Pengajian Ihya’ Gus Ulil: Mengajarkan Anak Kesederhanaan dan Sikap Berbagi

0
299

BincangSyariah.Com – Sebelumnya Gus Ulil pernah menjelaskan bahwa  dalam ilmu psikologi ada yang disebut dengan istilah dragon parenting. Maksudnya ialah mendidik anak dengan cara yang ketat. Disebut dragon parenting yang berarti mengasung naga karena jiwa anak-anak saat kecil memang selalu ingin bebas dan mencoba banyak hal. Imam al-Ghazali memberi solusi dalam pola pengasuhan.

Meski pada mulanya penulis sendiri sebelum Gus Ulil menjelaskannya, penulis menilai bahwa pendidikan anak alam Imam al-Ghazali sangat keras dan terkesan mengekang. Tapi berkali-kali Imam al-Ghazali, seperti yang dijelaskan oleh Gus Ulil menggunakan konteks an yahfadzho (menjaga). Itu menandakan bahwa Imam al-Ghazali tidak menafikan sifat-sifat alamiyah yang pasti muncul pada diri anak-anak.

Poin kedua selain pola pendidikan yang diajarkan Imam al-Ghozali adalah tentang penyebutan kata abun (bapak) berkali-kali. Hal ini terkesan bahwa otoritas mendidik sepenuhnya di tangan Bapak. Gus Ulil memaklumi hal itu karena Imam al-Ghazali saat menulis kitab Ihya memang hidup di zaman patriarki. Sebuah sistem yang menganggap bahwa lelaki lebih unggul daripada perempuan. Tapi hal itu bukan berarti Imam al-Ghozali menafikan peran ibu sebagai pendidik.

Setelah teknik pembiasaan yang baik sejak kecil untuk anak, Imam al-Ghazali juga mengajarkan kepada orang tua agar sejak kecil anak diajarkan untuk berpakaian sederhana. Lantas, Gus Ulil menyinggung fenomena saat ini yang melihat anak-anak muda seringkali memaksakan diri untuk berpakaian stylish demi eksistensi. Padahal eksistensi bukan dari penampilan yang bisa jadi palsu, melainkan dari akhlak dan prestasi. Penulispun mengamini, bahwa banyak sekali kaum muda yang memaksakan diri untuk tampil nyentrik demi memenuhi feed instagramnya sekadar untuk mempertahankan eksistensinya.

Kitab Ihya’ juga mengajarkan agar anak-anak sudah diajarkan untuk mencintai orang-orang yang sholih agar ia muncul rasa cinta kepada mereka. Imam al-Ghazali menyarankan kepada orang tua agar tidak terlalu sering memperdengarkan puisi-puisi atau lagu-lagu bertema percintaan kepada anak-anak. Hal tersebut akan menumbuhkan benih-benih kerusakan pada hati.

Baca Juga :  Pentingnya Berprasangka Baik Menurut Syaikh Yusuf al-Makassari

Gus Ulil mengaitkan pada fenomena saat ini yang melihat banyak sekali pemuda yang jiwanya lemah karena sering mendengarkan atau membaca puisi-puisi cinta yang picisan. Di sini tidak benar-benar melarangnya, melainkan untuk membatasi diri dari hal demikian. Karena sejak jaman jahiliyah anak-anak memang diajarkan untuk mempelajari syair-syair dan menghapalkannya hingga mereka mahir.

Selain sikap kesederhanaan yang diajarkan dalam kitab Ihya’, di dalamnya juga dijelaskan agar orang tua mengajarkan anak sikap berbagi. Sebab, anak-anak saat itu alamiahnya memiliki sikap egois yang sangat tinggi. sehingga perlu diajarkan sejak dini untuk memiliki sifat dermawan. Dalam hal apresiasipun kitab Ihya’ mengajarkan agar orang tua memuji anaknya saat melakukan perbuatan baik. Memujinya pun di depan banyak orang agar ia merasa senang dan dihargai.

Namun, saat sekali saja seorang anak melakukan kesalahan maka diamakan terlebih dahulu lalu ajak bicara baik-baik saat keadaan sepi. Artinya kitab Ihya mengajarkan orang tua untuk menutup aib sang anak dan tidak mempermalukan anak di depan umum. Tutur kata yang lembut dan sikap yang santun juga harus ditekankan kepada orang tua dalam memberi teguran. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here