Pengajian Ihya Gus Ulil: Ulama Pihak yang Paling Banyak Dikritik

0
262

BincangSyariah.Com – Imam Ghazali memiliki kepribadian yang unik. Faktornya adalah dari adiknya, Ahmad al-Ghazali. Ia justru lebih cerdas dari kakaknya. Bahkan ia yang menyebabkan kakaknya untuk menoleh kepada ilmu tasawuf. Adiknya juga mengarang kitab tasawuf tapi dalam bahasa Persia. Kedua, Imam al-Ghazali pernah mengalami kisah dramatis. Ia pernah mengalami krisis spiritual. Pernah ia merasa tidak percaya dengan apapun. Termasuk dengan ilmu yang ia pelajari. Dia berpikir mengajar berbagai macam ilmu itu untuk apa. Apakah niatnya untuk Allah apakah untuk popularitas semata. Pernah dalam satu titik karirnya al-Ghazali tidak bisa bicara.

Kisah tersebut persis pengalaman Nabi Zakariya As. yang tidak bisa bicara sebagai tanda kehamilan istrinya. Saat itu beliau masuk kelas untuk mengajar namun tidak bisa bicara lalu keluar lagi. Akhirnya ia meninggalkan jabatannya, yaitu pimpinan Madrasah Nizamiyah di Baghdad. Persis juga seperti kisah para wali sebelum al-Ghazali, yaitu Ibrahim bin Adham, Ma’ruf al-Karhi, Fudhail bin Iyadh. Tokoh-tokoh tasawuf yang menjadi sufi krena dalam hidupnya mengalami krisis spiritual. Seperti Ibrahim bin Adham yang dulunya merupakan seorang raja di Afghanistan. Kemudian mninggalkan kerajaannya. Persis Budha Gautama yang dulu merupakan seorang pangeran.

Kitab Ihya’ dikarang setelah masa pertapaan selama kurang lebih 10 tahun. Dengan pengalaman dan kecerdasan intelektual yang tinggi, Imam al-Ghazali mampu menyajikan ilmu tasawuf dengan sangat gamblang dan mudah dipahami. Karakteristik kitab Ihya’ daripada kitab-kitab tasawuf lainnya adalah karena pengarangnya yang cerdas. Meski menjadi wali merupakan hasil dari istiqomah seseorang dalam beribadah, namun perpaduan kecerdasan intelektual dan spiritual yang dimilikinya menjadikan kitab Ihya’ sangat ciamik untuk terus dikaji.

Menurut penuturan Gus Ulil, mengaji kitab Ihya’ sangatlah sulit. Hal tersebut dikarenakan isinya penuh dengan teguran. Ulama pihak yang paling banyak dikritik di dalam kitab Ihya’. Ulama yang dimaksud adalah yang sekadar mengajar ilmu syariat. Menurutnya, ilmu fiqih bukanlah ilmu akhirat. Imam al-Ghazali lantas membagi ilmu menjadi dua golongan, yaitu mu’amalah dan mukasyafah.

Mu’amalah ilmu interaksi antara manusia dan manusia juga manusia dan Allah. Sementara mukasyafah (menyingkap rahasia Allah) akan tercapai jika pelaksanaan ilmu mu’amalah benar. Itupun mu’amalah yang terkait dengan dunia ini. Spontan, anggapan Imam al-Ghazali tentang ilmu fiqih yang bukan ilmu akhirat mendapat banyak respon dan pertentangan dari banyak pihak terutama ulama ilmu fiqih itu sendiri. Maka sempat muncul fatwa dari Spanyol bahwa ilmu tasawuf itu sesat karena anggapan demikian.

Baca Juga :  Bolehkah Membakar Sarang Lebah untuk Diambil Madunya?

Teguran yang banyak bermunculan dari kitab Ihya’ adalah tentang orang-orang yang sangat sibuk menilai kekurangan dan menasihati orang lain daripada melakukan hal demikian pada diri sendiri. Maka Imam al-Ghazali membagi tipologi manusia menjadi empat golongan:

Pertama, seseorang yang tahu (berilmu) dan dia tahu kalau dirinya berilmu.

Kedua, seseorang yang tahu (berilmu) dan dia tidak tahu kalau dirinya berilmu.

Ketiga, seseorang yang tidak tahu (tidak berilmu) tapi dia tidak tahu kalau ia tidak berilmu.

Keempat, seseorang yang tidak tahu (tidak berilmu) dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak berilmu. Dan inilah orang yang paling berbahaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here