Pasien Covid-19 Mengalami Koma, Wajibkah Shalat?

0
17

BincangSyariah.Com – Saat ini, update Satgas Covid-19 jumlah Kasus  positif di Indonesia mencapai 1,42 jt orang. Dari jutaan pasien Covid-19 tak sedikit yang sakit hingga mengalami tak sadar diri dan koma. Nah dalam hukum Islam, bagaimana hukum pasien Covid-19 mengalami koma, wajibkah shalat?

Menurut Muhammad bin Idris  Asy-Syafi’i dalam kitab al-Umm mengatakan orang sakit  yang sampai mengalami koma, maka gugur kewajiban shalat padanya. Pasalnya kewajiban shalat diwajibkan bagi orang yang sehat akalnya.

Oleh karena itu, pasien Covid-19 mengalami koma tak diwajibakan untuk melaksanakan shalat. Gugur kewajiban itu karena ia digolongkan orang yang  tak mempunyai akal.  Lebih lanjut, menurut Imam Syafi’i pasien Covid-19 yang mengalami koma pun tak wajib mengqadha shalatnya ketika sudah sadar kelak.

Dalam kitab al Umm Jilid I, halaman 88 Imam Syafi’i berkata;

قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -) : وَإِذَا غُلِبَ الرَّجُلُ عَلَى عَقْلِهِ بِعَارِضِ جِنٍّ أَوْ عَتَهٍ، أَوْ مَرَضٍ مَا كَانَ الْمَرَضُ ارْتَفَعَ عَنْهُ فَرْضُ الصَّلَاةِ مَا كَانَ الْمَرَضُ بِذَهَابِ الْعَقْلِ عَلَيْهِ قَائِمًا؛ لِأَنَّهُ مَنْهِيٌّ عَنْ الصَّلَاةِ حَتَّى يَعْقِلَ مَا يَقُولُ وَهُوَ مِمَّنْ لَا يَعْقِلُ وَمَغْلُوبٌ بِأَمْرٍ لَا ذَنْبَ لَهُ فِيهِ بَلْ يُؤْجَرُ عَلَيْهِ وَيُكَفَّرُ عَنْهُ بِهِ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

Artinya; Apabila seorang terganggu akalnya karena gangguan jin, lemah akal atau sakit, apapun bentuk sakitnya, maka terangkat darinya kewajiban shalat selama ia masih menderita sakit itu. Ia tidak diperintahkan melaksanakan shalat sehinga ia mengatahui apa yang ia katakan. Ia juga termasuk orang yang tidak berakal (sehat), karena orang yang tertutup akalnya sebab sesuatu, tidaklah berdosa, bahkan ia memperoleh kafarat (penutup) bagi dosa-dosanya. Insya Allah.

Pendapat yang sama juga diutarakan oleh Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, dalam kitab Majmu Syarah Muhazzab. Imam Nawai–begitu nama populernya—, menjelaskan bahwa orang yang mengalami sakit hingga tak sadarkan diri maka dicabut kewajiban shalat padanya. Sebab orang yang sakit hingga tak sadar diri termasuk golongan yang tak memenuhi syarat shalat, yakni berakal.

Hal ini berdasarkan hadis Nabi Muhammad ;

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِىِّ حَتَّى يَشِبَّ وَعَنِ الْمَعْتُوهِ حَتَّى يَعْقِلَ

Artinya; Gugur kewajiban seseorang pada tiga hal,  yakni; orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia baligh/dewasa dan orang gila sampai ia berakal (HR. Baihaqi)

Selain gugur kewajiban shalat, orang yang koma juga tak ada kewajiban baginya untuk mengganti (qadha) shalatnya. Imam Nawawi mengatakan sama ada komanya sebentar atau lama, itu tak menjadi persoalan, shalatnya tak wajib diqadha.

Imam Nawawi dalam Majmu Syarah Muhazzab Jilid III, halaman 6 menulis;

مَنْ زَالَ عَقْلُهُ بِسَبَبٍ غَيْرِ مُحَرَّمٍ كَمَنْ جُنَّ أَوْ أُغْمِيَ عَلَيْهِ أَوْ زَالَ عَقْلُهُ بِمَرَضٍ أَوْ بِشُرْبِ دَوَاءٍ لِحَاجَةٍ أَوْ أُكْرِهَ عَلَى شُرْبِ مُسْكِرٍ فَزَالَ عَقْلُهُ فَلَا صَلَاةَ عَلَيْهِ وَإِذَا أَفَاقَ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ بِلَا خِلَافٍ لِلْحَدِيثِ سَوَاءٌ قَلَّ زَمَنُ الْجُنُونِ والاغماء ام كَثُرَ هَذَا مَذْهَبُنَا

Artinya; orang yang hilanag akal disebabkan sesuatu yang tak diharamkan seperti kesurupan jin, atau pingsan, atau hilang akalnya sebab berpenyakit atau hilang akal sbab minum obat karena kebutuhan, atau ia dipaksa minum khamar (miras), maka hilang akalnya, maka tidak ada kewajiban shalat terhadap orang dalam kondisi begini. Pun tak ada kewajiban mengqadha (mengganti) shalat atasnya.  Sama ada gila, pingsan, tak sadarkan diri itu sebentar atau lama, tak ada kewajiban shalat dan qadha baginya.

Dalam Kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah merinci pendapat empat ulama mazhab terkait hukum orang yang tak sadar diri akibat sakit. Menurut Kitab terbitan Ulama Kementrian Wakaf dan Urusan Islam Kuwait ini; Mazhab Syafii dan Maliki berpendapat orang tak sadarkan diri (koma) dan terkena bius tak wajib shalat dan tak ada kewajiban Qadha. Pasalnya, orang yang tak sadarkan diri tersebut bukan termasuk ahli (orang) yang wajib shalat ketika itu.

Pendapat berbeda datang dari mazhab fiqih lain. menurut Mazhab Hanbali, orang yang sakit tak sadarkan diri termasuk keadaan yang mewajibakan shalat. Pasien tersebut pun berkewajiban melaksanakan shalat dan wajib qadha shalat.

Sedangkan menurut  Mazhab Hanafi mengatakan bahwa jika shalat yang luput tidak lebih dari 6 shalat, maka tetap wajib melaksanaka qadha. Namun, jika pingsan itu lebih dari 6 shalat, maka tak wajib qadha baginya.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Jilid XII, halaman 110 tertulis;  

 لا تدارك لما فات من صلاة حال الجنون أو الإغماء عند المالكية والشافعية لعدم الأهلية وقت الوجوب. وعند الحنفية : إن جن أو أغمي عليه خمس صلوات – أو ستا على قول محمد – قضاها , وإن جن أو أغمي عليه أكثر من ذلك فلا قضاء عليه نفيا للحرج .

Artinya; Orang yang tak mengerjakan shalat sebab dalam keadaan gila atau pingsan menurut mazhab Syafi’i dan Maliki bukan termasuk dalam golongan ahli (orang) yang wajib shalat. Dan menurut mazhab Abu Hanifah jika gila dan pingsan luput tidak lebih dari 6 shalat, maka tetap wajib melaksanaka qadha. Namun jika lebih dari lima atau enam waktu shalat, maka tak wajib shalat baginya dan menggugurkan dosa.

Hukum Pasien Tak Sadar Diri Akibat Minum Obat

Kemudian muncul persoalan baru, terkait pasien sakit yang tak sadarkan diri akibat minum obat atau terkena bius untuk operasi, apakah pasien tersebut wajib melaksanakan shalat dan wajib mengqadha shalat?

Menurut Imam Syafi’i pasien yang tak sadarkan diri akibat minum obat atau disuntik bius oleh dokter, termasuk orang yang gugur kewajiban shalatnya. Pasien tersebut pun tak wajib menqadha shalatnya. Pasien tersebut dibebaskan dari kewajibannya. Pasalnya itu termasuk golongan yang tak berakal.

Dalam al Umm, Imam Syafi’i menjelaskan status hukum pasien tak sadarkan diri akibat minum obat bius.

وَهَكَذَا إنْ شَرِبَ دَوَاءً فِيهِ بَعْضُ السَّمُومِ وَإِلَّا غَلَبَ مِنْهُ أَنَّ السَّلَامَةَ تَكُونُ مِنْهُ لَمْ يَكُنْ عَاصِيًا بِشُرْبِهِ

Demikian juga bila ia meminum obat yang mengandung racun, padahal ia menduga obat itu dapat menyehatkannya, ia tidak berdosa karena meminumnya, sebab usaha untuk meminumnya bukan untuk memudharatkan (membahayakan diri) atau menghilangkan fungsi akalnya

Pendapat berbeda diungkapkan oleh Imam Alauddin Al Mardawi seorang ulama Fiqih dari mazhab Hanbali. Dalam kitab  Al-Inshâf fi Ma’rifatir Râjih minal Khilâf mengatakan bahwa seorang pasien yang tak sadarkan diri akibat minum obat atau terkena bius, maka wajib shalat dan wajib pula menqadha shalatnya.

Ia mengatakan orang yang pingsan (tak sadarkan diri) berbeda dengan orang yang gila. Pun konsekuensinya hukumnya pasti berbeda. Orang gila yang sudah lama, maka kewajiban shalatnya gugur dan tak wajib qadha. Orang gila hilang akal sebab alami. Berbeda dengan orang yang tak sadarkan diri akibat obat. Itu ada percampuran atau unsur kesengajaan.

Oleh sebab itu, pasien Covid-19 mengalami Koma, hukumnya menurut Al Mardawi wajib melaksanakan shalat dan diwajibkan  syariat untuk qadha shalat. Namun apabila

Dalam kitab Al-Inshâf fi Ma’rifatir Râjih minal Khilâf Jilid I, halaman 390;

وأما إذا زال عقله بشرب دواء , يعني مباحا , فالصحيح من المذهب : وجوب الصلاة عليه . وعليه جماهير الأصحاب . وقيل : لا تجب عليه.

Artinya; orang yang minum obat (obat yang dibolehkan), maka pendapat yang kuat dalam mazhab kita (Hanbali) wajib hukumnya shalat. Meskipun sebagian ulama lain mengatakan tak wajib shalat sebab hilang kesadaran (hilang akal).

Demikian penjelasan hukum apakah wajib shalat pasien Covid-19 mengalami koma.

(Baca:Bolehkah Pasien Penderita Covid-19 Tidak Shalat?)

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here