PBNU Sarankan Tak Gunakan Plastik untuk Pembagian Daging Kurban

2
480

BincangSyariah.Com – Butuh 200 tahun sampai akhirnya sampah plastik bisa terurai. Maka cukup meresahkan jika tumpukan sampah itu tiap hari kian menumpuk. Seperti bom waktu, ia akan menjadi masalah lingkungan serta merusak biota dalam laut. Akibatnya banyak air tercemar serta banyak benih penyakit yang timbul seperti penyakit malaria.

Parahnya, banyak sampah plastik yang tidak ditindaklanjuti dengan benar sebelum masuk ke pembuangan akhir. Tak heran permasalahan sampah plastik yang cukup krusial ini masuk pada pembahasan Musyawarah Nasional (Munas) Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan pada akhir Februari 2019 lalu. Munas NU pun merekomendasikan keharaman membuang sampah sembarangan.

Sementara itu, menjelang musim kurban di Hari Raya Idul Adha, ribuan sampah plastik bekas bungkus daging kurban tampaknya sebentar lagi akan memberikan sumbangan sampah plastik yang cukup banyak mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam.

Untuk itu, alih-alih menggunakan plastik, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim PBNU mengimbau para penyelenggara pemotongan dan penyaluran hewan kurban agar menggunakan bahan lain yang lebih ramah lingkungan seperti daun pisang, daun jati, atau besek yang terbuat dari anyaman bambu untuk membungkus daging kurban yang akan dibagikan ke masyarakat.

“Kami Imbau para penyelenggara kurban untuk tidak perlu lagi mempergunakan kantong plastik atau kresek sebagai wadah daging, tapi menggunakan kemasan-kemasan yang ramah lingkungan. Jadikan idul adha sebagai satu momen kebangkitan untuk peduli lingkungan,” kata Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI PBNU Fitri Aryani di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (22/7), menjelang Idul Adha, sebagaimana dilansir dari NUOnline.

Memang menggunakan plastik lebih murah. Akan tetapi, sambung Fitri, kontribusi yang dilakukan dengan tidak memakai plastik lebih banyak nilainya untuk investasi ribuan tahun mendatang dan sangat bermanfaat untuk kesehatan di masa depan.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Ketika Abu Hanifah "Meramal" Suksesnya Abu Yusuf

Dengan demikian, Idul Adha tidak hanya sebagai momentum mendakatkan diri kepada Allah melalui ibadah ritual, tetapi juga mendekatkan diri melalui penjagaan terhadap lingkungan, yakni dengan tidak memakai plastik untuk daging kurban.

“Kalau satu saja penyelenggara kurban memiliki pemikiran ramah lingkungan, itu sudah bisa dihitung berapa jumlah sampah plastik yang bisa kita kurangi dalam satu hari itu. Jadi kalau mau bersedekah untuk bumi kita, idul adha itu satu momen yang sangat tepat untuk kita beribadah, untuk kita berinvestasi lingkungan,” jelasnya.

Selain itu, sambungnya, memakai alat seperti daun serta pembungkus tradisional, berarti juga kembali mengangkat kearifan lokal dan menghidupkannya kembali. Lebih dari itu, menggunakan alat-alat lokal lebih dianggap kreatif serta mendorong industri kreatif masyarakat Muslim. Semua alat bungkus tersebut masih banyak dan mudah dicari di kalangan masyarakat.

“Itu kan berarti memanfaatkan tradisi-tradisi lokal yang ada. Kalau misalnya di masyarakat banyak daun jati, ya pakai daun jati, kalau di masyarakat setempat banyak daun pisang, pakai daun pisang. Artinya ini kembali kepada tradisi lokal, kearifan lokal,” tandasnya.


BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

2 KOMENTAR

  1. Yahhh. Saya pengikut setia bincang syariah. Saya rasa lebih bagus kalau ndak bahas bendera organisasi. No Politik Dong

    • Yg baik kita ambil dr mana pun, Muhammadiyah, dan lainnya pun kita publikasikan. Ini yang titik tekannya pada pengurangan penggunaan plastik, gak bicara politik. Sebaiknya Anda tidak fanatik buta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here