Apakah Penambahan Kode Unik ketika Transfer Termasuk Riba?

0
530

BincangSyariah.Com – Sebuah syarat agar seseorang bisa melakukan transaksi online, adalah dia harus memiliki sebuah akun (account). “Account” atau “akun” dalam dunia ekonomi, sering dimaknai sebagai “rekening”. Oleh karenanya, akun media sosial, dalam bingkai kajian ekonomi, adalah juga bisa diistilahkan sebagai rekening media sosial. Di dalamnya terdapat alamat transaksi digital, dan sekaligus sarana melaporkan transaksi yang pernah dilakukan. (Baca: Peran Akun Media Sosial dan Rekening dalam Fikih Muamalah)

Saat kita masuk dalam marketplace (pasar online) tertentu, biasanya kita diarahkan untuk membuat akun terlebih dulu. Tujuan dari pengarahan ini sebenarnya adalah untuk memastikan berlaku sempurnanya perjalanan transaksi.

Bila ada cashback  pembayaran, maka cashback itu bisa dikembalikan lewat akun (rekening online) milik kita. Atau bila terjadi gagal transaksi, maka uang yang sudah ditransfer, bisa dikembalikan ke akun sosial kita dalam bentuk saldo deposit yang tersimpan dalam e-wallet (dompet elektronik).

Saldo deposit itu bisa kita gunakan kembali untuk melakukan transaksi lain yang sekira kita butuhkan. Alhasil, banyak maslahahnya dari keberadaan akun ini. Perannya sama persis dengan fisik buku rekening bank yang kita miliki, yang darinya kita bisa transfer atau pindah buku.

Saat melakukan transaksi online di suatu marketplace, dan saat sudah terjadi deal pembelian barang yang kita sukai dari toko online tertentu, umumnya, kita diberitahu mengenai jumlah harga jadi dari produk yang kita beli. Namun, pemberitahuan itu selalu diikuti dengan kode unik.

Misalnya, jika kita membeli produk dengan harga 1 juta, maka dalam laporan permintaan transfer, selalu disertakan angka tambahan berupa 227 rupiah, atau 100 rupiah, sampai dengan 500 rupiah. Inilah yang dimaksud kode unik tersebut.

Baca Juga :  Berbisnis di Pasar Modal dalam Islam ?

Fungsi dari kode unik ini sebenarnya untuk memudahkan pengenalan, bahwa memang telah terjadi transfer pada produk tertentu yang dipesan konsumen pembeli. Agar bisa dibedakan dari para pembeli yang lain yang mengakses produk yang sama, maka dihadirkan kode unik tersebut.

Apakah kode unik yang bernilai rupiah ini dimiliki oleh pihak marketplace? Ternyata tidak. Angka unik tersebut, selanjutnya dimasukkan sebagai saldo deposit dalam dompet digital kita, pada akun marketplace yang sudah kita buat. Pertanyaan dari sejumlah pihak adalah berkaitan dengan kode unik ini, apakah ia termasuk akad riba?

Untuk menjawab permasalahan ini, kunci utamanya ada dua, yaitu: 1) memahami peran dan fungsi akun, 2) memahami pengertian bai’ salam, dan 3) memahami peran syarat dalam transaksi. Dalam hal ini, peran dan fungsi akun, sekilas kita sudah singgung di atas. Selanjutnya adalah memahami bai’ salam.

Bai’ Salam

Bai’ Salam, atau bai’ maushuf fi al-dzimmah, merupakan jual beli dengan sistem pesan. Dalam jual beli ini disyaratkan harus menyerahkan pokok harta (ra’su al-mal) terlebih dulu kepada penjual. Penyerahan pokok harta dalam akad salam, bisa dimaknai sebagai dua, yaitu sebagai 1) wadi’ah amanah (titipan amanat), dan 2) sebagai qardlu hukman (secara hukum berlaku sebagai utang penjual kepada pembeli). Dalam praktiknya, kedua akad ini saling  mengikat satu sama lain.

Sifat mengikatnya akad dapat dimaknai sebagai “sebelum barang yang dipesan terkirim kepada penjual, maka uang yang sudah ditransfer berlaku sebagai utangnya pemilik lapak atau admin marketplace, kepada pembeli. Untuk itu, uang tersebut tidak boleh digunakan kecuali setelah titipan amanat (wadiah amanah) itu dilaksanakan oleh pemilik lapak yang dijamin keberadaannya oleh marketplace.” Alhasil, kedua akad wadi’ah (titipan) dan qardlu (utang) digabung menjadi satu.

Baca Juga :  Belajar Tauhid: Beriman kepada Kitab Taurat

Dengan demikian, karena berangkat awalnya kedua akad ini adalah menguatkan transaksi jual beli, maka kombinasi dua akad wadi’ah dan qardlu tersebut, berlaku dengan batasan berupa sampainya barang yang dipesan dapat di-qabdlu (diterima) oleh pembeli. Jika barang sudah diterima, maka berarti sudah terjadi jual beli. Sebaliknya, bila barang belum diterima oleh pembeli, maka uang tersebut berlaku sebagai utang marketplace kepada pembeli yang dicatat dalam akun dompet elektronik (e-wallet). Ingat bahwa, uang elektronik memiliki akad dasar sebagai duyun (utang).

Dengan mencermati kedudukan masing-masing pihak di sini, maka pihak yang bertindak sebagai muqridl (pemberi utangan) adalah pembeli. Sementara marketplace berlaku sebagai dlamin (penjamin transaksi). Sementara itu, pihak yang diutangi (mustaqridl), adalah pelapak toko online.

Riba qardli (riba utang) berlaku dengan ketentuan bila pihak muqridl (pembeli) mensyaratkan adanya ziyadah (tambahan) pada utang yang diberikan kepada mustaqridl (pelapak). Sebagaimana qaidah terkenal yang menyatakan:

كل قرض جرى نفعا للمقرض فهو ربا

“Setiap utang yang memberi kemanfaatan pada pihak yang mengutangi (muqridl), adalah riba.”

Akan tetapi, pada transfer dengan kode unik, justru pihak yang mengutangi yang memberikan ziyadah (tambahan). Alhasil, tidak masuk dalam bagian yang dilarang dalam kaidah tersebut. Kaidah itu justru berlaku jika pihak pembeli mensyaratkan tambahan manfaat baginya kepada penjual. Namun, yang berlaku justru sebaliknya. Dengan demikian, dalam praktik ini, tidak ada larangan syara’ yang dilanggar, khususnya terkait dengan riba.

Syarat Menambah Transfer disertai Kode Unik

Menurut ketetapan fiqih empat madzhab, suatu syarat bisa disebut sahih (benar) adalah bilamana di dalam syarat tersebut tidak ada ketentuan syariah yang dilanggar. Selain itu, dalam madzhab syafii dan hanbali, sebagai sebuah syarat, bisa dianggap sahih dalam muamalah jual beli, bilamana berisikan materi yang menunjukkan maslahah nyata (muhaqqaq) dan mendukung / menguatkan terjadinya jual beli (kepemilikan barang).

Baca Juga :  Macam-macam Kemitraan Bisnis dalam Islam

Dalam praktik transfer dengan kode unik, sebagaimana dapat dipahami bahwa kode tersebut adalah bermanfaat untuk mengenali transaksi pembeli satu dengan transaksi pembeli lainnya. Selain itu, kode unik yang turut serta ditransfer, pada akhirnya dikembalikan dalam akun dompet digital milik pembeli secara utuh.

Jika sebuah akun, diakui sebagai unit penyimpan harta secara online, maka itu berarti harta yang dikembalikan pada dompet digital adalah milik pribadi dari pemilik akun tersebut. Jadi, bukan milik pelapak atau milik marketplace. Alhasil, penambahan kode unik ini juga tidak menerjang kaidah utang menarik kemanfaatan.

Dengan demikian, sebagai kesimpulan dari kajian ini, adalah bahwa penambahan kode unik pada transaksi online, adalah tidak termasuk riba. Syarat penambahan kode unik itu boleh dilakukan seiring menguatkan transaksi dan membawa kemaslahatan bagi pengenalan bea transaksi. Apalagi, uang yang ditambahkan sesuai kode dalam transfer itu masih tetap milik pembeli yang masuk dalam saldo deposit dan tersimpan dalam e-wallet akun pribadi pembeli. Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here