Dua Orang Rakus yang Tidak Kenal Rasa Kenyang

1
1644

BincangSyariah.Com – Seringkali kita melihat seseorang yang berlebihan dalam mencintainya. Kita tidak dilarang untuk mencintai sesuatu, namun jika sampai pada titik rakus, maka yang ada adalah selalu merasa kurang dan tidak cukup. Dalam kitab Al Hikam Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwa ada dua sosok yang rakus adanya, sehingga ia tidak mengenal rasa kenyang dalam hidupnya. Siapakah dia?

منهومان لا يشبعان : طالب علم و طالب دنيا

Dua orang rakus yang takkan pernah kenyang: pencari ilmu dan pencari dunia

Sosok yang pertama disebutkan adalah para pencari ilmu. Rakus dalam urusan ilmu tidak dilarang dalam Islam, karena rakus tersebut dalam hal positif. Misalnya saja seseorang itu semangat dalam belajar dan tidak puas dengan pengetahuan yang ia dapatkan sehingga ia akan terus mencari tau hal-hal yang baru, sehingga pengetahuan dan wawasannyapun semakin bertambah dan semakin banyak.

Bersungguh-sunggu dan terus merasa haus akan ilmu merupakan suatu sikapyang mencerminkan dirinya berlomba-lomba dalam kebaikan. Lelah dan bosan tentu menghiasai, namun semangat untuk terus menambah ilmu lebih bergelora dibandingkan lelah dan bosan tersebut. diceritakan dalam Siyar A’lam An-Nubala bahwa Abdullan bin Mubarak menunjukkan keheranan, bagaimana mungkin seseorang jiwanya baik jika tidak mau menuntut ilmu dan menghadiri majelis ilmu. Beliau berkata,

عجبت لمن لم يطلب العلم, كيف تدعو نفسه إلى مكرمة

Aku heran dengan mereka yang tidak menuntut ilmu, bagaimana mungkin jiwanya bisa mengajak kepada kebaikan.”?

Sosok yang kedua adalah para pencari dunia. Rakus terhadap dunia ini merupakan penyakit hati yang sangat membahayakan kehidupan manusia. sikap rakus terhadap dunia mengahapus mata untuk melihat halal dan haramnya. Rakus inilah yang bisa menyebabkan timbulnya sifat dengki, permusuhan, perbuatan keji, dusta, curang, dan bisa menjauhkan pelakunya dari ketaatan, dan lain-lain. Rasulallah pernah mengabarkan bahwa sifat tamak tidak pernah mengenal kata puas sekalipun telah diberikan kepada satu sampai dua lembah emas. Dalam hadis-Nya disebutkan:

Baca Juga :  Membendung Gerakan Pembidahan ala Salafi dengan Konsep Mizan Kubra

رَوَي اْلبُخَارِيُّ عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِي خُطْبَتِهِ يَقُولُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِيَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ أُعْطِيَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu al-Zubair tatkala di atas mimbar di Mekah dalam khubtahnya, beliau berkata; Wahai manusia sekalian, Sesungguhnya Nabi S.A.W. pernah bersabda, “Seandainya anak keturunan Adam diberi satu lembah penuh dengan emas niscaya dia masih akan menginginkan yang kedua. Jika diberi lembah emas yang kedua maka dia menginginkan lembah emas ketiga. Tidak akan pernah menyumbat rongga anak Adam selain tanah, dan Allah menerima taubat bagi siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Al-Bukhari)

Keterangan tersebut menunjukan bagaimana rakusnya manusia terhadap dunia yang tidak menganal rasa puas. Hadis ini juga mengandung makna celaan bagi orang yang rakus terhadap harta dunia. Kecintaan terhadap harta dunia bisa membuat seseorang terlena dari perjalanan hidup yang abadi di akhirat. Semangat mengumpulkan harta bisa menjadi sebab lalai dari ketaatan kepada Allah, sebab hati terus menjadi sibuk dengan dunia daripada akhirat.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here