Orang Sakit Memaksakan Diri Puasa Ramadhan, Bolehkah?

2
11

BincangSyariah.Com-  Puasa Ramadhan merupakan kewajiban. Puasa marupakan bagian dari rukun Islam. Meski demikian, hukum Islam memberikan keringanan bagi orang sakit parah, ia boleh tak berpuasa pada bulan Ramadhan. Namun, ada juga beberapa orang yang meski sakit para memaksakan untuk berpuasa. Nah dalam fiqih, orang sakit memaksakan diri puasa Ramadhan, bolehkah?

Ada pun orang yang sakit tak dianjurkan untuk memaksakan diri puasa Ramadhan. Pasalnya bagi orang yang sakit ada keringanan hukum. Si penderita sakit, boleh tidak puasa Ramadhan. Jika puasa tersebut bisa membawa mudharat baginya.

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim;

ما خُيِّر رسول الله صلى الله عليه وسلم بين أمرين إلَّا أخذ أيسرهما، ما لم يكن إثمًا، فإن كان إثمًا كان أبعد النَّاس منه، وما انتقم رسول الله صلى الله عليه وسلم لنفسه، إلا أن تُنتَهك حُرْمَة الله فينتقم لله بها

Rasulullah tidaklah dihadapkan pada pilihan terhadap dua perkara, melainkan ia pilih yang paling mudah diantara keduanya. Selama itu bukan sebuah dosa. Namun jika itu adalah sebuah dosa, Rasulullah Saw. adalah orang yang paling jauh dari hal tersebut. Dan Rasulullah tidak pernah murka kepada siapapun secara pribadi, kecuali ada prinsip-prinsip agama yang dilanggar sehingga Nabi murka demi tegaknya persoalan itu (prinsip-prinsip) agama.  (HR.Bukhari (6786) dan Muslim (2327).

Dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, karya Imam Nawawi, ia mengatakan sunat hukumnya (lebih dianjurkan) memilih jalan yang paling mudah pada semua urusan, selama itu tidak haram dan juga tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim berkata;

اِسْتِحْبَاب الأَخْذ بِالأَيْسَرِ وَالأَرْفَق مَا لَمْ يَكُنْ حَرَامًا أَوْ مَكْرُوهًا

Artinya; Sunat hukumnya mengambil yang mudah, selama itu tidak haram dan tidak dibenci oleh agama.

Ibn Hajar Al Asqallani dalam kitab Fathul Bari bi Syarh al Shahih Bukhari mengatakan;

إلا أخذ أيسرهما ” أي أسهلهما . وقوله ” ما لم يكن إثما ” أي ما لم يكن الأسهل مقتضيا للإثم فإنه حينئذ يختار الأشد

Artinya: “kecuali mengambil yang paling mudah”, maksudnya yang paling gampang, sesuai dengan Sabda baginda Nabi “selama bukan dosa”, maksudnya selama yang paling mudah itu tidak berimplikasi kepada dosa. Ketika itu merupakan sebuah dosa, maka Rasulullah Saw. memilih langkah yang paling maksimal (untuk menghindarinya).

Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni, Jilid 4, bahwa orang yang terkena penyakit yang berat, kemudian ia berpuasa, maka perbuatannya hukumnya makruh. Pasalnya, ia membuat dirinya tertimpa dalam kemudharatan (kesulitan). Padahal Allah memberikan keringanan berupa bolehnya tak berpuasa bagi orang yang sakit.

Ibn Qudamah al-Mughni, Jilid 4,halaman 404 berkata;

فإن تحمل المريض وصام مع هذا ، فقد فعل مكروهاً ، لما يتضمنه من الإضرار بنفسه ، وتركه تخفيف الله تعالى ، وقبول رخصته

artinya; maka barangsiapa yang terkena penyakit, dan ia pun berpuasa dalam keadaan akit tersebut, maka sesungguhnya ia telah memperbuat sesuatu yang makhruh, karena telah menjatuhkan dirinya dalam kemudharatan, dan ia meninggalkan kemudahan yang diberikan oleh Allah.  Hendaknya ia memilih kemudahan tersebut (tidak berpuasa karena sakit).

Menurut Ulama kontemporer Syekh Ibn Utsaimin, mengatakan bagi orang sakit  pada saat puasa Ramadhan ada tiga hukumnya. Pertama, orang yang sakit, tetapi tak boleh baginya membatalkan puasa. Pasalnya penyakitnya tergolong ringan. Misalnya, sakit kepala yang ringan, nyeri otot, sakit gigi yang ringan, atau flu ringan. Maka bagi orang sakit begini tidak boleh berbuka, ddan wajib puasa.

Syekh Ibn Utsaimin dalam kitab as Syarah al Mumti’ Lil Syaikh Ibn Utsaimin, Jilid VI, halaman  352, beliau  mengatakan;

أما إذا كان لا يتأثّر فإنّه لا يجوز له الفطر ويجب عليه الصوم

Artinya: ada pun jika sakitnya tak sampai membekaskan, maka sesungguhnya tidak boleh ia berbuka/membatalkan puasa, ia wajib puasa.

Kedua, orang sakit berat, apabila ia puasa berat baginya—jika ia puasa, tidak sampai memudharatkan bagi tubuhnya (kesehatannya—, orang dalam keadaan ini (baca: berat puasa, tetapi jika puasa tidak memudharatkan tubuhnya—, maka hukumnya makruh puasa. Kondisi demikian disunatkan untuk memabatalkan puasa.

Syekh Ibn Utsaimin berkata:

فهذا يكره له أن يصوم ، ويُسنّ له أن يُفطر

Artinya: Maka orang dalam kondisi ini (baca: sulit puasa sebab sakit, tetapi jika ia puasa tidak sampai mencelakai tubuhnya), maka makruh baginya pusa. Pasien dalam keadaan begini sunat untuk berbuka dan membatalkan puasanya.

Ketiga, penyakit berat, dan apabila sulit baginya puasa, pun jika ia memaksakan puasa, maka akan menimbulkan mudharat bagi dirinya, maka kondisi begini haram baginya puasa. Seperti orang menderita sakit ginjal dan diabetes.

Kondisi ini akan sangat membahayakan tubuhnya jika ia tetap berpuasa. Jika penderita penyakit tersebut memaksakan untuk puasa Ramadhan, maka akan berakibat fatal bagi kesehatan jiwanya. Bisa jadi itu akan menghilangkan nyawanya. Padahal Allah berfirman dalam Q.S an-Nisa ayat 29;

ولا تقتلوا انفسكم

Artinya: Jangan kamu bunuh diri kamu sendiri.

Inilah dasar hukum haram hukumnya puasa Ramadhan bagi orang yang menderita penyakit besar, seperti ginjal, diabetes, dan penyakit yang menyerupai itu—bisa membawa kepada hilang nyawa, dan penyakitnya tambah fatal—, Ibn Utsaimin berkata;

فالصوم عليه حرام

Artinya: maka puasa atas mereka (orang yang punya penyakit berat) hukumnya haram.

Demikianlah hukum orang sakit memaksakan diri puasa Ramadhan. Semoga bermanfaat.

(Baca:Bolehkah Tidak Berpuasa Bagi Penderita Covid-19?)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

100%

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here