Pakar: Jilbab Sebagai Simbol Perlawanan Pada Masa Orde Baru

0
63

BincangSyariah.ComPerempuan sering jadi komoditas, tubuhnya tak pernah merdeka dari kekuasaan, baik yang bersifat patriarkis sampai kapitalistis. Apa yang melekat pada perempuan acapkali wujud nilai yang berlaku di tengah masyarakat, salah satunya pakaian. Bagaimana hubungan pakaian perempuan, mode dan kekuasaan di Indonesia?

Kalimat tersebut adalah pemantik dari Dialog Sejarah bersama Charley Sullivan, sejarawan University of Michigan, Tunggal Pawestri, aktivis gerakan perempuan dan Neng Dara Afiah, sosiolog UIN Syarif Hidayatullah di Historia.id pada 8 September 2020.

Disertasi Charley yang berjudul Years of Dressing Dangerously mengulas tentang baju perempuan Indonesia dalam kurun waktu 1945-1966 yang dikaitkan dengan persoalan modernitas dan identitas nasional.

Penelitian dimulai dari Tahun-tahun “Busarane Periscoloso” ada rumusan kepribadian nasional dan krisis moral terjadi selama masa Soekarno. Saat itu, posisi kaum perempuan dianggap sebagai ibu bangsa.

Soekarno berpidato ke Kowani pada 24 Juli 1964: “…kalau saja melihat wanita-wanita berkumpul dengan baju kebajanja jang pantjawarna atau aneka-warna, melihat kain batiknja jang bagus-bagus, melihat mukanja jang berseri-seri, melihat sinar matanja jang laksana sinar bintang di langit jang abadi, pada waktu itu saja berkata, saja mempunyai perasaan bahwa saja ini berdjoang dalam taman-sari jang indah…melihat sana ada warna biru, sana malahan melihat ada lukisan bunga Kartini. … saja amat…bergembira..bahwa Kongres Wanita Indonesia djuga akan aktif sekali dalam memberantas imperialism kulturil. Ia rambut sasak, rambut beetle, ja sponrok-sponrokan, ja twist-twist-an, ja rock-and-roll-rock-and-roll-an, ja Elvys Presley-an, ja Not King Cole Not Kong Cole-an, matjam-matjam, Saudara-saudaraku. Tetapi teruta,a sekali kita harus waspada tehadap kepada intervensi dan subversi politik. Waspadalah, waspadalah!”

Dalam posisi Soekarno berpidato tersebut, zaman sudah sedikit gila, tapi Soekarno memulai pidatonya dengan pujian. Gambaran pertama menyatakan bahwa perempuan sebagai sesuatu yang cantik dan selanjutnya menjaid berbahaya sebagai ancaman karena kondisi politik pada saat itu.

Baca Juga :  Hukum Shalat di Hadapan Perempuan

Ada dua pertanyaan kunci dalam riset Charley. Pertama, “artinya apa makna menjadi “bangsa Indonesia” dan “modern” di era pasca-colonial?” Kedua, “Apa yang bisa kita tahu dari suara-suara kaum Perempuan tentang hal ini yang snetral dalam sejarah Indonesia?” Pertanyaan tersebut tidak hanya ada di Indonesia tapi juga di seluruh dunia.

Pada masa revolusi Indonesia, orang yang kulitnya tidak putih tidak akan setara dengan para kulit putih. Lantas, bagaimana caranya bisa merdeka dan menjadi modern tanpa perlu menjadi kulit putih? Berikut adalah peran pakaian perempuan dalam permasalahan tersebut:

  1. Pakaian atau mode punya sejarah sendiri. Kebaya sejak zaman Kartini hingga sekarang kainnya sama akan tetapi mengalami perkembangan.
  2. Kalau bicara tentang mode, bukan hanya tentang busana dan make up, tetapi tentang keadaan yang lebih umum.
  3. Sejarah mode bukan hanya menjadi tentang pilihan perempuan-perempuan sendirian, tetapi tentang makna sosial atau social meaning lebih umumnya dan tentang posisi dan tingkat sosial kaum perempuan sebagai kaum yang memiliki peran untuk negara.

Pada 1955, sejarah mode berkembang, batik sebagai modernitas, kebangsaan kultural dan sumber berkembangnya ekonomi nasional. Pajamas dan gaun terbuat dari batik. Batik menjadi simbol nasional kepada dunia.

Konferensi di Bandung “Batik Show” memamerkan pakaian asli Indonesia dan gaun-gaun yang dibuat dari bahan asli. Ada perbedaan pendapat dari Luar Jawa apakah pakaian yang dipakai pantas atau tidak. Ada ketegangan antara grup-grup perempuan.

Ada kutipan penting dalam disertasi Charley Sullivan sebagai berikut: “…dalam soal pakaian, ini soal-soal sedjarah, kebudajaan, ekonomi, politik dan kesenian.” (Prija Chandra, “Pakaian Wanita Kita” Wanita, 1955, No.6, 20 Maret, hal. 154-155.

Pada saat itu, para perempuan mulai memakai istilah ide lahir dan batin. Kalau bathinnya rusak dan lahirnya cantik sekali maka sebenarnya rusak. Kaum perempuan harus dimurnikan jiwa dan raganya bukan hanya untuk menjaga kehormatan keluarga tapi juga negara.

Baca Juga :  Telaah Hadis; Cinta Itu Membuatmu Buta dan Tuli

Ada anggapan bahwa hanya perempuan yang sehat lahir batinnya juga bisa melahirkan bangsa yang sehat pula. Ekses datang dari luar yakni Hollywood yang tidak berkepribadian Indonesia. Kesimpulan dari disertasi Charley adalah perempuan dari zaman ke zaman dirumuskan seperti apa sesuai dengan apa yang menjadi tujuan nasional.

Tunggal Pawestri, narasumber kedua menyatakan pendapatnya. Ia menjelaskan bahwa disertasi Charlie mengukuhkan fakta bahwa perempuan Indonesia mempunyai peran sentral dalam membentuk identitas atau kepribadian bangsa. Orde Baru mereformasi ibu negara, ibu bangsa setelah tahun 1965.

Perempuan terlibat dalam revolusi Indonesia dan berkontribusi membangun identitas Indonesia melalui kebaya dan konfrontasi melihat Barat sebagai musuh memalui pakaian karena mau mendukung revolusi.

Saat jilbab dilarang di masa Orde Baru, banyak perempuan yang justru menjadikan jilbab sebagai perlawanan. Masa reformasi, masih ada kasus pengaturan pakaian perempuan di Perda Diskriminatif. Saat ini, ada gerakan menutup aurat yang mempunyai followers 150ribuan. Gerakan Indonesia Berkebaya.

Pada masa revolusi, pakaian perempuan dikenakan untuk revolusi. Saat ini, pakaian perempuan menjadi simbol keagamaan. Tidak ada lagi embel-embel revolusioner. Perempuan setelah 65, ditarik kembali ke ranah domestik.

Neng Dara Affiah sebagai narasumber ketiga menceritakan pengalaannya berhadapan dengan sejarah jilbab di Indonesia. Ia bercerita bahwa pakaian utama dalam lingkungan santri adalah kebaya pada tahum 1970an.

Kebaya masih menjadi identitas nasional pakaian perempuan Indonesia dalam lingkungan santri, memakai kerudung tapi transparan dan keluhatan rambutnya di mana rambutnya harus panjang sebagai pribumi sebab rambut pendek adalah kolonial.

Perempuan berjilbab di Indonesia adalah pengaruh revolusi Iran dan sebagai upaya melawan atau protes terhadap konstruksi tentang perempuan Indonesia yang menunjukkan identitas kebangsaan dengan kebaya.

Baca Juga :  Hukum Memakai Pakaian Serba Hitam Saat Upacara Pemakaman

Jilbab sebagai identitas keagamaan dan situasi politik Islam pada saat itu. Perbedaan santri, abangan, priyayi sudah sangat sumir sekali. Ada dinamika sosial yang tidak stagnan, statis, pakaian perempuan berhubungan dengan identitas bangsa.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here