Nilai-nilai Demokrasi dalam Islam

1
22

BincangSyariah.Com – Ada banyak nilai-nilai demokrasi dalam Islam. Isu utama dalam demokrasi adalah persoalan saling menghargai eksistensi atau keberadaan seorang manusia. Rasa ingin dihargai merupakan kebutuhan alamiah yang dalam Islam sering disebut sebagai fitrah manusia.

Demokrasi adalah istilah yang lahir dari dunia Barat. Meski begitu, Islam bersikap akomodatif pada semua hal yang datang dari luar, baik dari Barat atau Timur. Apabila nilai-nilai yang diusung sejalan dengan nilai-nilai Islam sendiri, maka hal tersebut sah-sah saja dalam Islam. Pertimbangan ini juga termasuk nilai-nilai demokrasi dalam Islam.

Telah banyak pakar keilmuan yang menyatakan bahwa pemerintahan dalam pimpinan Rasulullah Saw. dan Khulafaurrasyidin adalah pemerintahan paling demokratis yang pernah ada di dunia.

Anggapan tersebut diperkuat Piagam Madinah yang dijadikan sebagai acuan dalam menata hubungan antarwarga masyarakat. Pada masa tersebut, seluruh elemen masyarakat memeroleh pengakuan dan penghormatan yang setara.

Banyak tokoh yang mengaku takjub dengan Piagam Madinah. Salah satu tokoh yang tercengang dengan Piagam Madinah adalah Robert N. Bellah. Ia menulis dalam bukunya yang berjudul Beyond Belief (1976) bahwa Nabi Muhammad Saw. berhasil membuat lompatan yang jauh ke depan. Ia menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw. sudah melahirkan konstitusi Madinah yang sangat modern di zamannya.

Tentang demokrasi dalam Islam, Prof. Dr. Mahmud Shaltut yang merupakan Cendekiawan Muslim dan Mantan Rektor al-Azhar Kairo Mesir menegaskan bahwa meskipun banyak perbedaan pendapat dalam memahami akidah, tapi ada tiga hal yang harus dibatasi dalam menyikapi perbedaan:

Pertama, akidah mesti dipahami dari dalil yang Qat’i yaitu dalil yang bersumber dari al-Qur’an dan hadits yang sahih. Kedua, pemahaman akidah dari dalil yang tidak Qat’i pada gilirannya akan menimbulkan perbedaan pendapat. Dalam keadaan tersebut, tidak ada satu pendapat pun yang boleh diklaim paling benar dan menafikan pendapat lain.

Baca Juga :  Tafsir al-Maraghi: Panduan Umat Memahami Al-Qur'an dengan Ringkas

Ketiga, materi-materi akidah yang ada dalam buku-buku tauhid bukan rangkuman dari semua masalah akidah yang diwajibkan Allah Swt. kepada umat Islam. Kitab-kitab tersebut adalah karya ilmiah yang kemungkinan besar berbeda dengan teks al-Qur’an dan al-hadits. Maka dari itu, kitab-kitab tersebut menjadi lahan ijtihad bagi para ulama.

Ada ayat-ayat dalam al-Qur’an tentang pesan-pesan mulia dalam bersikap demokratis, tentang musyawarah dan tentang toleransi dalam perbedaan. Salah satunya adalah Q.S. ali-Imran (3) Ayat 159 sebagai berikut:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ

Fa bimā raḥmatim minallāhi linta lahum, walau kunta faẓẓan galīẓal-qalbi lanfaḍḍụ min ḥaulika fa’fu ‘an-hum wastagfir lahum wa syāwir-hum fil-amr, fa iżā ‘azamta fa tawakkal ‘alallāh, innallāha yuḥibbul-mutawakkilīn

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa dalam keadaan genting, salah satunya dalam peristiwa pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin dalam perang Uhud yang menyebabkan kaum Muslimin menderita kekalahan,  Rasulullah saw. tetap lemah lembut.

Beliau tidak marah pada para pelanggar. Beliau justru memaafkan dan memohonkan ampun bagi mereka. Jika saja Rasulullah Saw. bersikap keras, tentu saja mereka akan menaruh benci kepada beliau.

Baca Juga :  Empat Tingkatan Kondisi Hati Manusia

Nilai demokrasi dalam Islam yang lain tercermin dalam pergaulan sehari-hari Rasulullah Saw. Beliau senantiasa memberi maaf pada orang yang berbuat salah dan memohonkan ampun kepada Allah Swt. terhadap kesalahan-kesalahan tersebut.[] (Baca: Tiga Alasan Gus Dur Menyebut Islam Agama Demokrasi)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here