Bolehkah Orangtua Mengambil Harta Anaknya?

6
1998

BincangSyariah.Com – Dalam sebuah pengajian terdapat seorang ustadz yang menjelaskan kebolehan orangtua mengambil harta anak meskipun tanpa izin dari anaknya. Dijelaskan bahwa sebab kebolehan ini adalah karena anak dan hartanya adalah milik orang taunya. Benarkah orang tua boleh mengambil harta anaknya meskipun tanpa izin dari anaknya? (Tiga Amal yang Pahalanya Tetap Mengalir Setelah Meninggal)

Para ulama berbeda pendapat terkait kebolehan orang tua mengambil harta anak tanpa izin dari anaknya. Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Syafii, orang tua tidak boleh mengambil harta anaknya tanpa izin kecuali orang tua sangat membutuhkan harta tersebut dan mengambil sesuai kebutuhannya. Jika tidak butuh atau mengambil melebihi kebutuhannya, maka hukumnya tidak diperbolehkan.

Sementara Ibnu Qudamah dan kebanyakan ulama Hanafiyah mengatakan bahwa orang tua boleh mengambil harta anaknya secara mutlak, baik sangat membutuhkan atau tidak, anaknya masih kecil atau sudah besar. Namun demikian, kebolehan ini harus memenuhi dua syarat. Pertama, tidak memusnahkan harta dan tidak memudaratkan anak, juga bukan mengambil yang jadi kebutuhan penting anaknya. Kedua, tidak boleh mengambil harta tersebut dengan tujuan untuk memberikan pada yang lain.

Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni berikut;

للأب أن يأخذ من مال ولده ما شاء، ويتملكه مع حاجة الأب إلى ما يأخذه، ومع عدمها، صغيراً كان الولد أو كبيراً، بشرطين:أحدهما: أن لا يجحف بالابن، ولا يضر به، ولا يأخذ شيئاً تعلقت به حاجته.الثاني: أن لا يأخذ من مال ولد فيعطيه الآخر. وقال أبو حنيفة ومالك والشافعي : ليس له أن يأخذ من مال ولده إلا بقدر حاجته

Boleh bagi bapak mengambil harta anaknya semaunya lalu ia miliki, baik dia membutuhkan atau tidak, anaknya masih kecil atau sudah besar. Namun kebolehan bapak mengambil harta anaknya asalkan memenuhi dua syarat.

Pertama tidak memusnahkan harta dan tidak memudaratkan anak, juga bukan mengambil yang jadi kebutuhan penting anaknya.

Kedua, tidak boleh mengambil harta tersebut dengan tujuan untuk memberikan pada yang lain. Imam Abu Hanifah, Malik dan Syafii berkata; Bapak tidak boleh mengambil harta anaknya kecuali sesuai dengan kebutuhannya.

100%

6 KOMENTAR

  1. Boleh asal ada persetujuan dari pihak anak & diwajibkan krn pertama kali yg membuat anak itu di besar kan dr hasil keringat ortu y itu sendiri.

  2. Sya mw tnya apa hukumnya orgtua yg lupa dgn anknya dan hanya meminta hartanya,.orgtua sya g pernah tnya gmn kabar dan pekerjaan saya,sdgkan sya sdh beberapa kali berusaha memenuhi kebutuha beliau,mskipun msh bnyk krgnya,.gmn y hukum dlm islam,dan bahkan sya d fitnah dgn tuduhan lupa dgn orgtua itu d smpaikan k sdr2 saya sehingga saya d tuduh sbgai ank yg lupa dgn orgtuanya,pdhl sya sdh berusaha utk itu..sya smbil menangis menulis ini..mhn pencerahannya..terimakasih..

  3. Sy adalah ibu dgn anak 5, sy ingin bertanya.. Apa yg harus sy lakukan jika rmh sy yg di tempati ibu sy tdk boleh di jual, sdngkn sy dgn suami dan anak sy mengontrak.. Utk biaya anak dan utk kehdpan sehari” saja kami masih suka kesulitan . Apakah sy berdosa jika sy ingin menjual rmh sy krn sy butuh beli rmh utk tempat tinggal keluarga sy, terutama utk anak” sy. Sy sdh bbrp kali membicarakan mengapa di jual, tp sy selalu dihadang dan lawan oleh kaka dan adik” sy, yg pnya rmh bkn cm sy tp kaka sy dan adik pun pmya, malah kaka sy laki” dan hdp dgn perekonomian yg jauh lebih baik dr sy. Mohon pencerahan nya, apa yg hrs sy lakukan..
    Note: rmh sy, murni rmh sendiri bkn hasil warisan atau uang bersama keluarga.. Murni punya sy

  4. Saya sebagai anak hanya dianggap pohon uang ..walau ibu punya aset banyak.ydk satupin dibagikan utk warisan ketika Bapak berpulang.malah terkadang ibu meminta buat kebutuhan foya..seperti ke cafe.shooping …ibu tdk pernah menanyakan kabar cucu dan anak2 ya..bahkan memaksa utk membantu saudara2 nya yang susah.padahal.suami saya pensiun dan masih ada anak kecil2 yang sekolah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here