Panduan Bermedsos dengan Ilmu Hadis Dasar

0
655

BincangSyariah.Com – Media sosial saat ini sudah menjadi bagian dari kebutuhan primer setiap individu. Tampaknya, orang saat ini sudah tidak bisa hidup tanpa bermedia sosial. Ungakapan tersebut memang jadi hiperbolis, tapi begitulah kira-kira gambaran kehidupan kita yang seolah-olah menjadi tidak ada jika kita tidak hadir di dunia maya yang ada di tangan kita itu.

Aktivitas utama dalam bermedsos adalah menerima dan menyebarkan pesan. Apapun bentuknya. Tampaknya, lisan menjadi berkurang fungsinya, tergantikan oleh jari. Tingkat persebarannya pun jauh lebih cepat dan lebih luas daripada kalau pesan-pesan itu diterima dan disampaikan melalui media lisan semata. Hanya dalam hitungan nol koma sekian detik, pesan tersebut sudah bisa kita pastikan sampai ke ujung dunia sekalipun, persis seperti apa yang kita sampaikan di sini.

Penyamapian materi lewat medsos memang cukup dapat diandalkan akurasinya. Artinya, apa yang kita tulis, begitulah yang sampai kepada penerimanya. Apa yang kita sampaikan, bisa sampai secara utuh kepada penerimanya. Berbeda dengan seandainya pesan itu kita sampaikan secara lisan, boleh jadi saat sampai kepada penerimanya, ia telah mengalami perubahan. Apapun sebabnya.

Meski demikian, medsos juga memiliki kelemahan, terutama dari segi klarifikasi beritanya. Penyampaian secara lisan. Tingkat ketidaksabaran pengguna medsos untuk menyebarkan pesan yang ia terima jauh lebih tinggi daripada ketika pesan itu disebarkan secara lisan-manual. Sehingga, persebaran berita bohong dan berita tidak terklarifikasi jauh lebih cepat, melebihi persebaran ujaran secara manual.

Dalam sejarah periwayatan hadis, butuh waktu tahunan untuk persebaran hadis-hadis palsu. Itu pun, tidak semuanya bermotif pemalsuan atau kesengajaan. Adakalanya bermotif ketidaksengajaan atau ketidakjelian. Namun, sekali lagi tingkat kecepatan dan jangkauan perseberanannya tidak seperti ketika menggunakan medsos. Dengan demikian, pengendalian dan penghentian berita-berita hoaks nan bohong pun berbeda dengan pengendalian dan penghentian persebaran hadis palsu (maudlu’).

Dalam ilmu hadis, hal pertama dan utama yang harus diperhatikan ketika menerima pesan kenabian adalah memastikan apakah benar adanya hadis itu dan apakah benar nisbatnya kepada Nabi? Lalu, muncul empat kategori hadis, yaitu hadis yang (nisbatnya kepada  Nabi adalah) sangat baik atau sahih, hadis yang (nisbatnya kepada Nabi adalah) hasan atau baik, hadis yang (nisbatnya kepada Nabi adalah) dlaif atau lemah, dan hadis yang (nisbatnya kepada Nabi adalah) palsu atau maudlu’.

Begitu pula seharusnya kita memperlakukan pesan-pesan di media sosial. Pesan-pesan itu harus kita pilah-pilah menjadi empat kategori, yaitu pesan yang sahih, pesan yang hasan, pesan yang lemah, dan pesan yang palsu atau hoax.

Baca Juga :  Prof. Dr. K.H. Suryadi, Guru Besar Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Tutup Usia

Dalam ilmu hadis, untuk menentukan kategori hadis tersebut, kita mengenal adanya lima kaidah atau rumus dasar. Sebuah hadis dinyatakan sahih jika sanadnya muttasil alias bersambung dari awal sampai akhir kepada Rasulullah. Kemudian, semua perwiwayatnya adalah orang adil (layak sebagai periwayat). Ia juga harus dlabit (berkompeten). Lalu, riwayatnya itu tidak menyalahi sumber lain yang lebih kuat dan otoritatif (‘adamus-syudzudz). Terakhir, terbebas dari hal-hal yang mencurigakan atau berpotensi merusak kebenarannya (‘adamul ‘illah).

Dalam konteks bermedsos, kita dapat menerapkan rumus pertama ittishal sanad (ketersambungan sanad) dengan cara memastikan kejelasan sumbernya. Siapa sosok yang menyatakan itu. Pertama itu dulu. Misalnya, ketika berita itu dinisbatkan kepada presiden, maka jangan percaya jika berita itu tidak ada di dalam akun resminya.

Atau, jika berita adalah berita resmi negara, maka jangan langsung percaya jika ia tidak muncul dari situs resmi lembaga negara, yang dalam hal ini biasa ditandai dengan alamat domain .go.id. Begitu seterusnya. Jika berita itu dinisbatkan kepada saya, maka jangan percaya jika ia tidak ada di akun saya. Terkait dengan cara dan siapa yang menukil, tentu dalam kontek medsos berbeda dengan cara periwayatan hadis yang berbasis rawi/rijal pada sanad. Sebagai pengganti sanad, maka sudah cukup dengan linklink resmi.

Rumus kedua, dalam konteks bermedsos, keadilan periwayat dapat dilihat dengan cara melihat kesalihannya, keilmuannya di bidang yang ia sampaikan, kecenderungannya kepada ideologi atau mazhab yang dianut, perilakunya di medsos; apakah termasuk yang latah menyebarkan informasi atau tidak, apakah ia sering menyalahi etika dalam bermedia sosial; misalnya, sering menyebarkan gambar-gambar yang tidak senonoh. Ini semua berkenaan dengan keadilan.

Artinya, kita bisa lebih waspada, jika pesan itu disampaikan oleh orang yang kebiasaannya bercanda. Jangan-jangan, berita yang disampaikannya itu adalah hanya candaan semata. Kita juga bisa tidak langsung percaya dengan berita yang berbau politik, jika kita tau bahwa pembawanya adalah orang cenderung pada partai politik tertentu. Dan seterusnya. Seorang ustadz yang salih sekalipun, jika kebiasannya latah dalam bermedos, mudah sharing tanpa saring atau sentimen politik, maka pesannya juga patut diwaspadai kesahihannya.

Baca Juga :  Benarkah Tak Pakai Celana Cingkrang Masuk Neraka? Temukan Jawabannya di Buku Ilmu Matan Hadis

Rumus ketiga, dalam konteks bermedsos adalah kedabitan periwayat. Bagaimana tingkat kompetensinya dalam menyampaikan pesan. Misalnya, ada berita tentang situasi sosial terkini yang terasa janggal. Kita harus memastikan, jangan-jangan yang menyampaikan itu adalah anak kecil. Atau orang yang sudah lanjut usia dan tidak mengikuti perkembangan isu sosial. Atau, orang pedalaman yang baru bisa mengakses informasi, dan seterusnya. Kita juga harus memastikan ketekunan, kejelian, dan kehati-hatiannya dalam menerima, mengolah, dan menyampaikan pesan di media sosial. Jika dia terlalu aktif di media sosial, sehingga segala sesuatu derespon secara reaktif dan emosional, maka dipastikan tingkat kedabitannya rendah, tidak bisa dipercaya.

Rumus keempat, tidak syadz. Broadcast atau berita di medsos dapat dinilai lemah, baik secara nisbat maupun secara kontennya jika bertentangan dengan sumber lain yang lebih otoritatif. Misalnya, ada berita tentang kebijakan pemerintah. Jika link berita tersebut bertentangan dengan link berita yang resmi dari pemerintah atau secara konten juga bertentangan, maka dapat dipastikan berita tersebut mengandung syudzudz.

Itupun jika sumber yang dibandingkan tersebut adalah media terpercaya yang diakui kejeliannya dalam berinformasi. Tetapi jika sumber berita itu tidak jelas sumbernya, misalnya dari akun pribadi, blog pribadi, atau sejenisnya, maka sumber berita tersebut dapat dinyatakan munkar (harus diinkari), lebih parah daripada syadz.

Rumus kelima adalah tidak cacat (ghairu ma‘lul). Sebuah broadcast atau berita di medsos dapat dinilai cacat ketika misalnya ada diksi yang tidak tepat. Diksi yang digunakan, setelah diklarifikasi atau dibandingkan dengan sumber otoritatifnya, ternyata mengandung penyimpangan makna yang mengubah substansi. Bisa juga misalnya, sebuah pemberitaan di media itu berisi asumsi tanpa data. Hanya dugaan-dugaan pribadi penulisnya atau kesimpulan yang tidak disertai dengan data.

Baca Juga :  Mengenal Hadis Masyhur dan Contoh-contohnya

Misalnya, ketika ada sebuah berita yang mengabarkan bahwa seorang ibu mengatakan, “Akibat dari kebijakan sekolah yang melarang siswa beli jajan di luar, sekarang penghasilan saya menjadi turun drastis. Kasihan anak-anak saya, mbak!” Kata ibu Wati lirih. Namun dalam tubuh berita, pernyataan itu tidak ditampilkan, tidak dikutip secara langsung. Lalu penulis berita menyatakan bahwa dirinya diprotes, dikomplain, atau didemo oleh seorang ibu yang biasa jualan di depan sekolah.

Berita ini, meskipun kejadiannya benar adanya, namun cacat pemberitaannya. Seharusnya, dari data yang sayangnya tidak ditampilkan itu, penulis bisa menyatakan bahwa ibu Wati hanya mengeluh, tidak protes atau komplain, karena memang secara datanya, tidak ada indikasi protes atau komplain, apalagi demo. Ini adalah pemberitaan yang berlebihan, alias ma‘lul. Bahkan illat (kecacatan)nya merusak berita yang dibawakannya. Ini juga lemah beritanya. Jangan dipercaya.

Mari, cerdas dalam bermedia sosial!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here