Terkait Temuan “Obat” Covid-19 Ustadz Adi Hidayat, Ini Pandangan Ibnu Khaldun tentang Pengobatan ala Nabi

0
139

BincangSyariah.Com – Menarik sekali pemaparan yang disampaikan oleh Ustadz Adi Hidayat tentang cara-cara menangani Covid-19 berdasarkan al-Quran dan hadis. Ustadz yang cerdas ini dengan lugas menegaskan bahwa dalam al-Quran dan Hadis ada cara-cara penanganan pasien Covid 19 seperti PSBB, lockdown berikut dengan ‘obat’-nya yang manjur. UAH memang tidak menyebutkan jenis obatnya ini secara pasti tapi kata beliau sebut saja ini pengobatan ala Nabi atau at-Tibb an-Nabawi. Dalam ceramahnya tersebut, UAH lebih prefer menggunakan bahasa yang lebih keren, prophetic healing.

Di akhir paparannya, ada satu pernyataan yang cukup menarik dan inspiratif. “Saya tidak akan mengambil manfaat apapun dari ini melainkan karena kecintaan kami kepada Indonesia. Hanya satu saja, sebutkan bahwa referensinya dari Hadis Nabi,” kata UAH.

Dalam pernyataan ini, dan juga konteks pembicaraan sebelumnya, UAH menegaskan bahwa dalam al-Quran dan Hadis terdapat pertunjuk untuk semua urusan manusia. Tinggal yang menjadi persoalan ialah maukah kita menggali dan menelitinya. Pandangan seperti ini seolah mengisyaratkan bahwa semua masalah dan solusinya ada dapat kita temukan dalam al-Quran dan Hadis. (Baca: Al Harits bin Kaldah: Tabib di Masa Nabi yang Diliputi Kontroversi)

Mungkin kita akan bertanya-tanya, benarkah ada petunjuk pengobatan ala Nabi terkait Covid-19 ini dalam al-Quran dan Hadis? Bagaimana jadinya jika pengobatan ala Nabi ini tidak manjur, apakah dengan sendirinya al-Quran dan Hadis tidak bisa menjadi petunjuk bagi pengobatan si pasien? Karena soal yang sepele saja seperti pengobatan, al-Quran dan Hadis tidak bisa menjadi petunjuk, apalagi persoalan-persoalan yang lebih besar?

Mungkin pembaca yang budiman akan menjawab, bahwa kitanya yang tidak bisa membaca petunjuknya, jadi kita tersesat, bukan Al-Quran dan hadisnya. Namun terhadap pandangan seperti ini pun, masih tersisa pertanyaan lagi: bukankah petunjuk itu seharusnya memberi petunjuk yang tidak menyisakan kesalahpahaman bagi orang yang meminta petunjuk? Kalau memang petunjuk itu tidak bisa menjelaskan dirinya sehingga mudah dipahami, lalu apakah itu disebut petunjuk?

Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, saya bingung untuk menjawabnya kalau saya gunakan kerangka pikir UAH, kerangka pikir yang serba mengembalikan solusi semua persoalan kepada al-Quran dan Hadis Nabi. Tapi di sini saya juga bukan kapasitasnya mengkritik pandangan Ustadz yang sangat cerdas dan memiliki hafalan yang cukup kuat dan pengikutnya cukup banyak. Bukan kapasitas saya juga untuk mengkritik teman-teman yang ingin mencari semua solusi persoalan dalam al-Quran dan as-Sunnah.

Baca Juga :  Delapan Tips dari Imam Ghazali Agar Mudah Bangun Malam

Ala kulli hal, saya hanya ingin mengemukakan pandangan yang dipegang oleh Ibnu Khaldun untuk teman-teman yang merasa bahwa semua solusi untuk persoalan-persoalan di dunia bisa dicarikan dalam al-Quran dan Hadis, termasuk pandangan Ibnu Khaldun tentang pengobatan ala Nabi.

Ibnu Khaldun mengklasifikasi pengetahuan menjadi tiga: pengetahuan yang berasal dari dan melalui akal, pengetahuan yang berasal dari dan melalui wahyu dan pengetahuan yang berasal dari dan melalui jiwa. Jadi akal, wahyu dan jiwa masing-masingnya bisa dijadikan sebagai sumber sekaligus perangkat pengetahuan dengan batasan masing-masing. Akal hanya mampu memahami yang dapat tercerap secara inderawi. Artinya kalau digunakan untuk memahami realitas supranatural, akal tidak mampu menjangkaunya.

Jiwa sebenarnya mampu menembus realitas supranatural dan pengetahuan berbasis jiwa ini ada dua: pengetahuan wahyu dan pengetahuan mistis. Melalui olah jiwa, seseorang akan sampai pada pengetahuan mistis/batini. Dia bisa melihat alam ruh dan ini bisa dilakukan oleh kaum sufi. Dalam bahasa sufi, ini disebut pengetahuan kasyaf.

Hanya saja meski dapat menembus alam ruhani, seorang sufi tidak bisa membahasakan entitas-entitas yang dilihatnya di alam ruhani tersebut. Mungkin karena beda alam, bahasa yang alam inderawi ini tidak bisa menampung pengalaman sufi di alam ruhani. Dan ketika terpaksa dibahasakan, seorang sufi seringnya menggunakan metafora-metafora, dan kata Ibnu Khaldun pengalaman sufi yang dapat menembus alam ruhani sangatlah subjektif dan tidak bisa diartikulasikan ke dalam alam riil.

Sedangkan pengetahuan jenis wahyu menurut Ibnu Khaldun hanya dimiliki oleh para nabi dan rasul. Pengetahuan jenis wahyu merupakan pengetahuan yang paling valid daripada dua pengetahuan yang dihasilkan dari olah nalar dan olah jiwa. Hanya saja, pengetahuan berbasis wahyu meski posisinya lebih tinggi di atas nalar dan jiwa namun scope-nya tidak mencakup detil-detil kehidupan. Ruang lingkup pengetahuan wahyu sangatlah sempit dan tidak menjangkau kemana-mana.

Baca Juga :  Membincang Hadis Keutamaan Hijrah

Bahkan pengetahuan berbasis wahyu hanya menjangkau satu aspek saja, yakni aspek alam non-inderawi (seperti akhirat, surga dan neraka) dan semua hal yang berkenaan dengan beban-beban syariat seperti shalat, puasa, zakat dan seterusnya.

Dengan kata-kata lain, menurut Ibnu Khaldun, persoalan-persoalan dunia termasuk di antaranya ialah persoalan kemasyarakatan dan pemerintahan, persoalan matapencaharian dan seterusnya bukan merupakan ruang lingkup wahyu.

Jadi kata Ibnu Khaldun, kalau ingin memecahkan persoalan-persoalan politik, social, budaya, kedokteran dan seterusnya, kita harus serahkan pemecahannya kepada rasio atau akal sebab persoalan-persoalan ini ialah persoalan alam inderawi yang merupakan jangkauannya akal. Pertanyaannya bagaimana dengan pengobatan ala Nabi alias at-Tibb an-Nabawi?

Ibnu Khaldun menjawab:

فإنه صلى الله عليه وسلم إنما بعث ليعلمنا الشرائع، ولم يبعث لتعريف الطب ولا غيره من العاديات؛ وقد وقع له في شأن تلقيح النخل ما وقع، فقال: (أنتم أعلم بأمور دنياكم)”.

“Nabi diutus hanya untuk mengajarkan ajaran-ajaran agama, bukan mengajarkan ilmu kedokteran atau ilmu-ilmu lainnya yang masuk ke dalam ranah kebudayaan. Ketika anjuran untuk mengawinkan kurma tidak berhasil, Nabi malah berpesan: ‘Kalian lebih tahu urusan dunia kalian.’”

Melalui hadis ini, Ibnu Khaldun seolah menegaskan bahwa semua persoalan kehidupan tidak mesti dicarikan solusinya kepada al-Quran dan Hadis. Anjuran Nabi untuk mengawinkan kurma yang malah tidak berhasil itu malah menegaskan pandangan demikian.

Lebih jauh, Ibnu Khaldun mencontohkan kasus pengobatan ala nabi meski hadis-hadis tentang pengobatan ini tergolong sahih dan dapat kita temukan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Kata Ibnu Khaldun hadis-hadis tentang ini tidak masuk ke kategori agama, tapi lebih ke ranah kebudayaan:

والطب المنقول في الشرعيات من هذا القبيل، وليس من الوحي في شيء، وإنما هو أمر كان عاديًا للعرب؛ ووقع في ذكر أحوال النبي صلى الله عليه وسلم من نوع ذكر أحواله التي هي عادة وجبلة، لا من جهة أن ذلك مشروع على ذلك النحو من العمل

Baca Juga :  Ayat-Ayat Al-Quran Tentang Literasi Finansial

“Dalam hal ini, pengobatan yang diajarkan nabi dalam hadis-hadis sahih tidak ada kaitannya sama sekali dengan wahyu hanyalah pengobatan yang diadopsi dari kebudayaan Arab. Tak lebih. Bahkan banyak hal yang kita lihat berasal dari nabi, namun, sebenarnya, tidak semuanya dikategorikan sebagai ajaran agama, melainkan hanya adat-istiadat orang Arab saja yang sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama.”

Pandangan Ibnu Khaldun tentang pengobatan ala Nabi ini muncul dari hasil pengamatannya terhadap tingkat kebudayaan Arab di era kenabian dan di era khilafah yang masih jauh dari peradaban. Jangankan masalah pengobatan, dalam masalah tradisi literasi atau baca tulis saja, para sahabat nabi masih banyak yang buta huruf.

Sepintar-pintarnya menulis di era ini, masih saja banyak tulisan yang keliru. Ibnu Khaldun mencontohkan tradisi penulisan mushaf di masa Utsman bin Affan yang katanya banyak menyalahi aturan penulisan yang dikenal di dalam masyarakat Arab Himyar Yaman, masyarakat yang sudah terlebih dahulu mengenal peradaban daripada masyarakat Makkah dan Madinah.

Atas dasar ini, tidak semua aspek kehidupan manusia itu harus diurus oleh agama. Ibnu Khaldun dengan mengambil contoh pengobatan ala Nabi menegaskan demikian:

فلا ينبغي أن يُحمل شيء من الذي وقع من الطب الذي وقع في الأحاديث الصحيحة المنقولة على أنه مشروع، فليس هناك ما يدل عليه

“Oleh sebab itu, janganlah hadis-hadis sahih tentang pengobatan yang berasal dari Nabi SAW ini dipahami sebagai bagian dari ajaran agama. Tidak ada alasan kuat untuk memasukkan pengobatan ke dalam ajaran keagamaan.”

Melalui pandangan ini, bisakah kita sebut pandangan Ibnu Khaldun ini sangat sekuler? Tidak juga. Beliau hanya ingin menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bahasa kerennya, lihat sesuatu itu sesuai dengan logika internalnya.

Artinya, kedokteran ya harus didekati dengan logika kedokteran, bukan logika agama, dan bukan dengan serba mengagamakan hal-hal yang bukan agama. Demikian juga persoalan-persoalan politik, budaya, social dan lain-lain. Itulah pandangan Ibnu Khaldun tentang pengobatan ala Nabi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here