Pandangan Bin Bayyah Terhadap Jargon ‘Mengikuti Sunnah’

0
483

BincangSyariah.Com – Sebagai seorang muslim, tentu menjadi kesenangan untuk mengikuti nabi Muhammad Saw. Karena sebagai umat nabi Muhammad, maka anjuran untuk mengikutinya pun diperintahkan dalam agama Islam. Namun, jargon ‘mengikuti’ sunnah nabi kerap kali ambigu dan tidak jelas. Berikut penulis kutip beberapa pandangan Syekh bin Bayyah, ulama ushul fikih asal Mauritania ini terhadap jargon mengikuti sunnah nabi.

Menurut Syekh bin Bayyah, wakil ulama dunia Islam demi perdamaian ini ada cukup distingsi yang jelas antara ‘adat dan sunnah dalam tradisi kenabian. Hematnya, keduanya merupakan dua hal yang berbeda, namun kerap tumpang tindih penggunaan katanya. Dalam Ilmu ushul fikih, sendiri ada sunnah yang bersifat legal (tasyri’i) dan ada sunnah yang non-tasyri’i. yang pertama merupakan sejumlah ketentuan, ajaran dan hukum yang bersifat mengikat. Contohnya solat lima waktu, ibadah zakat yang itu menjadi sunnah tasyri’iyah.

Adapun yang kedua, sunnah ghair tasyri’iyah itu adalah hal-hal yang bersifat kebiasaan (‘adat) pribadi atau dorongan-dorongan naluri manusia Nabi Muhammad Saw. Naluri ini dikenal dengan istilah jabaliyah (dorongan naluri pribadi, atau ijtihad pribadi rasulullah).

Menurut Syekh Abdullah bin Bayyah, bahwa kedua sunnah ini bisa memiliki motif iqtida’ (anjuran untuk diikuti). Artinya baik sunnah tasyri’iyiah ataupun ghair tasyri’iyiah bisa diikuti dengan kadar-kadar yang bersifat disesuaikan dengan niatnya.

Akan tetapi, kecendrungan para ulama menyatakan bahwa aspek jabaliyah itu bukan merupakan wilyah syariat, artinya tidak berkaitan dengan hukum seperti wajib, sunnah dalam arti berpahala mengikuti dan seterusnya. Ini sebagaimana Bin Bayyyah berpendapat

هذه الأمور بعض العلماء اعتبرها من العادات، وبعض العلماء قال: إن الوصف هو المطلوب فيه الاقتداء، بمعنى أن الطريقة التي وضع بها الإثمد في عينه، أو الطريقة التي أكل بها هي التي تعتبر من الشرع،
ولهذا قال صاحب مراقي السعود في نظم جمع الجوامع:
وفعله المركوز فيه بالجبلة *** كالأكل والشرب فليس ملة

Baca Juga :  Homoseksual dalam Hukum Islam Termasuk Pidana?

Bahwa sebagian ulama menganggap beberapa hal (yang bersumber dari nabi) disebut dengan ádat (kebiasaan). dan sebagian ulama lain mengidentifikasikan sebagai sesuatu yang dianjurkan untuk diikuti. Seperti cara Nabi menggunakan celak untuk mata, atau cara makan dianggap sebagai syariat.

Oleh karenanya pengarang kitab Maraqi al-Su’ud dalam nazham Jam’ al-Jawami’ (salah satu kitab ushul fikih) menggubah syair: dan perbuatan nabi yang didasarkan atas kecendrungan pribadi seperti cara makan, dan minum, maka itu bukanlah bersifat syariat.

Para ulama berbeda pendapat apakah keseluruhan perbuatan nabi merupakan bersifat ibadah atau hanya kebiasaan pribadi semata? Mayoritas para ulama mengatakan bahwa perbuatan-perbuatan nabi yang bersifat jabaliyah jika diniatkan untuk mengikutinya secara keseluruhan, maka itu bersifat anjuran agar diikuti oleh umat Islam. Seperti jika Nabi menggunakan celak, maka itu hanya anjuran (mustahabb) agar orang lain yang ingin bercelak mengikuti sesuai dengan apa yang dilakukan Nabi.

Bahkan ada beberapa ulama yang berbeda pendapat dalam mengikuti sebagian sunnah Nabi. apakah itu bersifat ibadah (anjuran) atau hanya sebatas kebiasaan nabi? Untuk ini kita bisa ambil contoh sunnah berbaringnya Nabi ketika berada di antara sholat sunnah witir dan shalat subuh. Kebiasaan berbaringnya nabi ini direkam dalam Shahih al-Bukhar dan Muslim yang diriwayatkan Aisyah Ra. Para ulama merespons ibadah Nabi ini dengan cara beragam. Imam Abu Hanifah berpendapat itu adalah kebiasaan Nabi sebagaiman Imam Malik mengatakan itu sebagai kebiasaan personal Nabi. Sedangkan Imam Ahmad mengatakan itu anjuran (mustahabb). Menurut bin Bayyah, tidak berdosa orang yang tidak mengikuti sunnah seperti ini.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa tidak semua yang bersifat sunnah nabi merupakan bersifat syariat atau berketentuan hukum. Bahkan dalam hal yang bersifat ubudiah sekalipun, para ulama berbeda pendapat dalam merespons beberapa kebiasaan ibadah nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Wallahu A’lam bi al-Showwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here