Muhammad Abduh dan Pandangannya Mengenai Esensi Malaikat

1
1724

BincangSyariah.Com – Siapa yang tak mengenal Muhammad Abduh (w. 1905 M)? Seorang pemikir dan pembaharu Islam yang lahir dan besar di Mesir. Sosok yang memiliki pengaruh yang cukup luas di dunia Islam, salah satu penyeru dalam membuka pintu ijtihad, demi menyesuaikan Islam dengan perkembangan zaman. (Baca: Mengulas Terjemah Bahasa Melayu Tafsir Alquran Muhamamd Abduh)

Muhammad Abduh dikenal sebagai tokoh rasionalis. Menurutnya, Islam adalah agama yang rasional, agama yang seirama dengan akal, bahkan agama yang didasari akal. Pemikiran rasional ini menurut Abduh adalah jalan untuk memperoleh iman sejati. Iman tidaklah sempurna, bila tidak didasari akal, iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat, dan akal-lah yang menjadi sumber keyakinan pada Tuhan, ilmu serta kemahakuasaan dan rasul-Nya.

Gagasan-gagasan Abduh membawa dampak yang signifikan bagi pemikiran dunia Islam, yang meliputi penafsiran al-Qur’an, pendidikan, sosial-masyarakat, politik, peradaban dan lainnya.

Salah satu pandangannya yang menarik adalah ketika ia menjelaskan esensi dari Malaikat. Pada umumnya, para ulama mendefinisikan malaikat, sebagaimana yang tertulis di dalam kitab A’lam al-Sunnah al-Mansyurah, dengan:

خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ تَعَالى، خَلَقَهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ نُوْرٍ، مَرْبُوْبُوْنَ مُسَخَّرُوْنَ، عِبَادٌ مَكْرُمْوْنٌ، لَا يَعْصُوْنَ اللهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيفَعْلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ، لَا يُوْصَفُوْنَ بِالذُّكُوْرَةِ وَلَا بِالأُنُوْثَةِ، لَا يَأْكُلُوْنَ وَلَا يَشْرَبُوْنَ، وَلَا يَمَلُّوْنَ وَلَا يَتْعِبُوْنَ وَلَا يَتَنَاكَحُوْنَ.

Salah satu makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya, tunduk, patuh, mulia, dan tidak pernah melanggar perintah Allah, tidak disifati, baik laki-laki maupun perempun, tidak makan-minum, tidak merasa bosan, capek, dan tidak menikah.

Berbeda dengan umumnya ulama, Muhammad Abduh cenderung mengartikan Malaikat dengan 2 hal, sebagaimana yang diuraikan oleh Rasyid Ridha dalam tafsirnya al-Manar ketika menafsirkan Q.S. al-Baqarah [2]: 30 sebagai berikut.

Baca Juga :  Ini Pahala Orang yang Membantu Kesusahan Orang Lain

Hukum-Hukum Alam

Menurut Abduh, tidaklah mustahil dan juga tidak keberatan bagi akal dan agama untuk menyebut Malaikat dengan hukum-hukum alam. Sebab, al-Qur’an sendiri menggambarkan Malaikat salah satunya, seperti pada Q.S. al-Nâzi’at [79]: 5, dengan:

فَالمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

Yang mengatur segala urusan

Ayat ini bagi Abduh dinilai sebagai peranan hukum-hukum alam, sehingga tidak ada salahnya memahami Malaikat, atau dampak dari peranan Malaikat adalah dampak dari hukum-hukum alam.

Nurani Manusia

Abduh juga mengibaratkan Malaikat dengan jiwa manusia yang seringkali menghadapi pergolakan untuk memutuskan suatu pilihan, baik atau buruk. Dorongan untuk memilih yang baik lahir dari peran Malaikat, sedangkan yang buruk dari Setan. Oleh karena itu, menurut Abduh, tidak keliru juga jika Malaikat atau Perannya diistilahkan pula dengan nurani manusia.

Berdasarkan pandangan Abduh di atas, pada dasarnya pemikiran Abduh ini ingin mengajak kita untuk berpikir kreatif dan tidak melulu Taqlid (mengikuti) pandangan lama. Keberaniannya mengemukakan pendapat yang berbeda dengan pendapat para ulama di masa lalu, kembali kepada semangat ajaran al-Qur’an yang integratif, mengembangkan berpikir kritis, rasional, dan komprehensif menyebabkan namanya dikenang dan pengaruhnya dapat dirasakan semua orang. Wallahu A’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here