Nilai-nilai Kebangsaan dalam Ajaran Islam

0
895

BincangSyariah.Com – Kita tahu, ajaran Islam tidak hanya mengajarkan tentang urusan keagamaan atau keakhiratan atau hubungan dengan Tuhan melalui serangkaian ibadah ritual yang disebut mahdhah saja. Islam pun turut mengatur urusan keduniaan atau hubungan dengan manusia melalui serangkaian ibadah muamalah, seperti urusan ekonomi, politik, pemerintahan dan sebagainya. Islam juga turut memperhatikan masalah kebangsaan. (Baca: Ijtihad Tasawuf Kebangsaan Syaikhona Kholil Madura)

Mengapa demikian? Sebab, kebangsaan bisa menjamin kehidupan yang rukun dan damai dalam perbedaan. Kerukunan dan perdamaian membuat ajaran agama bisa lebih mudah dipahami, dihayati dan diamalkan. Maka dari itu, tidak bisa tidak, kehidupan kebangsaan adalah prasyarat agar ajaran Islam bisa terlaksana.

Melaksanakan ajaran Islam adalah kewajiban. Maka, menyediakan berbagai persyaratan bagi tegaknya ajaran Islam pun menjadi hal yang wajib. Sampai di sini kita bisa menyimpulkan bahwa menegakkan kebangsaan menjadi wajib hukumnya.

Kesimpulan tersebut bisa didasarkan pada kaidah fiqhiyah yang berbunyi: maa laa yatimmu al-wajibu ila bihi fahuwa waajibun yang memiliki arti bahwa sebuah kewajiban tidak akan tegak jika tidak ada sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib.

Kita juga bisa melihat makna kebangsaan dalam ajaran Islam di mana ajaran Islam sangat menekankan pentingnya menegakkan nilai-nilai universal dan kekal ajaran Islam. Nilai  universal tersebut adalah kebenaran, keadilan, kasih sayang, kesabaran, perpaduan, kebaikan, keindahan dan sebagainya.

Kebangsaan Adalah Ijtihad

Dalam buku Islam Indonesia Menatap Masa Depan (1989) tercantum bahwa ada contoh makna kebangsaan dalam surat al-Anfal (6) ayat 41 bahwa tanah-tanah negeri yang ditaklukan oleh tentara Islam dibagikan kepada tentara yang menaklukkannya, fakir miskin, dan lain-lainnya.

Dalam hal ini, Umar al-Faruq justru memilih jalan lain. Tanah-tanah tersebut tetap dimiliki oleh pemiliknya yang asal, tapi mereka harus membayar pajak tanah, dan para pemilik itu juga membayar jizyah yang boleh disamakan dengan pajak kepala.

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Jangan Berbuat Zalim Meski Engkau Mampu Melakukannya

Umar menyatakan bahwa jika ketentuan al-Qur’an tersebut dilaksanakan, maka tidak akan mencapai keadilan sebab zaman sudah berubah. Pada saat tanah-tanah tersebut dibagikan kepada prajurit atau tentara yang ikut berperang, keadaan tentara dan prajurit tersebut masih miskin.

Sedangkan pada zaman pemerintahan Umar, keadaan sudah jauh berbeda. Islam saat itu semakin kukuh dan teguh. Tentara Islam terdiri dari laskar-laskar profesional. Kehidupan dan kedudukan para tantara tersebut sudah terjamin. Umar merasa lebih adil jika tanah-tanah tersebut dikekalkan pada tangan pemiliknya asalnya. Sebab, kebanyakan dari mereka terdiri dari orang-orang yang dhaif.

Kisah ini mengukuhkan bahwa kebangsaan adalah sebuah produk ijtihad yang bisa saja secara langsung dan eksplisit tidak dijumpai di dalam ajaran Islam. Tapi, perlu diingat bahwa nilai-nilai universal yang ada di dalamnya sejalan dengan ajaran Islam. Maka, wawasan kebangsaan tersebut bisa digunakan bahkan wajib digunakan.

Founding Fathers Indonesia

Sadarkah kita bahwa pilar kebangsaan Indonesia yang terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI dilahirkan oleh para pendiri bangsa (The Founding Father) yang sebagian besar dari mereka adalah para ulama dan tokoh-tokoh Islam?

Ada K.H.Wahid Hasyim, H.Agus Salim, Muhammad Natsir, K.H. Mas Mansyur, bahkan Soekarno dan Hatta yang meskipun tidak tergolong sebagai ulama atau ahli agama, namun keduanya adalah orang yang religius dan Islamis.

Usaha para tokoh Islam di zaman pra kemerdekaan untuk membangun pilar-pilar kebangsaan dan melaksanakannya dalam sebuah negara kesatuan Republik Indonesia serupa dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. yang tertuang dalam Piagam Madinah atau Mitsaq al-Madinah.

Dua hal di atas sudah cukup menjadi prototipe bagi kita untuk memiliki pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam yang membutuhkan sebuah wadah yakni negara yang tertib, aman dan damai.

Baca Juga :  Sunnah Nabi tentang Berbicara dengan Jelas kepada Lawan Bicara

Negara yang demikian mesti memiliki wawasan kebangsaan yang kokoh. Kehidupan kebangsaan yang baik akan membuat umat Islam bisa menjalankan ibadahnya dengan khusyuk, melakukan kegiatan dakwah, pendidikan, dan melahirkan berbagai karya-karya inovatif lainnya.

Kita juga perlu sadar bahwa tanpa adanya sebuah negara yang aman dan damai, maka berbagai kegiatan umat beragama tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Hal ini bisa kita saksikan di berbagai negara di kawasan Timur Tengah.

Masyarakatnya hidup dalam suasana cemas, penuh ketakutan, kekurangan sandang, pangan dan papan, bahkan kehilangan masa depan. Masyarakat pun terkena dampaknya dan mengungsi mencari perlindungan dari negara lain. Masyarakat yang masih bertahan, setiap harinya menghadapi suasana ketakutan akibat perang di antara kelompok-kelompok yang saling bermusuhan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here