Pandangan Islam Terhadap Pungutan Liar

3
2171

BincangSyariah.Com – Dalam Islam, model pungutan liar ini disebut dengan al-muksu. Secara bahasa, al-muksu sebenarnya berarti an-naqshu wa az-zhulmu, yang berarti pengurangan dan kezaliman. Istilah al-muksu ini sebenarnya diambil dari pernyataan Nabi saw. dalam sebuah hadis “tidak akan masuk surga shaahibi muksin (pengambil pungutan). Secara istilah, al-muksu digunakan untuk menyebut orang yang melakukan pengambilan uang tertentu dari para pedagang ketika melewati suatu tempat, dengan sebutan al-‘usyur (sepersepuluh). Menurut Sa’d bin Abi Habib dalam al-Qamus al-Fiqhi, kata al-muks atau al-makkaas  digunakan untuk menyebut orang yang menarik uang dari para pedagang yang masuk ke sebuah wilayah. Namun umumnya istilah ini digunakan untuk menyebut tarikan uang yang dilakukan para pembantu sultan (raja/penguasa setempat) secara zalim dari para pedagang.

Di antara dalil diharamkannya menarik al-muks (pungutan) adalah hadis riwayat Abu Dawud dan al-Hakim, Rasulullah saw. bersabda.

لا يدخل الجنة صاحب مكس

Tidak akan masuk surga orang yang melakukan pungutan

Beberapa ulama kontemporer seperti Syaikh Wahbah al-Zuhaili menggunakan istilah muks untuk membicarakan persoalan dhariibah (pajak). Tapi saya tidak akan membahasnya ke arah sana. Pertanyaannya adalah pungutan seperti apa yang dimaksud di dalam kata al-muks tadi?

Jika melihat definisi yang disampaikan oleh Sa’d bin Abi Habib, maka yang dimaksud adalah pungutan liar, di luar dari yang ditetapkan oleh syariat atau pemerintah setempat yang resmi. Memang, dalam persoalan pajak, pandangan para ulama di antaranya – seperti mengutip dari laman fatwa.islamweb.net – mengatakan kalau pajak boleh ditarik baik dari para pedagang ataupun orang-orang mampu (kaya) ketika negara tidak mampu untuk mewujudkan fasilitas untuk kemaslahatan umum kecuali dengan pajak tersebut. Yang dimaksud fasilitas umum di antaranya adalah sekolah, rumah sakit, atau jalan. Ketika kondisi ini terjadi, maka masyarakat menjadi wajib membayar kewajibannya itu

Baca Juga :  Neno Warisman Serukan Takbir di Luar Hari Raya, Bagaimana Hukumnya?

Al-Muks atau pungutan ini juga diperbolehkan terjadi dalam kasus beberapa pedagang berjualan di suatu tempat yang mana tempat tersebut bukan miliknya sendiri. Maka, ketika pemilik tempat tersebut ingin melakukan – katakanlah – uang sewa bagi para pedagang, maka itu diperbolehkan selama masih dalam batas kewajaran. Statusnya mirip dengan uang sewa Wallahu A’lam.

3 KOMENTAR

  1. Assalamuallaikum
    Mau tanya saya kerja di sebuah pt yg memberi peraturan tidak boleh meminta/menerima uang dri konsumen
    Saya sebagai parkir mobil dsna(kita dibiarkan meminta/menerima uang dri konsumen)untuk menutupi gaji yg kecil dri pt tersebut
    Nah uang yg diterima/meminta itu termaksud pungli apa tidak ya(minta penjelasan ya)
    Mkasih atas jwaban n waktu ya

  2. Sy mau bertany, saat pandemi seperti ini, banyak org2 yg dpt bansos dr pemerintah, sprti beras dn sembako. Ttpi si pengantar meminta uang 20 rb rupiah kpd si penerima. Apakh itu termasuk pungli?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here