Hanya Niat Melakukan Keburukan Tanpa Melakukan, Apakah Terhitung Dosa?

0
23

BincangSyariah.Com – Terkadang terbesit di dalam benak niat melakukan keburukan, namun kita tidak sampai mengimplementasikannya dalam kehidupan. Apakah niat melakukan keburukan itu terhitung dosa?

Sebenarnya hati manusia merupakan pangkal dari seluruh perbuatannya. Imam Muslim meriwayatkan hadis dengan diksi menarik dalam kitabnya, Shahih Muslim, dalam mendeskripsikan pentingnya hati dalam membangun sifat dan sikap manusia

إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْب

“tahukah engkau, sesunguhnya pada jasad manusia ada segumpal daging, jika baik, maka seluruh jasadnya juga baik, jika rusak, maka semua jasadnya pun juga rusak, segumpal daging itu adalah hati”, (HR. Muslim).

Bahwasanya hati dapat meniscayakan perbuatan riil yang dipraktikkan oleh jasad, al-Ghazali mengelompokkan beberapa perilaku abstrak hati tersebut. Ada yang tidak dikenai hukum, dan ada yang dikenai hukum sebagaimana perilaku anggota tubuh yang lain. Meskipun abstrak, perilaku hati tersebut bisa dijangkau dan diklasifikasi oleh al-Ghazali menjadi empat tingkat.

Khathrun (Pikiran yang terlintas)

Sesuatu yang hanya terlintas dalam hati atau pikiran dengan tanpa sengaja untuk dipikirkan sebelumnya, bisa disebut dengan khathrun. Lintasan pikiran ini merupakan perilaku hati yang datang tiba-tiba.

Al-Mayl (Kecenderungan hati)

Bagian ini sama dengan yang pertama, sama-sama tidak disengaja untuk dilakukan. Datang dengan tiba-tiba tanpa diusahakan.

Al-Ghazali menyampaikan bahwa dua bagian ini merupakan maksud dari haditsun nafsi pada sabda Nabi Muhammad saw.

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي عَمَّا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَكَلَّمْ أَوْ تَعْمَلْ بِهِ

“Sesungguhnya Allah mengampuni ummatku tentang apa yang terlintas dalam pikirannya selama tidak diungkapkan dalam perkataan, dan perbuatan”.(HR. Al-Nasai)

Al-I’tiqad (iktikad)

Ketika hati membuat sebuah hipotesa bahwa seyogianya dia melakukan suatu hal tertentu, maka hal ini disebut al-i’tiqad dalam pembagian al-Ghazali. Bagian ini kadang-kadang terjadi karena terpaksa, kadang juga terjadi dalam keadaan biasa-biasa saja, tanpa ada rasaterdesak.

Perilaku yang ketiga ini dikenai hukum saat dalam kondisi tidak teredesak. Sementara kalau ada faktor yang memaksanya membuat sebuah hipotesis untuk dilakukan, maka perilaku hati ini tidak dikenai hukum.

Al-Hammu (Tekad)

Pada tingkatan al-hammu ini, sesuatu yang sebelumnya abstrak sebentar lagi akan menjadi riil dikerjakan oleh jasad. Tekad yang sangat kuat akan dilakukann oleh jasad mengindikasikan bahwa tolak ukur perilaku yang ketiga ini adalah ketika dikerjakan.

Al-Ghazali mendiskripsikan bagian ini dengan tekad untuk melakukan keburukan. Dengan demikian, jika tekad ini tidak sampai dilakukan dengan alasan takut kepada Allah swt., sekaligus adanya penyesalan, maka perilaku batal melakukan tekad ini dikategorikan sebagai kebaikan. Sementara itu, jika tekad buruk ini sampai dilakukan, atau tak jadi dilakukan bukan karena takut kepada Allah swt., maka hal ini tercatat sebagai perilaku buruk yang dikenai hukum.

Bagian yang ketiga ini tak lain adalah interpretasi dari sabda nabi

إِذَا التَقَى المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالقَاتِلُ وَالمَقْتُولُ فِي النَّارِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا القَاتِلُ فَمَا بَالُ المَقْتُولِ قَالَ: إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“jika dua orang bertikai menggunakan pedang mereka, maka yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama di neraka. Aku (Abu Bakar ra.) bertanya: kenapa yang terbunuh juga masuk neraka wahai nabi?, nabi menjawab: sesungguhnya dia sudah bertekad untuk membunuh yang satunya”. (HR. Al-Bukhari).

Mengomentari hadis ini, al-Ghazali menegaskan dalam kitabnya, Raudlah al-Thalib wa ‘Umdah al-Salik, bahwa hadis itu sebagai bukti bahwa orang bisa saja menjadi ahli neraka dengan semata-mata keinginan dalam hatinya.

Akhiran, Allah tidak akan menghakimi sesuatu yang terbesit dalam hati tanpa disengaja, toh walaupun disengaja, Allah akan menunggu untuk dijatuhkan dosa sampai hal tersebut dilakukan. Sepahit apapun ancaman dosa itu, Allah tetap memberi peluang untuk menarik kembali tekadnya dengan adanya penyesalan dan takut pada-Nya, hingga tekad yang batal tersebut berbalik menjadi catatan kebaikannya.

Wallahu a’lam bis shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here