Pengajian Ihya Gus Ulil: Mujahadah untuk Berzikir kepada Allah

0
329

BincangSyariah.Com – Setelah Imam al-Ghazali memamparkan tahapan dalam proses suluk berupa 4 hal yang menjadi benteng diri: menahan lapar, sedikit tidur, diam dan khalwat kali ini beliau memaparkan bagaimana proses menuju konsistensi berzikir kepada Allah. Dalam proses menuju Tuhan melalui jalan tasawuf ini hal yang perlu diperhatikan adalah peran guru. Guru harus senantiasa mengawasinya muridnya dalam menempuh jalan ini. Jika ia telah berhasil menempuh satu tahapan, maka guru akan memberikan tahapan berikutnya.

Dikisahkan seorang mursyid yaitu Imam as-Syibli mengatakan kepada muridnya yaitu Hushori, “jika dari jumat hingga jumat berikutnya muncul selain Allah dalam pikiranmu maka janganlah engkau datang kepadaku.” Artinya, Imam as-Syibli menantang muridnya untuk bisa menempuh tahapan memenuhi hati dan pikirannya untuk mengingat Allah. Keinginan untuk mengisolasi diri dari kehidupan duniapun tidak akan berhasil jika tidak murni dari keinginannya sendiri dan hati yang dikuasai cinta kepada Allah. Kemudian Imam al-Ghazali menganalogikannya dengan seorang perindu yang takkan memikirkan siapapun selain yang dirindukannya itu.

Kembali kepada kisah Imam as-Syibli bahwa jika muridnya telah berhasil menaklukan tantangan tersebut maka kemudian ini menyediakan sebuah ruangan khusus untuk muridnya sebagai tempat berzikir dan mencegah dirinya dari makanan yang tidak halal. Kemudian sang mursyid akan menuntun muridnya untuk berzikir dengan bacaan tertentu sehingga lisan dan hatinya dipenuhi oleh zikir.

Misal dimulai dengan zikir “Allah…Allah…” atau “subhaanallah…”. Itu terus dilakukan sampai menjadi kebiasaan dan kalimat itu menancap pada kedalaman hatinya. Dan kalimat zikir tersebut selah-olah berjalan bersama lidahnya tanpa ia gerakkan, karena kalimat itu sudah begitu melekat pada lisan dan hatinya. Selanjutnya, zikir itu akan mencapai pada tahap lidah tak bergerak lagi namun benar-benar menancap pada hatinya. Hingga ia menemukan hakikat makna dari kalimat zikir tersebut dan hatinya tidak disibukkan selain zikir kepada Allah.

Baca Juga :  Orang yang Sibuk Bekerja, Dapatkah Meraih Kemuliaan Ramadan?

Dalam pikiran hamba yang sibuk kepada Allah tidak ada lagi selain Allah. Maka kebanyakan para wali Allah sangat terisolasi dari keramaian, tidak muncul di publik. Baginya tidak ada yang lebih penting selain Allah. Tiada tempat bagi selain Allah dalam hatinya.

Seperti biasa, Gus Ulil menambahkan bahwa praktik memfokuskan diri kepada sesuatu dalam urusan duniawi maksudnya bisa dipraktikkan dalam kehdupan selain kehidupan tasawuf. Para inventor, Thomas Alfa Edison misalnya dalam penemuannya itu memfokuskan pikirannya hanya pada penelitiannya tentang listrik. Jika pikiran terdistraksi maka apa yang sebelumnya kita pikirkan akan buyar.

Pada tahapan ini sang mursyid harus terus mengawasi murid dari gangguan-gangguan yang akan membuyarkan pikirannya dari berzikir kepada Allah. Imam al-Ghazali juga telah mengajarkan kita pada pembahasan sebelumnya tentang teori hidup qodru ad-dhorurot (sesusai kebutuhan), maka dalam berpikirpun demikian. Tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak esensial. Dalam kehidupan non tasawuf juga kita bisa mempraktikkannya dengan tidak membiarkan pikiran kita menerima segala informasi.

Jika dalam tahapan ini sang murid mengalami distruksi berupa hal-hal keduniawian, ia harus kuat untuk tidak terjerembap dan mengikutinya. Gangguan juga bisa berasal dari kalimat zikir itu sendiri seperti, apa makna lafaz Allah? Apa makna Allah sebagai Tuhan dan sebagai yang disembah? Di situlah peran mursyid juga untuk melindungi muridnya dari gangguang-gangguan yang sulit terdeteksi.

Klik Pengajian Ihya Gus Ulil untuk Untuk melihat serial tulisan lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here