Cara Memahami Hadis: Keilmuan Geografi dalam Memahami Hadis

1
1306

BincangSyariah.Com – Geografi adalah ilmu peta bumi yang dapat membantu seseorang dalam memahami hadis secara baik dan benar.  Benar, ia bukanlah salah satu sumber hukum dalam Islam, namun seorang Muslim yang tidak mengetahui ilmu geografi berpotensi keliru dalam memahami beberapa hadis. Penulis meyakini bahwa ilmu geografi perlu dan dapat diterapkan dalam memahami hadis Nabi. Berikut ini beberapa hadis Nabi yang dalam konteks atau wilayah tertentu harus dipahami dengan menggunakan pendekatan ilmu geografi dan melahirkan makna kontekstual.

Pertama, “Hadis tentang menghadap ke arah timur dan barat saat buang hajat”.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitabnya, dari sahabat Ayub Al-Ansori berkata, Rasulullah bersabda:

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الْغَائِطَ فَلَا يَسْتَقْبِل الْقِبْلَةَ وَلَا يُوَلِّهَا ظَهْرَهُ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا

Artinya: Jika salah seorang di antara kalian ingin atau hendak buang hajat (BAB) maka janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya. Menghadaplah ke timur atau ke barat.

Hadis di atas menjelaskan, seseorang dilarang untuk menghadap kiblat atau membelakangi saat buang hajat, dan hendaklah untuk menghadap ke arah barat atau ke arah timur. Di dalamnya tidak dijelaskan di mana tempat Rasulullah saw. menyampaikan hadis itu. Namun dalam sebuah riwayat yang lain disebutkan bahwa Abdullah Ibn Umar pernah berkata: “Aku naik ke atas rumah Hafsah untuk suatu keperluan di sana aku melihat Rasulullah saw. sedang buang hajat dengan membelakangi kiblat, menghadap ke Syam.”

Melalui riwayat ini dapat dipahami ternyata Rasulullah saw. ketika itu sedang berada di Madinah, terindikasi dari perkataan Ibn Umar “rumah Hafsah” sedangkan Hafsah adalah Ummul Mukminin yang dinikahi oleh Nabi Muhammad saw. setelah melakukan hijrah dan ketika itu menetap di Madinah. Sedangkan letak geografis Madinah dari kota Makkah adalah arah utara.

Baca Juga :  Status Non-Muslim di Indonesia: Bukan Masalah Baru, Kenapa Diributkan?

Menurut Ali Mustafa Yaqub, Hadis perintah untuk menghadap ke arah barat dan timur saat buang hajat di atas tentu pada tempat yang lain seperti di Indonesia misalnya, tidak dapat dipahami secara tekstual atau secara lafal hadisnya, maka hadis tersebut tidak dapat diamalkan secara harfiyah. Karena posisi ketika Nabi bersabda berbeda  dengan letak geografis Indonesia. Letak Indonesia dari Makkah adalah arah timur.

Apabila kita yang berada di Indonesia mengamalkan hadis di atas secara tekstual, sesuai dengan lafal teks hadis yaitu dengan menghadap ke arah timur atau ke barat saat buang “hajat”. Maka pengertiannya adalah “menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya” karena kiblat berada di sebelah barat Indonesia. Pemahaman seperti ini tentu tidak sesuai dan sejalan dengan apa yang diinginkan oleh baginda Rasulullah saw., karena Rasulullah saw. mengatakan, “maka janganlah kamu menghadap kiblat atau membelakanginya ketika buang hajat”.

Dalam konteks Indonesia, hadis di atas harus diamalkan dan dipahami secara kontekstual yaitu menghadaplah ke utara atau ke selatan, artinya “menghadaplah ke arah utara atau menghadaplah ke arah selatan” saat buang hajat, sehingga seseorang ketika buang hajat tidak menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya.

Kedua, “Hadits pengalihan hujan”.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitabnya, dari Anas bin Malik, beliau berkata:

بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَحَطَ الْمَطَرُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَسْقِيَنَا فَدَعَا فَمُطِرْنَا فَمَا كِدْنَا أَنْ نَصِلَ إِلَى مَنَازِلِنَا فَمَا زِلْنَا نُمْطَرُ إِلَى الْجُمُعَةِ الْمُقْبِلَةِ قَالَ فَقَامَ ذَلِكَ الرَّجُلُ أَوْ غَيْرُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَصْرِفَهُ عَنَّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا قَالَ فَلَقَدْ رَأَيْتُ السَّحَابَ يَتَقَطَّعُ يَمِينًا وَشِمَالًا يُمْطَرُونَ وَلَا يُمْطَرُ أَهْلُ الْمَدِينَةِ.

Baca Juga :  Nasionalisme Nabi dan Surah Al-Qasas Ayat 85

Artinya: Pada saat Rasulullah sedang menyampaikan khutbah Jumat tiba-tiba seorang laki-laki datang lalu berkata “Wahai Rasulullah saw. kemarau telah lama melanda berdoalah kepada Allah Swt agar kiranya dapat menurunkan hujan kepada kita maka beliaupun berdoa lalu kami diguyur hujan, kami hampir tidak dapat tiba di rumah karena hujan terus mengguyur kami hingga hari Jumat berikutnya”.

Rawi berkata lalu laki-laki tadi atau yang lain berdiri kemudian berkata: “Wahai Rasulullah saw. berdoalah kepada Allah Swt agar kiranya memindahkan hujan itu dari kami”, Rasulullah kemudian berdoa,“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar wilayah kami, bukan di wilayah kami.“ Rawi menuturkan, “maka sungguh aku melihat awan berpencar ke arah kanan dan kiri hingga mereka dituruni hujan. Sementara penduduk Madinah tidak terkena hujan.”

Tentu saja orang yang tidak mengetahui letak geografis di mana Rasulullah menyampaikan hadis (doa) di atas, maka orang tersebut akan keliru dalam memahami dan mengamalkan hadis tersebut. Sebab, apabila hadis di atas diamalkan dan dipanjatkan sesuai teks hadis oleh warga Jakarta misalnya, maka tentu banjir bandang akan mengalir deras ke kota Jakarta bila hujannya pindah ke wilayah sekitar Jakarta, karena wilayah di sekitar Jakarta adalah Bogor dan dataran tinggi.

Hal ini sangat berbeda dengan Madinah tempat Rasulullah saw. memanjatkan doa tersebut, karena di sekeliling Madinah adalah wilayah padang pasir sehingga apabila turun hujan, tentu penduduk Madinah akan aman dari banjir. Sesuai riwayat hadits ini dapat diketahui bahwa letak geografis tempat di mana Rasulullah menyampaikan hadis tersebut konteksnya adalah Madinah.

Oleh karena itu, apabila ingin berdoa supaya hujan dialihkan dari kota Jakarta ke tempat lain, pasti kita tidak mengamalkan hadis di atas secara tekstual atau lafal hadis, melainkan harus menggunakan makna hadis atau tujuan dari hadis itu dipanjatkan, supaya sesuai dengan konteks wilayah, misalnya dengan berdoa:

Baca Juga :  Kemenag, NU, Muhammadiyah Tetapkan Hari Raya Idul Fitri 2020 Jatuh pada Hari Ahad

اللهم على البحر لاعلينا ولا حوالينا

Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan di laut, jangan di wilayah kami dan juga wilayah sekitar kami”. Doa ini dipanjatkan berdasarkan pemahaman kontekstual terhadap hadis dengan menggunakan pendekatan geografi, ia tidak bertentangan dengan teks hadis sebab inti hadis yang menjadi pembahasan adalah menghindarkan bahaya turunnya hujan daripada penduduk Madinah. Wallahu a’lam.

Referensi utama; al-Thuruq al-Shahihah fi Sahm al-Sunnah al-Nabawiyah , Karya; Prof Ali Musthafa Yaqub. MA.

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here