Pengajian Ihya Gus Ulil: Empat Hal Penghalang Antara Hamba dengan Tuhan

0
400

BincangSyariah.Com – Dalam menempuh jalan menuju Tuhan, hal yang seharusnya dimiliki oleh seorang hamba adalah keinginan. Setelah keinginan itu ada, ada beberapa hal yang perlu dilewati. Selain ketidakadaan keinginan dari seorang hamba, seperti yang dijelaskan Gus Ulil pada kajian sebelumnya, ternyata ada empat hal yang menjadi penghalang untuk menuju Tuhan. Apa saja empat penghalang itu?

Pertama, harta. Harta menjadi penghalang antara hamba dengan Tuhannya. Harta yang menjadi penghalang ini bisa hilang jikalau seorang hamba tersebut tidak memliki harta kecuali untuk hal-hal yang mendasar. Praktik ini memang tidak mudah. Riyadah dan mujahadah yang dipaparkan oleh Imam al-Ghazali memang hanya mampu dijalani oleh orang-orang yang saleh dan orang-orang yang hendak menempuh jalan tarekat setelah terpenuhinya syariat.

Namun Gus Ulil menambahkan bahwa kita sebagai manusia yang tingkat keimanannya masih begitu jauh dari para wali harus tetap berusaha untuk menjalani hidup sederhana seperti jalan yang ditempuh para wali. Meski memang tidak akan sepenuhnya dan setaraf. Gus Ulil juga menerangkan bahwa praktik menghilangkan penghalang berupa harta bukan berarti menjadi miskin sepenuhnya.

Sedikitnya harta yang dimiliki seorang hamba juga tidak menjamin bahwa hatinya sepenuhnya selalu ingat Allah. Bahkan sebaliknya, bisa jadi orang yang memiliki harta yang berlimpah hatinya tetap tidak bergantung padanya. Hatinya tetap bergantung pada Allah. Kita tidak bisa menilai segala hal secara lahiriah. Maka hal yang bisa kita lakukan adalah dengan tidak menggantungkan hati kita pada harta yang dititipkan Allah.

Kedua, jabatan sosial. Alasan Imam Ghazali mengemukakan jabatan sosial sebagai penghalang hamba mneuju Tuhan adalah disebabkan ia bisa melalaikan manusia dari ibadah, dan menjadikan hatinya takabur dan memiliki rasa egois yang tinggi. Maka cara untuk menghilangkan penghalang yang satu ini adalah dengan menjauhi diri dari jabatan tersebut. Jangan sering memunculkan diri ke publik. Sebab inti menjadi manusia secara ruhani adalah dengan mengalahkan ego.

Baca Juga :  Akibat Salah Memahami Konsep Hijrah

Hal ini memang perlu dipahami secara kontekstual juga. Tidak sepenuhnya dan selamanya kita harus mengurung diri dan tidak muncul di hadapan masyarakat. Terutama bagi orang-orang yang memiliki ilmu dan keahlian. Karena dikhawatirkan justru masyarakat akan dikuasai oleh orang-orang bodoh. Maka saat menjadi manusia sosial, kita tidak boleh menjadi manusia yang terus mengurung diri.

Membahas tentang ego, tentu seringkali kita tertipu oleh orang-orang yang mendeklarasikan sedang memperjuangkan agama, padahal ia sedang memperjuangkan egonya. Terjadinya ketegangan sosial, perpecahan juga disebabkan oleh rasa egois yang tinggi.

Ketiga, taqlid. Taqlid dalam artian taqlid buta dalam bermazhab biasanya menyebabkan sikap fanatik. Sifat fanatik juga akhirnya membuat seseorang tidak mau menerima kebenaran dari yang lain. Cara menghilangkan taqlid yang menyebabkan fanatik ini adalah dengan memahami kalimat tauhid Laaa Ilaaha IllaaLlaah. Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.

Tiada kebenaran dan otoritas kecuali milik Allah. Jika seseorang telah memahami dengan benar makna kalimat tauhid maka ia takkan memiliki sifat fanatik dan menerima bahwa kebenaran manusia itu relatif. Selain itu, memahami kalimat tauhid adalah dengan tidak menyembah sesembahan apapun selain Allah termasuk ego itu sendiri.

Dikisahkan juga saat Imam Ghazali muda ia pernah menjadi penganut mahzab Syafii yang fanatik dan menghina mazhab Hanafi yang menjadi mazhab anutan di Khurasan pada saat itu. Hingga menyebabkan ia dipanggil oleh gubernur saat itu.

Keempat, maksiat. Penghalang berupa maksiat bisa dihilangkan dengan cara bertobat, mengembalikan hak-hak orang yang telah dizalimi, dan bertekad untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Maka, siapapun yang tidak benar-benar bertobat dan tidak bertekad untuk tidak mengulangi lagi, namun ia menginginkan rahasia-rahasia agama seperti para wali, maka ia diumpamakan seperti orang yang hendak mempelajari rahasia Alquran dan makna-maknanya tapi tidak mau belajar bahasa Arab.

Baca Juga :  Apa Hukum Mengambil Keuntungan Dua Kali Lipat dalam Islam?

Sebab, untuk mempelajari Alquran adalah dengan memahami maknanya, baru beranjak mengetahui rahasia-rahasianya. Maka, bagi seorang hamba yang hendak menempuh jalan menuju Tuhan, ia harus menjalani syariat dengan benar. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here