Pasutri di Kebumen Menggunakan Sandal Sebagai Mahar, Pernah Terjadi di Masa Nabi

0
210

BincangSyariah.Com – Sebagian orang memandang sebelah mata dengan sepasang sandal. Mungkin karena sering melihat dan harganya yang bermasyarakat. Namun tidak demikian dengan pasutri di Kebumen yang memilih sepasang sandal sebagai mahar pernikahannya. Pernikahan di akhir 2018 tersebut memilih sepasang sandal guna melambangkan janji mereka yang selalu jalan beriringan dalam suka dan duka mahligai rumah tangga.

Lantas bagaimanakah hukumnya dengan fenomena tersebut? Menggunakan sepasang sandal dalam menunaikan kewajiban maharnya. Rupanya kejadian tersebut pernah terjadi pada zaman Rasulullah. Mahar tersebut ada pada pernikahan seorang muslimah dari Bani Fazarah. Muslimah tersebut ditanya langsung oleh Rasulullah, dan jawaban muslimah tersebut membuat kita diam seribu bahasa. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi disebutkan:

عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِى فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ . قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ فَأَجَازَهُ

Dari Amir bin Rabi’ah bahwasanya ada perempuan dari Bani Faza’ah dinikahkan dengan mahar sepasang sandal. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau meridhakan dirimu dan apa yang kau miliki dengan sepasang sandal?” perempuan tersebut menjawab, “ya” Rasulullah pun membolehkannya.

Secara tidak langsung, pernikahan di Kebumen Jawa Tengah tersebut mengingatkan kita bahwa mahar pernikahan yang terbaik adalah yang palimg mudah. Tidak menarget nilai yang tinggi, sehingga calon pria susah menyiapkannya. Hadis nabi tersebut berbunyi:

خَيْرُ الصَّدَاقِ أَيْسَرَهُ

Sebaik-baik mahar adalah yang paling mudah.

Perihal fenomena yang terjadi di Kebumen tersebut, Kepala Kementrian Agama (Kemenag), Imam Thobroni mengungkapkan bahwa Rasulullah memang mengajarkan bahwa mahar itu seyogyanya menggunakan barang atau benda yang berdaya guna atau bermanfaat di masa mendatang. Wallahu A’lam.

Baca Juga :  Punya Salah pada Teman? Ini Empat Tahapan Cara Memohon Maaf

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here