Pengajian Ihya Gus Ulil: Mengendalikan Hawa Nafsu Makan dan Seksualitas

0
731

BincangSyariah.Com – Menurut Imam Ghazali, sumber kerusakan paling besar bagi Nabi Adam dan keturunannya adalah nafsu yang berkaitan dengan perut. Dari nafsu makan berlebihan itu maka akan menimbulkan kerusakan-kerusakan lainnya. Dahulu pun, Nabi Adam dan istrinya dikeluarkan dari surga karena nafsu yang berkaitan dengan perut. Mereka berdua dilarang untuk memakan buah yang ada di surga lalu melanggarnya. Setelah melakukan pelanggaran itu, maka nampaklah rasa malu mereka karena auratnya terbuka. Konon, rasa malu itu belum dimiliki keduanya meskipun tidak berpakaian. Setelah itu baru muncullah rasa malu.

Nafsu yang berkaitan dengan perut lantas diikuti dengan nafsu seksual. Dan keduanya berkaitan dengan nafsu ingin memperbanyak harta dan mendapat jabatan. Artinya, seseorang tidak akan memenuhi nafsu makan dan seksual. Karena biasanya orang-orang yang sudah bergelimang harta dan memiliki jabatan akan cenderung mengikuti nafsu perutnya dan seksual. Jika nafsu-nafsu tersebut diikuti, maka seterusnya akan timbul iri hati dan dengki kepada apa yang didapatkan oleh orang lain. Perasaan ingin saling menunjukkan, saling mengunggulkan diri dalam jumlah harta.

Jika sudah memiliki sifat dengki dan iri hati, ia akan cenderung melakukan penyelewengan terhadap hak orang lain. Semua itu bermula dari membiarkan diri memenuhi nafsu perut. Jika seorang hamba berusaha mempersempit jalan setan dengan makan maka ia pasti akan memiliki ketaatan yang baik. Dalam ilmu tasawuf yang berdasarkan hadis Nabi bahwa setan itu mengalir bersama aliran darah kita berarti bahwa sifat kejahatan itu sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Allah menciptakan manusia dengan sifat baik dan jahat. Maka dengan berpuasa akan mempersempit jalan setan karena aliran darah semakin sempit.

Baca Juga :  Tidak Membaca Takbir Zawaid, Apakah Salat Id Tetap Sah?

Ibnu Abbas berkta bahwa Rasulullah saw. bersabda: “tidak akan masuk ke dalam kerajaan langit bagi orang yang senantiasa kenyang.”

Lalu ada sebuah hadis bahwa ketika Rasulullah saw ditanya siapa manusia yang paling utama, maka beliau menjawab, “yaitu seseorang yang sedikit makan dan ketawa dan rida dengan apa yang menutupi dirinya (pakaian)”.

Meskipun dalam hadis-hadis yang disebutkan dalam ilmu tasawuf tidak jarang menampilkan hadis daif (lemah) bahkan maudu’ (palsu) tapi bukan berarti ia mengabaikan hadis sahih. Sebab hadis-hadis yang berkaitan dengan spiritual tidak sebanyak hadis yang berkaitan dengan fiqih, begitu menurut penuturan Gus Ulil.

Bab yang berkaitan dengan berjihad dengan menyedikitkan makan juga tidak hanya bisa dipraktikkan oleh orang yang hendak serius dalam menempuh laku tasawuf, tapi juga manusia-manusia awam. Kita memang disarankan untuk makan secukupnya demi menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Selain itu juga demi mengendalikan nafsu-nafsu lainnya. Seperti konsep kehidupan yang diajarkan oleh Imam Ghazali yaitu qodru dhoruroh (sesuai kebutuhan), termasuk dalam makan dan berpakaian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here