Oktober Bulan Bahasa dan Sastra: Mari Dawamkan Wirid Literasi!

0
35

BincangSyariah.Com – Syekh Abd al-Rahman al-Tsaqaf pernah berujar dengan nada sarkastis tentang orang yang tak punya tradisi wirid dalam kesehariannya. Beliau berkata, “Man lam yakun lahu wirdun fahuwa qirdun.” “Sesiapa yang tak punya wirid maka ia (seperti) kera”.

Apa yang beliau ungkap agaknya tidaklah berlebihan. Manusia, khususnya umat beragama yang berkeyakinan bahwa seluruh tindak-tanduknya dimintai pertanggungjawaban, sudah sepantasnya menggunakan waktunya secara efektif serta mengisinya dengan ragam amal baik.

Termasuk di antaranya dengan melafalkan bacaan tertentu yang diambil dari Alquran maupun Sunnah. Aktivitas inilah yang kemudian lazim kita kenal dengan istilah wirid. Aktivitas ini pulalah yang kerap muncul dalam benak secara spontan tatkala kata ‘wirid’ itu disebut.

Sejatinya, wirid tidak hanya terbatas pada pelafalan bacaan-bacaan tertentu saja. Sebab di samping wirid dengan pengertian tadi, ada varian wirid lain yang barangakali memang tidak sepopuler wirid yang telah disebut sebelumnya, namun manfaatnya tak kalah urgen bagi perkembangan relijius-spiritual seseorang. Aktivitas wirid yang dimaksud adalah wirid literasi; wirid ahl ‘ilm; wirid yang ditempuh dengan cara membaca atau mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Untuk mengafirmasi hal ini, kita dapat merujuk, misalnya, nasihat Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam Risalah al-Mu’awanah. Secara eksplisit beliau mempersuasi kita untuk tekun melakukan wirid macam ini; tekun menelaah pelbagai sumber otoritatif yang bermuatan ajaran tauhid, syariat (fikih), dan tasawuf, baik berupa Alquran dan al-Sunnah maupun kitab-kitab anggitan ulama.

Di sini pula, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad mengapresiasi kerja intelektual ulama mujaddid (pembaharu) abad ke-5 Hijriyah, Hujjah al-Islam al-Ghazali sebab telah menghimpun tiga serangkai elemen kunci dalam Islam (tauhid, fikih, dan akhlak (tasawuf)) dalam karya-karyanya. Al-Haddad merekomendasikan buku-buku al-Ghazali sebagai objek kajian bagi siapa saja yang hendak menapak suluk dan beroleh level-level spritual tertentu.

Baca Juga :  Pernah Dengar Istilah Hizib ? Apa Artinya ?

Yang menjadi catatan dalam aktivitas membaca secara umum, tak terkecuali dalam mengamalkan wirid literasi adalah kita harus kritis dan selektif terhadap bacaan. Kecermatan, pemahaman terhadap istilah-istalah kunci, juga kejujuran dalam mengukur kemampuan diri dalam rangka menyesuaikan diri dengan apa yang hendak dibaca merupakan hal-hal yang tak boleh dilewatkan. Terlebih apabila topik bacaan yang dihadapi berada dalam lingkup urusan akidah dan atau tasawuf.

Oleh karena itu, setelah mempersuasi dan menganjukan kita agar tekun melakukan wirid literasi, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad memberi semacam warning, agar sebaiknya kita menahan diri untuk tidak membaca kitab-kitab tasawuf yang membahas renik-renik persoalan hakikat dan semacamnya, semisal pembahasan yang banyak ditemukan dalam karangan Ibnu Arabi. (Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, Risalah al-Mu’awanah)

Penting pula dicatat bahwa dengan adanya warning yang demikian, bukan berarti bahwa gagasan dalam kitab-kitab Ibnu Arabi dan semisalnya ‘bermasalah.’ Melainkan karena topik-topik yang diulas di dalamnya hanya bisa dijangkau oleh orang-orang yang telah mencapai maqam puncak (arbab al-nihayah), bukan oleh para pemula (arbab al-bidayah).

Bahkan dalam Fath al-Mu’in, Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari dengan tegas menyatakan, “Haram hukumnya mempelajari karangan para wali dan mistikus bagi orang yang tidak mengerti inti dari istilah dan tariqah mereka. Sesungguhnya hal tersebut adalah kesalahan dalam melangkah. Dari kesalahan itulah banyak orang yang tersesat, terkecoh oleh lahirnya ungkapan-ungkapan yang ada dalam kitab-kitab meraka.”.  (Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari, Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-‘Ain bi Muhimmat al-Din)

Mafhumnya, bagi mereka yang sanggup menjangkau istilah-istilah secara mendalam tentu tak ada masalah. Pendapat ini semakin mengukuhkan bahwa yang menjadi masalah bukanlah konten dari kitab-kitab tersebut, melainkan tingkat kapabilitas pembacanya. (Baca: Spirit Literasi dalam Al-Qur’an)

Baca Juga :  Persona Orang Tawakal

Barangkali akan ada satu-dua orang yang terlalu percaya diri atau lebih tepatnya ngeyel merespon warning di atas sembari dengan enteng berujar, “Tak jadi soal bagiku mempelajari kitab-kitab macam itu. Lha, wong, yang aku ambil tentu adalah apa yang aku pahami. Sementara yang tidak kupahami akan kukembalikan pada pengarangnya.”

Jika demikian, jawablah seperti yang diajarkan Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. “Bijak sekali Anda! Hanya, yang sejatinya kami khawatirkan, Anda justru memahaminya dengan salah, lalu Anda tersesat dari jalan yang lurus. Sebagaimana banyak terjadi pada kalangan yang tekun mempelajari kitab-kitab tersebut tetapi mereka justru terjerumus ke dalam perbuatan zindik dan ateisme, sembari menyebut-nyebut hulul dan ittihad.” (Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, Risalah al-Mu’awanah)

Sebagaimana wirid-wirid yang lain, wirid literasi sebetulnya juga merupakan sebentuk upaya untuk mengunduh warid (buah atau hikmah wirid) dari ‘langit’. Dengan rajin membaca dan mengkaji gagasan dari teks-teks keagamaan seperti yang telah disebut di atas, besar harapan agar Allah Swt. akan mencurahkan karunia-Nya berupa ilmu-ilmu ataupun hikmah-hikmah yang berimplikasi meningkatkan ketakwaan, merabuk tauhid, dan mempertebal keimanan.

Wirid literasi adalah bukti bahwa ajaran Islam mengusung semangat literasi yang kuat; semangat untuk mendidik dan mencerdasakan umat yang merembes ke dalam setiap relung ajarannya. Semangat yang tentunya telah bermula sejak titah iqra’ (bacalah!) yang turun sebagai wahyu pertama.

Akhiran, kalender nasional kita menyebut Oktober sebagai Bulan Bahasa dan Sastra. Pada bulan ini, dihelat ragam event dan perlombaan untuk merabuk dan mendongkrak literasi bangsa. Sebuah momentum yang tepat untuk berkampanye: Mari dawamkan wirid literasi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here