Pemilu 2019 dan Urgensi Literasi Politik Bagi Siswa

0
316

BincangSyariah.Com – Dalam kontestasi pemilu di Indonesia, siswa Madrasah Aliyah sederajat yang sudah berumur 17 tahun sudah memiliki hak suara. Sebagai pemilih awal tentunya mereka butuh yang namanya literasi politik (political Literacy) demi mendapatkan pemahaman (edukasi) politik yang baik dan benar sesuai dengan yang berlaku di Indonesia.

Menurut Crick (Essay on Citizenship:2012), literasi politik adalah cara membuat diri menjadi efektif dalam kehidupan publik dan dorongan untuk menjadi aktif, partisipatif, dalam melaksanakan hak dan kewajiban, baik dalam keadaan resmi maupun area publik yang sifatnya suka rela. Dalam konteks pemilu, literasi politik dapat dipahami sebagai kemampuan masyarakat dalam menganalisa hal-hal yang dibutuhkan dalam substansi politik sehingga money politic tidak lagi menjadi perilaku utama dalam pemilu. Di lingkungan sekolah, siswa tidak mudah terprovokasi atau termakan isu murahan yang membawa-bawa nama agama atau suku dengan adanya literasi politik.

Organisasi kesiswaan yang berjalan dalam lembaga pendidikan, baik intra maupun ekstra salah satunya adalah bertujuan untuk melatih leadership dan kepekaan siswa dalam berorganisasi. Bagaimana seharusnya mereka memilih pemimpin yang benar-benar bisa amanah di kemudian hari. Siswa tidak lagi berbicara teman akrab, famili dekat, teman spesial, akan tetapi mereka memilih berangkat dari hati berdasarkan visi-misi kandidat. Mereka juga tidak suka menyinggung SARA (Suku, Ras, Agama, Antargolongan) dalam pemilihan di sekolah. Dalam skala kecil, mereka sudah terbiasa dengan sistem demokrasi yang berlaku di Indonesia, yaitu lewat pemilihan dalam organisasi sekolah (Osis atau ekstrakurikuler sekolah).

Dalam skala kecil dapat dikatakan mereka sudah bisa memilih dengan baik dan benar. Ini dikarenakan mereka sudah mengenal calon pilihan mereka masing-masing. Namun dalam ruang lingkup yang lebih besar tentunya mereka butuh yang pendampingan, termasuk soal literasi politik  apalagi menyangkut ketatanegaraan.

Baca Juga :  Habib Ahmad bin Jindan: Indonesia bagai Kota Madinah bagi Para Habaib Nusantara

Dalam skala besar, siswa yang sudah memiliki hak pilih akan ikut berpartisipasi dalam pesta demokrasi yang sesungguhnya, yakni pemilihan umum. Suara mereka sangat berharga dan ikut menentukan masa depan bangsa. Di Tahun ini, 2019, siswa akan ikut bagian dalam pesta demokrasi. Siswa akan memilih presiden (Eksekutif) dan wakil rakyat (legislatif) periode 2019-2024 secara serentak. Tepatnya pada tanggal 17 April 2019, mereka yang sudah berumur 17 tahun akan diundang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) daerah masing-masing, masuk bilik suara, dan menentukan pilihannya selama lima menit untuk lima tahun kedepan. Suara mereka tidak boleh salah ruang. Harus disesuaikan dengan hati dan nalar mereka tanpa ada paksaan dari luar.

Dr. Muslim Mufthi, salah satu Dosen Ilmu Politik UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjelaskan, ada tiga faktor yang dapat memengaruhi ijtihad politik seseorang. Pertama, Faktor Psikologis, yakni berhubungan dengan keadaannya sebagai individu. Kedua, Faktor Sosiologis, yakni pengaruh dari lungkungan sekitar. Ketiga, Faktor Pilihan Rasional, yakni ia akan memilih sesuai pilihan yang dirasa benar melalui kajian yang dilakukan sebelumnya (Dinas Pendidikan Jawa Barat:2018). Ketiga faktor ini setidaknya harus dipahami oleh mereka yang memiliki hak pilih. Lebih-lebih pemilih pemula yang gampang goyah.

Doktor lulusan Universitas Indonesia ini juga mengatakan, “Suara generasi milineal sangat signifikan, namun mereka harus dibentuk, karena jiwa masih labil dan mudah terpengaruh oleh isu-isu yang ada.” Suara mereka sebagai pemilih pemula sangat rentan menjadi rebutan para kandidat pemilu. Ini menjadi tugas praktisi dan akademisi untuk membentengi suara rakyat, khususnya siswa agar tidak mudah terpengaruh atau terprovokasi oleh isu SARA atau berita hoaks. Dampingi mereka dalam menyambut pesta demokrasi sehingga Pemilu 2019 berjalan secara Luber (Langsung, umum, bebas, rahasia) dan Jurdil (Jujur dan Adil).

Baca Juga :  Berbuat Baik kepada Tetangga yang Non-Muslim, Bolehkah?

Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya literasi politik demi menjaga kesucian suara siswa (masyarakat). Jangan sampai kepolosan siswa dapat dimanfaatkan dengan mudah oleh mereka yang haus kekuasaan. Literasi politik melalui berbagai media, khususnya media sosial oleh praktisi atau instansi tertentu adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk semakin membumikan literasi politik. Para guru di lembaga pendidikan juga ikut serta memberikan edukasi tentang politik. Semuanya harus bergandeng tangan dalam memberikan pemahaman pada peserta pemilu, khususnya siswa tentang betapa pentingnya literasi politik. Semoga pemilu serentak di Tahun 2019 berjalan aman, lancar, dan berkah. Amin.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here