Pengajian Quraish Shihab: Tafsir Surat Al-Hadid 1-4: Penjelasan Langit Diciptakan Enam Hari

0
141

BincangSyariah.Com – Surat al-Hadid ialah surat yang ke lima puluh tujuh  dan terdapat dua puluh sembilan ayat di dalamnya. Al-Hadid artinya besi. Diartikan besi karena di ayat ke dua puluh lima, diungkapkan demikian. Menurut Quraish Shihab, pemilihan nama surat ada yang dipakai hanya satu nama saja, pun sebaliknya ada yang bermacam-macam.

Contohnya, surat al-Fatihah yang kaya dengan makna sampai lebih dari sepuluh. Penamaan ini bisa jadi dinamai oleh Nabi dan jika surat itu memiliki banyak makna bisa jadi dari ijtihad para Ulama. Bahkan, ada yang diambil dari fungsinya ataupun  dari kata yang terdapat dalam surat tersebut. Tak hanya itu, penamaan bisa jadi diambil karena uniknya surat seperti surat al-Baqarah. Didalamnya terdapat sekelumit kisah tentang sapi betina. Lantas, bagaimana surat al-Hadid ini lahir? Apa esensi yang diambil melalui surat ini?

Titik Temu Makna Bertasbih dan “Berenang” 

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Mengupas makna sabbaha selain diartikan sebagai bertasbih, Shihab mengatakan bahwa Sabaha (tanpa memakai tasydid) memiliki arti berenang. Keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Berenang merupakan gaya olahraga yang jauh menembus permukaan air secara dalam, sehingga ia hanya mengapung diatas air saja. Begitupun dengan bertasbih, makna hakikinya ialah menjauhkan dari segala kekurangan Allah baik itu berupa dzat, sifat, perbuatan, firmanNya, bahkan sampai pada ketetapan hukumNya. Semuanya harus disingkirkan. Oleh karena itu, agar kita selalu dekat dengan Allah, tumbuhkan rasa cinta dalam hati dengan bertasbih kepadaNya.

Selanjutnya, arti maa dimaksudkan sebagai makhluk yang tidak berakal seperti hewan,tumbuhan dan sebagainya. Untuk bertasbih pun, tidak hanya langit dan bumi yang telah  bertasbih,  semua ciptaan Allah yang tak berakal pun sama. Di ayat ini Allah menjelaskan kembali kekuasaannya, dengan kata al-‘Aziiz al-Hakiim.

Mengulas kata (al-Hakim) yang diambil dari kata al-Hikmah, yang penuh hikmah dan bijaksana. Shihab memberikan arti lain dari hikmah, ia bisa diartikan sebagai kendali. Contoh, sang pengendara mobil pasti mampu menguasai kendalinya, karena ia ingin menuntaskan target tujuannya. Sehingga, jika memang arah belok kanan adalah jalan pintas yang baik, tentu si pengendara akan memilihnya sebab itu adalah maslahatnya. Dengan begitu, Allah akan selalu megendalikan hambanya dengan kehidupan yang baik jika ia pandai melantunkan tasbih pada Allah.

Baca Juga :  Tiga Cara Memupuk Iman

Kemudian, Shihab mengutip sebuah nasihat namun ia tidak menginformasikan sumber referensinya, nasihat itu berbunyi:

إنّ المرء لا يندم يوم القيامة على سبيحة واحدة ولم يسبحها في الدنيا

“Seseorang akan menyesal di hari kiamat nanti karena selama perjalanan hidupnya sama sekali tidak mengucapkan kalimat Subhanallah.”

Makna al-Awwal,al-Akhir, al-Zhahir dan al-Bathin

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Sudah mutlak bagi Allah yang memiliki sifat al-Awwal yang difahami “Dia Awal tapi tidak berpermulaan”, pun dengan sifat al-Akhir “yang Maha Akhir tapi tidak berakhir”. Ada Ulama yang mengatakan bahwa orang yang faham adalah ia yang mampu melihat Allah sebelum, sesaat, dan sesudah sesuatu. Maksud dari ucapan terebut ialah cukup Allah saja yang memiliki sifat kekal, selainNya tidak akan abadi.

Selanjutnya, Allah pun memiliki sifat az-Zhahir dan al-Bathin yang mengandung arti Dia jelas dan tersembunyi. Apa maksud dari kedua makna tersebut? Jelas yang berarti Allah hadir dengan semua bukti-bukti yang terlihat di dunia ini. Menurut Shihab, sungguh heran jika ada orang yang masih bertanya wujudnya Allah, padahal ia telah jelas dan tampak melalui bukti keindahan ciptaanNya. Arti dari tersembunyi yaitu ia yang tersembunyi dari hakikat DzatNya. Menurut Imam al-Ghazali, tersembunyi disini menandakan keagunganNya yang sangat besar sehingga makhluk tak mampu melihatNya. Contoh kelelawar, di pagi hari ia tidak terlihat karena tubuhnya yang bercahaya, kita tak mampu melihatnya. Saat malam hari, ia tampak dan muncul dan kita bisa melihatnya.

Makna Langit Diciptakan Enam Hari

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Baca Juga :  Hukum Memasuki Tempat Ibadah Non-Muslim

Selain ayat diatas, surat al-Sajdah ayat tujuh pun turut menjelaskan demikian bahwa Allah menciptakan langit, bumi dan isinya selama enam hari. Menurut Shihab, mengapa Allah menciptakan tidak sekaligus? Padahal Allah tentu sangat mampu dengan hanya berkata “Kun!” maka akan tercipta langsung? Tentunya, ini memiliki motivasi yang sangat luar biasa untuk kita semua. Allah mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang selalu berusaha dan tak tergesa-gesa dalam segala hal. Dalam arti, bergiatlah dalam suatu pekerjaan dengan hasil yang maksimal tanpa berfikir bahwa semua impian akan terwujud dengan instan. Wallohu A’lam

Disarikan dari video pengajian Tafsir al-Misbah selama ramadan di akun youtube al-Ustadz M. Quraish Shihab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here