Pembaruan Pemikiran Islam Dibahas di Ciputat, Dihadiri Quraish Shihab sampai TGB

1
962

BincangSyariah.Com – Rabu (19/2) pagi tadi, Pusat Studi Al-Quran (PSQ) bersama Ikatan Alumni Al-Azhar Indonesia (IAAI Indonesia) Indonesia menggelar Kajian Membumikan Al-Quran yang ke-10 di. Acara ini dilaksanakan di Aula Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ), Ciputat, Tangsel.

Kajian dengan tema “Pembaruan Pemikiran Islam” kali ini mengundang beberapa tokoh dan akademisi tingkat nasional, seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra (Pakar Sejarah dan Politik Islam), Prof. Dr. Huzaemah Y. Tanggo (Pakar Fikih dan Rektor IIQ), Dr. TGB. M. Zainul Majdi (Mantan Gubernur NTB, Ketua IAAI Indonesia), dan Dr. Abdul Moqsith Ghazali, MA (Dosen UIN Jakarta. Turut hadir pula pendiri Lembaga Pusat Studi Quran (PSQ), Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA. (Pakar Tafsir).

Tema yang diangkat pada seri kesepuluh ini adalah “Pembaruan Pemikiran Keislaman.” Tujuan kajian ini sejatinya meneruskan tema besar dalam Konferensi Internasional tentang Pembaharuan Pemikiran Islam yang diselenggarakan oleh Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir pada 27 Januari lalu. Beberapa tokoh ulama ikut hadir dalam forum tersebut termasuk Quraish Shihab. Hadir juga bersama beliau waktu itu Ketua MUI Prof. Dr. Din Syamsuddin dan TGB.

Di acara tersebut Pemerintah Mesir memberikan penghargaan berupa Bintang Tanda Kehormatan Tingkat Pertama Bidang Ilmu Pengetahuan dan Seni kepada M. Quraish Shihab. Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Perdana Menteri Mesir, Musthafa Madbouli, yang mewakili Presiden Abdul Fattah al-Sisi.

Pembaruan pemikiran keislaman sebenarnya bukanlah hal yang baru. Bukan juga gagasan Al-Azhar yang muncul baru-baru ini. Ide terkait pembaharuan dalam Islam yang diselenggarakan ini adalah lanjutan dan pengembangan dari gagasan ulama-ulama jauh sebelumnya.

Pembicara pertama, Dr. TGB. M. Zainul Majdi menyampaikan kalau tema ini sangat menarik baginya. “Inisangat relevan untuk kita semua, bagaimana eksistensi Islam di tengah manusia. Untuk masa-masa yang akan datang, pembaharuan ini bukanlah usaha untuk memperbaharui esensi islam itu sendiri, akan tetapi yang coba kita perbaharui ialah pemikiran keislaman, pemahaman terhadap agama Islam.” Ujar beliau

Baca Juga :  Orang Bisu Masuk Islam, Apakah Wajib Mengikrarkan Dua Syahadat dengan Lisan?

Jika kita melihat proses perkembangan Islam dari masa-masa, betapa banyaknya permasalahan baru yang muncul di tengah-tengah masyarakat Muslim. Ungkapan yang sering kita dengar adalah, “An-Nushūsh mutanāhiyah, wal Wāqāi’ ghairl mutanāhiyah”, (Teks-teks syar’i itu terbatas, sedangkan ragam kasus/peristiwa tak terbatas. Maka disinilah kentara bagaimana Pembaharuan sangat urgen sekali untuk selalu diagungkan dalam Islam.

TGB melanjutkan, “Proses Tajdīd atau pembaharuan ini adalah satu hal yang tak bisa lepas dari dunia Islam, sebagaimana kita saksikan sendiri dalam kitab-kitab Ulama terdahulu. Bahkan saat dimana ungkapan-ungkapan pintu ijtihad sudah ditutup, selalu saja ada usaha-usaha pembaharuan yang tak bisa lepas secara pribadi maupun secara institusi.”

Ia memandang, ketika Al-Azhar membicarakan tentang pembaharuan (tajdid), itu tidak hanya berkutat dalam tataran landasan-landasan serta argumen mengapa kita perlu selalu menghidupkannya. Al-Azhar juga langsung terjun kepada masalah-masalah yang konkrit. Mungkin tidak banyak konferensi pemikiran keislaman yang langsung menyentuh tentang Lembaga perkawinan, juga tentang posisi perempuan dalam Islam.

Dari sini kita dapat melihat bagaimana Pembaharuan Pemikiran Islam tersebut menyinggung isu-isu global. Bagaimana Pembaharuan bersinggungan dengan Radikalisme, Terorisme, bahkan hal-hal yang menjadi keresahan di kalangan banyak kaum muslimin seperti permasalahan Muwathānah atau sering disebut dengan negara berbangsa yang masih diperdebatkan sebagian muslim.

“Barangkali anggapan banyak orang bahwa Tajdid atau Pembaharuan ini hanya fokus menghadapi radikalisme, maka itu tidak tepat. Karena bagaimanapun Pembaharuan disini lebih luas, tak hanya pada kasus radikalisme, namun juga seperti radikalisme, atheisme, yang mana ia adalah bagian dari radikalisme pemikiran, yang perlu kita hadapi juga,” ucap Tuan Guru Bajang.

1 KOMENTAR

  1. asalamualaikum kpd para pmikir umat ulama al habib kiayai al ustad dn seluruh elemen ormas2 islam klo al islam mau. kuat utama nyh d negri yg kita cintai ini indonesia yg berlandasan pancasila mskn aje nih klo bisa perkuat ekonomi dan bwt bank islam untuk kmajuan islam yg katnyh 90 persen mgkin 200 juta muslim indonesia coba klo nabung sehari rp 2000 x 1bln trus d x 1 thn brp besar tuh aset umt islam yg kita miliki untuk kmjuan islam untuk kmslhtn umat apalgi d rekrut k seluruh propinsi indonesia dn d tangani para ahli pakar yg benar2 amanh dlm mngelola k uangn mdh2an mskn ini ada mafaat nya spy umat islam terdepan dlm ekonomi dn lain 2 trim ksh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here