Pengajian Tafsir Quraish Shihab: Macam-Macam Buah di Surga (Ar-Rahman: 11-13)

0
82

BincangSyariah.Com – Memberikan interpretasi tentang surga, semua pasti akan tercipta dalam bayangannya hal yang menakjubkan dan indah. Al-Qur’an dan Hadis pun telah membuktikan dengan berbagai macam dalilnya. Dalam surat al-Rahman pun dijelaskan beberapa nikmat berupa buah-buahan yang memiliki keindahan tersendiri. Berikut penjelasannya:

فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ (11) وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ – 12

“Didalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang”. (11)“Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya”. (12)

Di ayat ini, Quraish Shihab tidak menafsirkannya secara lengkap. Saya mencoba mencari penjelasan tambahan dengan mengutip pendapat Ibn Katsir dalam tafsirnya, Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, 

{فِيهَا فَاكِهَةٌ} أَيْ: مُخْتَلِفَةُ الْأَلْوَانِ وَالطُّعُومِ وَالرَّوَائِحِ، {وَالنَّخْلُ ذَاتُ الأكْمَامِ} أَفْرَدَهُ بِالذِّكْرِ لِشَرَفِهِ وَنَفْعِهِ، رَطْبًا وَيَابِسًا. وَالْأَكْمَامُ -قَالَ ابْنُ جُرَيْج عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: هِيَ أَوْعِيَةُ الطَّلْعِ. وَهَكَذَا قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْمُفَسِّرِينَ، وَهُوَ الَّذِي يَطْلُعُ فِيهِ الْقِنْوُ ثُمَّ يَنْشَقُّ عَنِ الْعُنْقُودِ، فَيَكُونُ بُسْرًا ثُمَّ رُطَبًا، ثُمَّ يَنْضَجُ وَيَتَنَاهَى يَنْعُه وَاسْتِوَاؤُهُ.

Menurut Ibn Katsir, buah yang ada dalam surat ini memiliki macam-macam rasa dan wangi yang berbeda. Adapun kurma disini memiliki dua macam jenis yaitu kurma basah dan kering.  Menurut Ibn Juraij meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, pun mayoritas ahli tafsir mengatakan bahwa al-Akmam atau yang diartikan sebagai kelopak mayang, merupakan tangkai buah yang kemudian terbelah menjadi setandan buah lalu ia tumbuh menjadi buah kurma muda. Setelah itu ia menjadi kurma matang dan menjadi kurma yang sempurna. Mayoritas ahli tafsir pun berpendapat demikian.

{وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ} قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَلْحَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ} يعني: التبن. وَقَالَ العَوْفي، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {الْعَصْفِ} وَرَقُ الزرع الأخضر الذي قطع رؤوسه، فَهُوَ يُسَمَّى الْعَصْفَ إِذَا يَبِسَ. وَكَذَا قَالَ قَتَادَةُ، وَالضَّحَّاكُ، وَأَبُو مَالِكٍ: عَصْفُهُ: تِبْنُهُ. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَمُجَاهِدٌ، وَغَيْرُ وَاحِدٍ: {وَالرَّيْحَانُ} يَعْنِي: الْوَرَقَ.

Baca Juga :  Benarkah Merasa Cemas Pandemi Covid-19 Berarti Tidak Tawakal?

Menurut Ali Ibn Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibn Abbas yang dimaksud dengan al-habb Dzul ‘Ashfi ia merupakan biji jerami yang berasal dari ‘Ashf yang artinya daun berwarna hijau yang telah terputus tangkainya. Menurut Ibn Abbas, dikatakan al-Ashf karena ia sifatnya kering  dan semerbak harum atau yang disebut dengan al-Rayhan.

Nikmat Mana Lagi yang Kau Dustakan

Di paparan sebelumnya pun Shihab menjelaskan bahwa surat ini banyak keunikannya. Salah satunya yaitu banyaknya pertanyaan yang menyindir para pembaca al-Quran dengan penggalan ayat  “Fabiayyi Ᾱlāi Rabbikumā Tukażibān”.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ – 13

Lalu nikmat mana lagi yang kau dustakan?” (13)

Ayat ini diulang sebanyak tiga puluh satu kali dalam surat al-Rahman. al-Ustadz Quraish Shihab menjelaskan ketika ayat ini turun, Nabi Muhammad membacakannya didepan para sahabat, kemudian para sahabat terdiam. Nabi berkata “Hai, jin lebih mulia dari pada kamu”, para sahabat langsung berkata, ”Ya Allah, tidak ada satu pun nikmat yang aku dustakan kepadamu.”

Lantas apa maksud dari tuntunan Nabi berikut? Menurut Shihab seperti halnya yang telah dibahas di ayat sebelumnya, berkata bahwa bacalah al-Quran seakan akan ia sedang bercakap denganmu. Setiap ada pertanyaan, maka jawablah. Pun jika datang kepadamu sebuah nikmat, syukurilah itu, dan jika engkau diperintahkan untuk sujud, maka lakukanlah. Sesungguhnya, jika kita membaca al-Quran tanpa adanya sebuah dialog, maka ia acuh/cuek untuk berdialog denganNya. Karena sesungguhnya Allah sangat senang untuk diajak berdialog melalui kalam-Nya. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here