu yang tetap memiliki kebesaran dan kemuliaan”

Soal tafsir Wajhu Rabbika, ada sekian pendapat ulama tentang makna ayat ini. Sebagian ulama memilih tidak mengungkap maknanya, karena mereka yakini hanya Tuhan yang tahu. Ada juga yang mencoba memberikan takwil berupa metafor atas ayat tersebut. Ada dua takwil diantaranya: pertama, ia diartikan sebagai dzat Tuhan yang kekal adanya, kedua, Allah memiliki sifat agung yang selalu memberikan keadilan atau anugrah bagi makhluk-Nya.

Shihab mengungkapkan kata al-Jalal diatas sebagai sifat al-Asma al-Husna yang diartikan sebagai sifat yang mengandung segala peniadaan. Dia dijauhkan dari sifat buruk dan dijauhkan dari sifat kekurangan.

Baca Juga :  Ustz. M. Quraish Shihab: Membaca Harus Kritis !

Kemudian kata Ikram, yang berasal dari kata Karaam yang merupakan sifat dermawan dan selalu melakukan hal yang terbaik bagi objeknya (makhlukNya). Mengenai kata Ikram secara lengkap, sebelumnya pernah dibahas di ayat sebelumnya.

Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ – 28

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan

Membaca surat al-Rahman, kita akan menemukan banyak ayat ini diulang diantara dua sampai tiga ayat di semua bagian surat ini. Terhitung, ayat ini diulang sebanyak 31 kali. Uniknya, ayat ini banyak diulang pada ayat yang menjelaskan ancaman atau hukuman.

Menurut Shihab, pertanyaan yang diulangi beberapa kali itu bukan bermaksud untuk menakuti pembaca al-Quran, melainkan ini sebagai nikmat melalui cara ajakan untuk terus mensyukuri nikmatNya.

Lantas mengapa penetapan bilangannya sebanyak tiga puluh satu? Menurut Shihab, para ulama menyikapi dua hal dalam hal ini:

pertama, para ulama tidak mempermasalahkan angka dalam konteks agama. Seluruh ayat yang bersifat angka dalam al-Quran tidak perlu untuk diperdebatkan secara panjang. Quraish Shihab menyamakan hal ini sama dengan orang bodoh yang terus menanyakan batasan minum obat yang diberikan dokter saat ditimpa sakit.

Kedua, sebagian ulama berusaha mencari makna bilangan ini. Dalam bilangan 31 ini, ulama membaginya dalam empat aspek diantaranya; pertama, uraian menyangkut nikmat duniawi, kedua menguraikan makna neraka, ketiga mengulas nikmat-nikmat surga dalam tingkat pertama, dan terakhir diulas nikmat surga tingkat kedua.

Aneka Konteks “Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan”

Ayat Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kamu Dustakan diulas di beberapa konteks. Dalam ancaman neraka terhitung sebanyak tujuh kali. Diuraikan bersama nikmat surga yang pertama dan kedua dijumlahkan sebanyak enam belas kali. Ini terbukti bahwa nikmatnya berupa surga masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan neraka. Lantas apa makna dari penjelasan diatas?

Baca Juga :  Hukum Membawa Kucing ke dalam Masjid, Apakah Boleh?

Menurut Quraish Shihab, intisari dari ayat ini ialah siapa saja yang mau mensyukuri nikmat-nikmat Tuhan yang telah dianugerahkan-Nya di dunia ini, ia akan dihindarkan dari neraka yang memiliki tujuh pintu. Dan selanjutnya, ia akan dipersilahkan untuk masuk dalam pintu surgaNya yang delapan. Dimana posisi kita? Sudahkah kita memilih pintu surgaNya yang delapan? Semoga dengan rahmatNya kita bisa meraih salah satu pintu surgaNya. Aaamin Yaa Mujib as-Saailin.

Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here