Oleh-Oleh Pelatihan Ilmu Hadis di Jombang: Ibu Nyai dan Pesantren Transformatif

0
1346

BincangSyariah.Com – Saya dan teman-teman saya mungkin bukan yang terbaik di bidangnya. Tingkat pendidikan kami terbilang tak tinggi-tinggi amat. Sedang dan pas-pasan. Tetapi, bukan berarti hal itu menghalangi kami untuk turut terlibat dalam upaya penguatan literasi ilmu hadis di kalangan generasi muda.

Kegiatan pelatihan ilmu hadis telah kami mulai sejak 2013. Dengan bekal ala kadarnya. Tahun 2020 ini genap tujuh tahun. Ketika kegiatan ini diapresiasi banyak pihak, dan tentu diikuti dengan penuh semangat, saya mulai menyadari bahwa kegiatan ini memang bermanfaat bagi orang lain.

Pada tahun ini, aliran kehidupan menuntun saya ke tempat yang luar biasa ini. Saya belajar tentang banyak hal ketika datang ke Pondok Pesantren Assa’idiyyah 2 Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. Di bawah asuhan Abah Hasan dan Bu Nyai Umdah.

Dengan keramahan dan kerendahan hati, Bu Nyai menyambut kami serasa anak sendiri. Serasa santri pesantren itu sendiri. Bu nyai ini adalah aktivis sejak tahun 90-an. Ia kemudian memilih berperan di desanya sendiri. Ia boleh berdiam diri di daerah. Tetapi, santri-santrinya saat ini tersebar di berbagai negara yang untuk belajar (di sini ada lembaga pendidikan khusus untuk menyiapkan santri agar bisa kuliah di luar negeri, I’dadiyah), lalu kembali dan menempati posisi penting, atau menjadi aktivis dimana-mana.

Dosen saya Bu Lilik Ummi Kalsum (sekarang wadek Ushuluddin UIN Jakarta), ternyata berangkat dari sini. Peneliti gender-terorisme IPAC, mbak Nava, ternyata malah puterinya (baru tahu kalau beliau hafizh 30 juz dan pintar baca kitab kuning, saya kira dulu adalah kader Muhammadiyah karena kuliahnya di UMY). Dan banyak nama individu keren lainnya yang dibicarakan dalam diskusi kami. Syukur saya pernah bertemu dengan mereka-mereka yang keren itu. Dan hari ini saya mengunjungi kawah candradimuka mereka. Mengapa tempat ini banyak menghasilkan santriwati karir?

Tentu saya tak akan menjawabnya. Tetapi, ketika mengikuti proses pelatihan kemarin, saya menemukan bahwa santri di sini memang dimotivasi kuat. Khususnya oleh Bu Nyai melalui gaya persuasinya, “Nak”, “anak Lanang”. Bahwa mereka harus menjadi pribadi yang kuat secara keilmuan dan keagamaan.

Para peserta yang umumnya santri kelas 12 dan mahasiswa ini, tadinya kurang bersemangat karena teori ilmu hadis yang disampaikan sudah kenyang mereka pelajari. Tetapi ketika memasuki praktek, rupanya suasana berubah menjadi begitu bersemangat. Saya bahagia. Kegiatan ini berhasil menanamkan benih “rasa ingin tahu” dan “metode dasar berburu pengetahuan baru”. Di sela-sela kesibukan bu Nyai lainnya, memberdayakan santri dan masyarakat sekitar (santri yang berasal dari keluarga tidak mampu dikaryakan di bengkel mobil dan toko agar bisa membayar uang kuliahnya, para janda tua diajak ke majelis istighatsah dan mendapat santunan), beliau masih menyempatkan menengok kegiatan kami. Memberi motivasi berkali-kali. Tentu ini menambah semangat peserta.

Di sini saya belajar, seperti saya pelajari dari tulisan-tulisan Gus Dur, agama dapat menjadi kekuatan transformatif bagi masyarakat. Menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Ada begitu banyak yang mengeluh soal biaya pendidikan yang mahal. Tetapi tidak banyak yang bisa mengubah keadaan ini. Apa yang dilakukan Bu Nyai Umdah adalah menjawab kebutuhan pendidikan, kemandirian dan canggihnya memanfaatkan budaya agama untuk mewujudkannya.

Teori-teori Gus Dur sebenarnya agaknya menjadi antitesis teori modernitas yang cenderung membenturkan agama dan kemajuan yang bahkan diikuti membabi buta oleh sebagian modernis. Contoh dari Jombang yang masih hidup ini sampai dan kisah kiai-kiai dari Jombang yang dulu suka ditulis oleh Gus Dur, bisa menjadi contoh keterbatasan teori relasi agama dan modernitas itu.

Tentu saja, agama transformatif ini punya syarat. Aktor agama, bukan justru memanipulasi nilai-nilai dan budaya agama menjadi mengumpulkan pundi-pundi kepentingan sendiri mengalahkan kepentingan yang lebih luas. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para aktor agama.

Karenanya, Bu Nyai selalu berpesan kepada kami agar menjaga kemandirian. Sebelum kami pulang, kami diajak ke masjid yang berarsitektur Tionghoa-Mojopahit. Dengan bangga, beliau menyebut “Ini saya arsiteki sendiri lo mas…”. Di samping masjid itu, ada asrama santri yang belum jadi 100 persen. Sambil kami lihat-lihat, beliau bilang, “Kalau sampean mau bikin pondok, dimulai sedikit-sedikit. Kayak ini. Saya dulu memulai Assa’idiyyah 2 dulu cuma dengan satu santri. Tiga orang. Yang dua sekaligus jadi sopir saya.” Belum puas, beliau mengajak kami mengunjungi showroom mobilnya, “Sampean gak mau bisnis ta? Ayok, tak tunjukin showroom mobil yang dikelola anak-anak. Tak dungakno sampean ketularan.” Kami hanya cengar-cengir, dan hanya bilang “Siap Bu. Aamiin.”

 

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here