Pelebaran Jalan Raya Mengambil Tanah Wakaf Kuburan, Apakah Boleh?

0
64

BincangSyariah.Com – Ketika terjadi pelebaran jalan raya, terdapat sebagian rumah warga yang terkena gusur, dan bahkan sebagian mengambil tanah wakaf kuburan. Ini banyak terjadi di kota-kota besar, bahkan terkadang harus membongkar kuburan dan memindahkan jenazahnya. Sebenarnya, bagaimana hukum pelebaran jalan raya mengambil tanah wakaf kuburan, apakah boleh? (Baca: Menjual Tanah Wakaf untuk Dibelikan Tanah Baru, Apakah Boleh?)

Pelebaran jalan raya umumnya dilakukan karena kebutuhan dan kemaslahatan umum. Misalnya, untuk mengurai kemacetan, untuk menunjang mobilitas ekonomi, dan lain sebagainya. Jika pelebaran jalan raya dibutuhkan dan harus mengambil sebagian tanah wakaf kuburan, maka hal itu hukumnya boleh dan pemerintah tidak perlu membayar ganti rugi.

Menurut ulama Malikiyah, menggunakan tanah wakaf kuburan untuk jalan atau pelebaran jalan raya, atau sebaliknya, yaitu menggunakan tanah jalan raya untuk perluasan tanah kuburan, hukumnya boleh. Hal ini karena keduanya sama-sama diperuntukkan untuk kepentingan umum, sehingga jika yang satu digunakan untuk yang lain tidak masalah.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Al-Durrul Mukhtar berikut;

وجاء فى كتب المالكية ان ما كان الله فلاباءس فيه ان يستعان ببعضه فى بعض ومعنى هذا انه يجوزتوسيع الطريق من المسجد والقبرة كما يجوز توسبع المسجد من الطريق والمقبرة وتوسيع المفبرة من الطريق والمسجد

Dalam kitab-kitab ulama Malikiyah disebutkan bahwa sesuatu yang sudah diwakafkan untuk Allah, maka boleh saling membantu satu sama lain. Artinya, boleh melebarkan jalan dari masjid dan kuburan, sebagaimana boleh melebarkan masjid dari jalan dan kuburan dan melebarkan kuburan dari jalan dan masjid.

Ini juga disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah berikut;

نص المالكية انه يجوز بيع العقار الحبس ولو كانت غير خربة لتوسيع المسجد والطريق والمقبرة وكذلك يجوز توسيع هذه الثلاثة ببعض منها عند الضرورة لان ما كان الله لاباءس فيه ان يستعان ببعضه فى بعض

Baca Juga :  Tafsir Surah 'Abasa Ayat 1 Sampai 10: Pentingnya Menghargai Siapapun

Ulama Malikiyah menegaskan bahwa boleh membeli tanah bangunan tetap, meskipun tidak rubuh, untuk perluasan atau pelebaran masjid, jalan dan kuburan. Begitu juga boleh melebarkan ketiga ini (masjid, jalan, dan kuburan) dengan sebagian lainnya jika sangat dibutuhkan. Hal ini karena sesuatu yang sudah milik Allah, maka tidak masalah saling membantu satu sama lain (saling menggunakan).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here