Pengajian Ihya Gus Ulil: Mursyid Harus Tahu Kemampuan Murid

1
630

BincangSyariah.Com Perlu diingat, bahwa konteks murid yang disebut berkali-kali dalam kajian tasawuf ini adalah seseorang yang hendak menempuh laku spiritual, bukan murid yang belajar ilmu-ilmu zahir (dicontohkan misalnya ilmu fikih atau ilmu nahwu). Kata murid dari bahasa Arab merupakan bentuk fa’il (subjek) dari fiil (kata kerja) a-roo-da yu-rii-du. Terminologi yang pas untuk seseorang yang belajar ilmu-ilmu zahir dalam bahasa Arab adalah Muta’allim (pembelajar)

Mursyid yang menjadi pembimbing dan pengawas murid harus mengetahui kemampuan seseorang yang hendak menempuh laku spiritual. Tidak semua sanggup untuk menempuh jalur berat ini. Jika ada seseorang yang menginginkan untuk menempuh laku spiritual, selaku mursyid thoriqoh harus mengetahui kemampuan sang hamba tersebut.

Jika ia memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, mursyid diperbolehkan memerintahkan murid untuk tafakkur, wirid yang panjang dan perintah untuk khalwat. Jika terjadi sebaliknya, mursyid memerintahkan murid untuk menjadi manusia yang biasa saja, aktivitas seperti orang biasa tetapi diberi amalan berupa wirid yang mutawattir (langsung dari Rasulullah) dan istiqomah. Boleh juga memerintahkan murid untuk menjadi pelayan murid yang menempuh laku khalwat.

Imam al-Ghazali mengumpamakan seseorang yang datang kepada Rasulullah untuk ikut berjihad, namun ia nampaknya tidak memiliki persyaratan yang cukup terutama kekuatan fisik. Maka Rasulullah meemerintahkan orang tersebut untuk menjadi pelayan orang-orang yang berjihad seperti, menyiapkan makanan, kendaraan dan mengobati mujahidin yang terluka. Ia masuk kepada kelompok orang-orang yang membantu dalam peperangan meski tidak langsung turut dalam berperang. Begitulah para murid yang berperan dalam membantu murid yang menempuh khalwat. Di duniapun mereka mendapatkan berkah. Dan di akhirat kelak akan dibariskan dengan mereka.

Murid yang menempuh laku spiritual juga akan menghadapi cobaan yang semakin berat setelah ia memasuki tahapan yang lebih tinggi. Godaan-godaan yang tidak nampak berupa perasaan ujub, riya dan bangga diri. Terlebih, jika ia telah mendapatkan anugerah berupa kasyaf (tersingkapnya rahasia Allah).

Baca Juga :  Hukum Jual Beli Kucing Peliharaan

Jika murid tenggelam dengan perasaan tersebut yang tentunya berasal dari hawa nafsu maka hal itu akan menyebabkan seorang murid turun derajat. Sebaiknya, murid tidak boleh puas dengan pencapaian yang telah ia gapai. Selayaknya seseorang yang haus lalu meminum air laut guna menghilangkan dahaga, justru bukan itu yang didapatkan, tapi kehausan lagi. Begitulah Imam Ghozali mengumpamakannya.

Ada sebuah percakapan antara wali abdal (diriwayatkan dari sebuah hadis bahwa setiap zaman ada 40 wali yang menjadi penyeimbang bumi ini yang disebut wali abdal) dengan pengelana. Dahulu, orang-orang biasa melakukan perjalanan jauh dari satu tempat ke tempat lain untuk berguru. Maka tidak heran jika kita temukan beberapa ulama besar atau sufi besar memiliki ribuan guru, sebab mereka melakukan pengembaraan sepanjang hidupnya untuk menuntut ilmu.

Percakapannya sebagai berikut:

Pengelana: wahai wali abdal, bagaimana engkau menempuh jalan menuju Tuhan ini?

Wali abdal: jadilah engkau seseorang yang hidup di dunia seolah hanya mampir saja.

Pengelana: berikan aku sebuah amalan yang bisa membuat hatiku selalu merasa bersama Allah..

Wali abdal: janganlah engkau melihat manusia. sebab melihat mereka adalah sumber kegelapan hati.

Pengelana: Tidak mungkin. Aku adalah makhluk sosial. Bagaimana bisa untuk tidak melihat mereka?

Wali abdal: maka jangan dengarkanlah perkataan mereka. Sebab perkataan mereka menyebabkan kerasnya hati.

Pengelana: Tidak mungkin juga. Tidak mungkin melakukan demikian.

Wali abdal: janganlah berinteraksi dengan mereka. Karena berinteraksi dengan mereka membuat kamu liar.

Pengelana: Aku berada di sekitar mereka. Sangat sulit untuk melakukan itu.

Wali Abdal : maka janganlah engkau merasa nyaman dengan mereka.

Pengelana: Semua hal yang kulakukan dengan manusia selalu memiliki alasan.

Wali abdal: apakah dengan melihat orang-orang yang lalai, mendengarkan perkataan orang yang bodoh mampu membuat hatimu selalu merasa dengan Allah. Semua itu selamanya tidak akan terjadi.

Perjalanan yang ditempuh oleh orang yang menempuh laku tasawuf jelaslah berat. Tapi seringkali Gus Ulil menjelaskan kepada kita selaku orang awam agar nilai-nilai yang diajarkan Imam Ghazali bisa kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari seperti yang sudah penulis paparkan pada tulisan ini dan sebelumnya. Wallahu a’lam.

Temukan tulisan lain tentang Pengajian Ihya Gus Ulil disini

1 KOMENTAR

  1. Assalamualaikum tolong tunjukkan satu hadits saja dari kutubussittah soal 40 wali sbg penyeimbang? Kami ingin tau sanadNya . Mungkin akan kami kaji dengan syarah nukhbatul fikr ibnu hajar thobaqot rijalul hadits imam nawawi dan ulumul hadits ibnu sholah soal derajat hadits nya. Kalo tidak ada dari yg sittah mungkin bisa dari yg lain . Pada intiNya kami hanya ingin tau referensinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here