Pengajian Ihya Gus Ulil: Pentingnya Guru Mursyid Sebagai Penunjuk Jalan Menuju Allah

0
1279

BincangSyariah.Com – Setelah Gus Ulil menerangkan tentang 4 hal yang menjadi penghalang antara Hamba dengan Tuhannya dalam menempuh jalan tasawuf, maka Imam Ghazali dalam kitab Ihya menjelaskan tentang peran seorang mursyid sebagai petunjuk jalan bagi seorang hamba yang hendak menempuh jalan tasawuf. Hal yang perlu dipahami di sini adalah, ranah hubungan antara guru dengan murid dalam tasawuf itu berbeda dengan hubungan antara guru dan murid dalam kelimuan lahiriah.

Seseorang yang hendak menempuh jalan tasawuf harus sepenuhnya menyerahkan kepercayaannya kepada gurunya yang biasa disebut mursyid. Meski demikian, 4 hal penghalang antara hamba dan Tuhannya bisa dipraktikkan di luar ilmu tasawuf seperti yang sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya.

Imam Ghazali menganalogikan seseorang yang telah berhasil menghilangkan 4 penghalang antara ia dengan Tuhannya sama seperti dengan seseorang yang telah beruwudu kemudian ia siap untuk sholat. saat hendak sholat berjamah maka ia membutuhkan imam. Begitu juga bagi seorang hamba yang telah menghilangkan 4 penghalang tersebut berarti ia telah siap menempuh jalan tasawuf menuju Tuhan dan membutuhkan guru.

Guru sangat diperlukan dalam menempuh jalan tasawuf, sebab jalan yang akan ditempuh sangat samar, sulit dan banyak godaan. Maka siapapun yang menempuh jalan tasawuf tanpa guru berarti ia dikuasai setan, ia berguru dengan setan. Lalu Gus Ulil memberi contoh tentang godaan yang akan dihadapi oleh murid. Misal, seorang hamba merasa telah bangga diri karena ibadahnya telah baik dan unggul daripada yang lain. Berati hatinya dan dirinya telah dikuasai oleh nafsunya dan setan.

Seperti biasa, Imam Ghazali yang senang beranalogi sebab ia merupakan ahli debat yang unggul kembali menganalogikan hamba yang menempuh jalan tasawuf tanpa guru bagaikan seseorang yang berjalan di padang pasir tanpa petunjuk jalan. Ia akan tersesat. Juga Imam Ghazali menganalogikan dengan pohon yang tumbuh sendiri tanpa perawatan tangan manusia maka ia takkan berbuah, justru selebat apapun pohon tersebut ia akan mengering. Maka jika seorang hamba telah menemukan mursyid ia harus sepenuhnya menyerahkan kepercayaannya kepada mursyid seperti orang buta yang menyerahkan kepercayannya pada penunjuk jalan.

Baca Juga :  Tetap Ngaji #Dirumahaja, Ini Daftar Ngaji Online Versi BincangSyariah.Com

Pada jalan menuju tasawuf seorang murid tidak boleh menentang mursyid di depannya maupun di belakang. Berbeda antara guru dan murid dalam keilmuan yang lain, maka diperbolehkan untuk berbeda pendapat dan mendebat. Ia tidak perlu merasa khawatir kalau mursyidnya akan mencelakakannya.

Sebab seorang mursyid yang benar-benar musryid tidak mungkin akan melakukan hal demikian. Jikalau itu terjadi, itu masih lebih baik daripada menempuh jalan tasawuf kemudian benar tapi tanpa seorang guru. Demikianlah pendapat Imam Ghazali.

Gus Ulil menambahkan sedikit tentang siapa yang menjadi guru tasawuf Imam al-Ghazali. Tidak banyak ditemukan referensi dalam biografi Imam Ghazali tentang siapa guru tasawufnya dan tarekat apa yang ditempuh. Namun banyak cerita yang menuturkan bahwa yang menjadi gurunya Imam Ghazali dalam tasawuf adalah adiknya sendiri, Ahmad al-Ghazali. Bahkan adiknya telah lebih dahulu belajar tasawuf dan mengarang beberapa kitab tasawuf dalam bahasa Persia. Imam Ghazali selain menggeluti ilmu tasawuf ia juga mengarang beberapa kitab Fikih.

Diceritakan bahwa suatu hari saat Ahmad al-Ghazali hendak sholat berjamaah di masjid dan ia mengetahui kakaknya sedang mengimami sholat ia langsung mengurungkan diri dan niat mufaroqoh (berpisah) menjadi makmum. Imam Ghazali yang mengetahui hal tersebut langsung bertanya alasan ia memisahkan diri dari jamaah.

Lalu adiknya menjawab bahwa saat sholat ia melihat tubuh kakaknya berlumuran darah. hal tersebut hanya diketahui oleh adiknya yang telah kasyaf. Imam Ghazali lantas berpikir apa yang menyebabkan hal demikian terjadi. Seketika ia menyadari bahwa saat sholat ia memikirkan tentang bab haid yang sedang ia tulis pad kitab fikihnya.

Jika seorang murid telah menemukan mursyidnya, maka sang mursyid harus sepenuhnya menjaga muridnya dari pemutus jalannya dengan 4 perlindungan yang menjadi benteng. Yaitu, menyingkirkan diri dari keramaian (khalwat), diam, menahan lapar dan tidak tidur. wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here