Pandangan Ibnu Arabi Mengenai Keberimanan Fir’aun

1
1904

BincangSyariah.Com – Salah satu ulasan menarik dan mungkin sangat kontroversial dari Ibnu Arabi dalam karyanya yang berjudul Fushush al-Hikam ialah soal keimanan Fir’aun. Melalui pembacaan terhadap kisah Fir’aun dan Musa berdasarkan kepada madzhab tasawwufnya, Ibnu Arabi berpandangan bahwa Fir’aun yang dalam Alquran merupakan simbol dari puncak kekafiran, kesombongan dan pembangkangan sebenarnya ialah sosok raja yang beriman kepada Allah dan sosok hamba yang taat kepada hukum-hukum-Nya.

Untuk memahami pandangan yang kontroversial ini, kita perlu melihat sejenak konstruksi pemikiran Ibnu Arabi tentang hukum ilahi yang baginya terbagi menjadi dua: pertama, hukum semesta yang disebutnya sebagai al-amr at-takwini, al-masyi’ah al-ilahiyyah dan al-a’yan ats-tsabitah; dan kedua, hukum syariat yang disebutnya sebagai al-amr at-taklifi. Hukum semesta menurut Ibnu Arabi ialah kehendak ilahi atau pemeliharaan ilahi sendiri, yakni kondisi alami yang melekat pada komponen-komponen alam semesta sehingga berfungsi sebagaimana semestinya.

Dan karena semua yang ada di alam semesta ini merupakan ciptaan Allah, maka menurut Ibnu Arabi, semua yang kita sebut sebagai kebaikan dan keburukan ialah takdir yang Allah tetapkan di alam raya ini, takdir sebagai sesuatu yang alami. Jadi ketika melakukan keburukan atau kebaikan, kita sebenarnya digerakkan oleh hukum semesta atau kehendak ilahi atau tabiat yang tercipta untuk kita dan alam semesta ini dan mau tidak mau semua makhluk harus tunduk kepada hukum semesta tersebut.

Hukum semesta ini pada tahap selanjutnya disebut Ibnu Arabi sebagai al-a’yan ats-stabitah. Konsep al-a’yan ats-tsabitah merupakan konsep yang sangat sentral sekali dalam pemikiran Ibnu Arabi. Yang dimaksud dengan konsep ini ialah gambaran-gambaran sesuatu dalam lingkup pengetahuan dan ilmu Tuhan sebelum termanifestasikan ke dalam wujud yang konkret.

Baca Juga :  Ini Pembagian Waktu Salat Asar

Hukum semesta atau al-a’yan ats-tsabitah menurut Ibnu Arabi tidak bisa dilekati sifat kebaikan dan keburukan. Kebaikan dan keburukan itu sendiri sebenarnya tidak ada wujud nyatanya di alam semesta ini, dan kata Ibnu Arabi kita tidak bisa melekatkan dua sifat ini kepada onthos atau wujud. Kendati demikian, sesuatu itu bisa dianggap baik dan buruk berangkat dari prinsip lain, yang disebut Ibnu Arabi sebagai al-amr at-taklifi, atau sebut saja hukum syariat.

Lebih jauh lagi, ketika melakukan kejahatan, manusia sebenarnya hanya merespon secara alami tabiat yang digerakkan oleh al-a’yan ats-tsabitah atau hukum semesta. Pada tahap selanjutnya respon atau ketundukan terhadap hukum semesta ini kemudian oleh Ibnu Arabi disebut sebagai qada dan qadar.

Qada menurut Ibnu Arabi ialah ketetapan Allah terhadap semesta ini sebelum ia diciptakan sedangkan qadar merupakan terjadinya ketetapan Allah bagi ciptaannya berdasarkan kepada hukum semesta. Jadi jika dilihat dari perspektif hukum semesta (al-amr at-takwini, al-masyiah al-ilahiyyah, al-a’yan ats-tsabitah), ketika manusia melakukan kejahatan sebenarnya ia tidak sedang melakukan tindak kejahatan karena suatu tindakan disebut kejahatan ketika perspektif hukum syariat yang digunakan.

Secara lebih ringkasnya, tindak kejahatan (asy-syarr) dalam kerangka pemikiran Ibnu Arabi merupakan bentuk ketundukan dan ketaatan terhadap hukum semesta (al-amr at-takwini) yang sekaligus juga bentuk pembangkangan terhadap hukum syariat (al-amr at-taklifi). Dan karena hukum semesta terjadi lebih dulu dibanding hukum syariat, tentu semua ketetapan agama, kata Ibnu Arabi, harus mengikut pada kehendak semesta itu sendiri.

Pandangan Ibnu Arabi ini berimplikasi kepada persoalan lain, yakni soal bahwa manusia (baik yang melakukan kebaikan maupun yang melakukan keburukan) secara keseluruhan sebenarnya berjalan di atas petunjuk dan hidayah ilahi. Hal demikian karena pada dasarnya mereka secara alami tunduk kepada hukum semesta (masyi’ah ilahiyyah) dan itu artinya tunduk kepada Allah. Pandangan Ibnu Arabi ini berimplikasi kepada persoalan yang cukup serius, yakni persoalan mengenai tidak adanya siksaan dan pembalasan bagi yang melakukan kejahatan dan pembangkangan terhadap hukum agama atau moral.

Baca Juga :  Ini Doa Nabi Musa Saat Dizalimi Firaun

Dengan demikian, kemaksiatan – seperti juga ketaatan – merupakan istilah-istilah agama yang dapat dilekatkan kepada semua tindakan manusia. Kendati demikian, bagi Ibnu Arabi maksiat pada hakikatnya tidak berimplikasi kepada siksaan karena rahmat Allah meliputi segala sesuatu.

Berangkat dari kerangka ini, Ibnu Arabi melihat bahwa kekafiran, kesombongan dan pembangkangan yang dilakukan Fir’aun sebenarnya tidak lain merupakan bentuk ketundukan terhadap hukum semesta atau al-amr at-takwini atau kehendak ilahi. Sedangkan di saat yang sama, Fir’aun membangkang dan memilih untuk tidak tunduk kepada hukum syariat atau al-amr at-taklifi. Jadi yang dilakukan Fir’aun dalam pandangan Ibnu Arabi ialah ketaatan dalam bentuk kemaksiatan dan jalan kebenaran dalam bentuk kesesatan.

Untuk mengakhiri artikel ini, ada baiknya kita kutipkan langsung dari kitab Fushus al-Hikam tentang bagaimana Ibnu Arabi menilai Fir’aun:

….وكان قرة عين لفرعون بالإيمان الذي أعطاه الله عند الغرق فقبضه طاهرا مطهرا وليس فيه شيئ من الخبث، لأنه قبضه عند إيمانه قبل أن يكتسب شيئا من الآثام…

“Dan Musa merupakan penyejuk mata bagi Fir’aun karena keimanan yang Allah karuniakan kepadanya ketika ditenggelamkan di tengah lautan. Lalu Allah pun mewafatkan Fir’aun dalam kondisi ruhnya yang suci dan bersih dan tidak berdosa sedikitpun. Hal demikian karena kematian Fir’aun terjadi setelah ia beriman dan pasca beriman ia belum pernah melakukan dosa dan kejahatan.”

Sampai di sini kita melihat Ibnu Arabi telah melangkah lebih jauh dari yang kita bayangkan. Ibnu Arabi menilai Fir’aun sebagai orang beriman.

Pertanyaan yang mungkin muncul berdasarkan kepada al-amr at-takwini dan al-amar at-taklifi yang dikenalkan oleh Ibnu Arabi ini, apakah Iblis juga beriman dan karenanya akan masuk surga sama seperti Fir’aun?



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here