Pekerja dalam Pandangan Islam

1
145

BincangSyariah.Com – Beberapa waktu yang lalu, buruh Indonesia sebagian besar melakukan demonstrasi karena pasal ketenagakerjaan akan ditetapkan hukum omnibus law. Pemerintah berniat mengajak DPR untuk memberikan UU cipta lapangan kerja dirangkum dalam satu UU yang disebut Omnibus Law.

Sistem omnibus law menjadi pilihan karena pembisnis atau investor tidak begitu tertarik menempuh jalur konvensional, disebabkan harus mengikuti lajur Undang-Undang satu persatu dan mampu memakan waktu yang sangat lama. Dengan penggunaan omnibus law dirasa mampu menjadi solusi karena UU ketanagaerjaan yang sudah berlaku akan dipangkas atau lebih dikenal dengan hukum sapu jagat. Meski sekarang peninjauan Omnibus terjeda karena menyelesaikan kasus COVID-19.

Omnibus law menurut Wikipedia adalah rancangan undang- undang yang diusulkan mencakup sejumlah topik yang beragam atau tidak terkait. Omnibus law berasal dari bahasa latin yang berarti untuk segalanya.

Terkait pemberlakuan omnibus law memang perlu penggodokan yang sangat matang jika memang benar akan diberlakukan di Indonesia. Meskipun pemerintah memberi alasan diberlakukan omnibus law disebabkan UU yang telah berlaku dianggap kaku dan menghambat iklim investor. Hadirnya Omnibus Law di Indonesia dapat menghadirkan kedatangan investor. Dengan begitu akan tercipta lapangan pekerjaan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Namun Omnibus Law jika diberlakukan akan berdampak pada buruh Indonesia, karena akan melanggar hak-hak buruh serta RUU dipandang hanya menguntungkan pengusaha. Dalam kasap mata memang akan menyerap tenaga kerja yang banyak, akan tetapi di sisi lain hak-hak UU buruh yang sudah berlaku akan dipangkas. Berikut dilansir dari laman Kompas pada tentang apa aja yang akan terjadi pada buruh jika Omnibus Law berlaku di Indonesia. Salah satunya adalah upah minimum buruh akan dirubah menjadi upah perjam. Apabila buruh bekerja kurang dari 40 jam, maka tidak menerima upah minimum kerja. Dengan begitu buruh tidak menerima perlindungan upah. Tenaga kerja asingpun dapat masuk tanpa mengikuti jalur yang panjang atau tanpa melalui birokrasi. Tunjungan PHK buruh yang semula 38 bulan, akan menjadi 6 bulan serta beberapa resiko-resiko yang lain.

Pekerja dalam Pandangan Islam

Islam memiliki suatu sistem yang berkeadilan dan bermartabat terhadap dunia pekerjaan. Baik itu yang berkuasa atau buruh yang bekerja. Karena sesungguhnya Islam sangat memberikan penghargaan tinggi terhadap pekerjaan serta terhadap buruh yang bekerja. Bekerja memang suatu kewajiban yang mulia, selain dapat meningkatkan perekonomian, dan juga melahirkan kesejahteraan, dengan begitu masyarakat dapat hidup layak dan terhormat.

Namun, jika Omnibus Law menyebabkan hubungan pemilik kekuasaan dengan buruh yang bekerja tidak sejalan, bahkan adanya suatu oknum demi tercapainya tujuan salah satu pihak, maka Islam tidak menyarankan hukum itu ditegakkan.

Sesungguhnya Rasulullah SAW sangat memikirkan dan menghargai seorang buruh yang bekerja keras demi kesejahteraan perekonomian.

Kesejahteraan perekonomian akan semakin meningkat, jika peran pemerintah atau penguasa dengan buruh saling mendukung serta saling menjaga kehormatan. Tidak ada yang dirugikan dan tidak pula mengambil keuntungan dari yang bukan haknya.

Sebagimana firman Allah SWT pada QS. al-An’am: 132,

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakan. Dan Tuhan tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Hubungan buruh dan pengusaha memiliki motif saling membutuhkan, oleh sebab itu Islam memiliki prinsip kesetaraan, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Pada hadis yang diriwayatkan oleh At-Tabrani dan Baihaqi,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي

Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional”.

Nabi Muhammad SAW juga menyebut buruh merupakan saudaranya penguasa (majikan) agar derajat mereka setara dengan saudara. Pada kitab s}ahi>h Bukho>ri (j. 9 h. 15),

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ وَاصِلٍ الأَحْدَبِ، عَنِ المَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ، قَالَ: لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ، وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ، وَعَلَى غُلاَمِهِ حُلَّةٌ، فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ: إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ، فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ؟ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلاَ تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ»

Wahai Abu Dzar apakah kamu menghina ibunya? Sengguhnya kamu masih memiliki sifat jahiliyyah. Saudara-saudara kalian adalah budak (buruh) kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah tangan kalian. Maka siapa yang saudaranya berada pada budaknya (buruh) maka jika dia makan, berilah makan, bila dia berpakaian berilah seperti yang dia pakai. Janganlah kalian membebani mereka sesuatu yang diluar batas kemampuannya. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka. (HR. Bukhori)

Jadi Islam sangat menganut kesetaran, tidak ada yang menjadi objek dan tidak ada yang menjadi subjek, buruh dan penguasa memiliki derajat yang sama, yaitu sama sama membangun kemaslahatan bersama.

Selain itu, Islam juga memberi perhatian terhadap hak-hak buruh, seperti perlindungan buruh, mendapat jaminan PHK, jaminan sosial dan lain sebagainya. Islam juga menganut sosialis bukan kapitalis, jika ada pihak yang dirugikan, Islam tidak menyetujui. Karena wajah Islam begitu hangat yang memiliki watak asli yaitu menebarkan kemaslahatan dan kemanusiaan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here