Ngaji Sunnah: Hijrah Sesuai Sunnah Rasulullah

1
114

BincangSyariah.Com Senin lalu (21/09), el-Bukhari Institute menyelenggarakan acara Ngaji Sunnah (Ngasuh) via WhatsApp. Tema yang diusung adalah “Hijrah sesuai sunnah Nabi: Sejarah, Model, dan Tuntunannya.” Acara ini diselenggarakan selama tiga sesi, tanggal 21, 24, dan 28 September 2020 pukul 16.00-17.00 oleh Ustadz M. Khairul Huda Lc., MA., Dosen Hadis Institut Darul Quran Tangerang dan Direktur Penerbitan el-Bukhari Institute.

Sejarah Hijrah

Pada sesi pertama ini Ustadz Huda mengawali dengan menjelaskan tentang sejarah hijrah. Hijrah dalam sejarah Islam ini berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Peristiwa hijrah tersebut menjadi pengalaman umat Islam pertama yang paling dramatis.

Islam diajarkan oleh Rasulullah saw. di kota Makkah. Dalam sejarahnya, dakwah Rasulullah saw. ini ditentang oleh orang-orang atau pembesar-pembesar yang ada di kota Makkah. Berbagai macam penentangan dilakukan karena Nabi saw. membawa ajaran baru dan bersebrangan dengan ajaran yang sudah akrab dengan masyarakat Arab saat itu.

Gangguan ini tidak membuat Rasulullah saw. mundur. Bahkan beliau semakin gigih dan mendapatkan banyak sekali pengikut. Namun, semakin banyak yang beriman semakin banyak pula tekanan kepada umat Islam yang jumlahnya masih baru berapa puluh orang saat itu.

Rasulullah saw. merasa tekanan dan intimidasi orang-orang Quraisy sudah sangat kerasnya. Kemudian beliau berinisiatif memerintahkan sahabatnya berhijrah. Hijrah yang pertama ke negeri Habasyah atau Ethopia. Dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib; saudaranya sayyidina Ali bin Abi Thalib masih sepupunya Rasulullah saw. Disana adalah sebuah kerajaan kristen yang dipimpin oleh seorang raja yang bergelar An-Najasyi.

Dalil-Dalil Hijrah dan Bagaimana Seharusnya Memahaminya

Ternyata hijrahnya sebagian kaum muslimin itu tidak meredakan gangguan orang Quraisy. Justru kaum muslimin yang masih bertahan di kota Makkah mendapatkan intimidasi yang luar biasa. Kemudian turun sebuah ayat yang memerintahkan untuk berhijrah tepatnya di dalam surah An-Nisa’ [4]: 100.

Baca Juga :  Ingin "Tajdidul Wudu"? Begini Cara yang Benar

Ayat ini menjadi dasar anjuran berhijrah bagi umat Islam saat itu yang masih berada di Makkah agar mengikuti hijrahnya Rasulullah saw. ke kota Madinah. Tujuannya adalah untuk memperkuat barisan orang Islam.

Hijrah dalam pengertian seperti ini dalam Islam sangat dramatis. Kenapa? Karena umat Islam Makkah ini harus meninggalkan keluarganya, pekerjaannya, rumahnya, tanahnya, dan semuanya. Sementara itu, mereka pun harus pergi ke tempat baru yang belum tahu pekerjaan dan hidup seperti apa yang akan mereka jalani.

Belum lagi setelah berhijrah nanti mereka harus berhadap-hadapan dengan keluarganya yang memusuhinya. Seperti pada perang pertama, yakni perang Badar tahun 2 H. Ini juga dramatis. Di mana pada perang ini musuhnya orang Islam tidak hanya berasal dari musyrik saja, ternyata di sana juga ada kaum muslimin yang tidak mengikuti hijrah ke Madinah. Ketika mereka di Makkah mereka dipaksa berada di barisan pasukan orang-orang musyrik.

Oleh sebab itu, maka turun Q.S. An-Nisa’ [4]: 97, pada ayat tersebut terdapat ancaman yang mengerikan dari Al-Qur’an bahwasannya mereka yang tidak mau berhijrah, tempatnya kelak adalah di neraka Jahanam. Kecuali orang-orang yang benar-benar tidak  mampu, baik kaum laki-laki, perempuan, atau anak-anak. Mereka tidak mampu berbuat sesuatu ataupun tidak bisa menapaki jalan hijrah.

Rasulullah saw. bahkan bersabda bahwa beliau berlepas diri, tidak mau tanggung jawab atas orang-orang muslim yang masih tinggal bersama orang-orang musyrik Makkah. Artinya kalau sampai terjadi perang seperti perang Badar, kemudian harus berhadap-hadapan dengan kaum muslimin, maka Rasulullah saw. tidak bertanggung jawab kalau dia takdirnya tewas.

Saking dramatisnya hijrah ini menjadi fenomena yang luar biasa dalam psikologis umat Islam sampai ditetapkan sebagai kalender umat Islam. Yaitu kalender hijriyah yang ditentukan berdasarkan sampainya Rasulullah saw. di kota Madinah.

Baca Juga :  Ini Ayat yang diturunkan Ketika Nabi Sedih Meninggalkan Makkah untuk Hijrah ke Madinah

Rasulullah saw. mengatakan bahwa kewajiban hijrah tidak akan berhenti sampai kewajiban taubat itu berhenti. Sementara kewajiban bertaubat itu tidak akan habis. Tidak akan berhenti sampai matahari terbit dari arah Barat. Jadi selama dunia ini masih eksis orang masih wajib berhijrah.

Laa Hijrata Ba’da al-Fath

Kewajiban hijrah ini kemudian diubah oleh Rasulullah saw. ketika terjadi penaklukkan kota Makkah atau Fathu Makkah, yaitu sekitar tahun 8 atau 9 Hijriyah. Pada peristiwa Fathu Makkah ini orang-orang musyrik Makkah tidak berkutik melihat kekuatan umat Islam yang sudah menguasai kota Makkah.

Lalu, Rasulullah saw. bersabda, “Kalian bebas.” Terserah mau ke mana saja yang penting tidak di kota Makkah kalau memang masih musyrik. Pada akhirnya banyak yang memilih untuk masuk Islam. Lalu, muncul pertanyaan apakah perintah berhijrah dari Makkah ke kota Madinah itu masih berlaku?

Rasulullah saw. menjawab, “La hijrata ba’dal fathi wa laakin jihaadun wa niyyah” (tidak ada kewajiban hijrah setelah fathu Makkah, tetapi yang wajib adalah jihad dan niat untuk berjihad). Berdasarkan sabda beliau ini, diambil kesimpulan bahwa kewajiban berhijrah dari kota Makkah ke kota Madinah ini sudah berakhir. Yakni berhijrah secara fisik dari satu kota ke tempat yang lainnya.

Ada sebagian ulama yang memahami bahwasannya kalau kasusnya muncul lagi seperti yang terjadi pada kota Makkah saat itu. Di mana kaum Muslimin diintimidasi dan mereka tidak bisa menjalankan agamanya dengan baik, maka mereka harus berhijrah ke tempat yang mereka bisa menjalankan agamanya dengan baik.

Ada juga yang berpendapat kewajiban hijrah itu tidak akan terputus sampai terputusnya kewajiban taubat. Tetapi bukan berarti berhijrah dari satu tempat ke tempat ke tempat yang lainnya. Melainkan hijrah yang artinya menjalankan perintah Allah dan menjauhi keburukan-keburukan.

Baca Juga :  Memahami Hijrah dari Para Sufi

Landasannya adalah sebuah hadis riwayat imam Ibn Hibban,

“المهاجر من هاجر عما نهى الله عنه” أو “المهاجر من هاجر السيئات”

al-Muhajir man hajara ‘amma nahahallahu anhu atau Al muhajir man haajara as-sayyiaat.

orang berhijrah adalah yang “hijrah” (berpindah) dari apa yang Allah larang; orang berhijrah adalah orang yang meninggalkan keburukan. 

Ada juga riwayat lain dalam Musnad Ahmad bin Hanbal,

المهاجر من هجّر من نهى الله عنه

al muhajir man hajjara ma naahaallahu anhu.

Hakikat orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah meninggalkan keburukan-keburukan atau meninggalkan perkara-perkara yang dilarang oleh Allah.

Jadi, selama di dunia ini ada kesempatan untuk melakukan kejahatan, maka selama itu pulalah kewajiban berhijrah masih tetap ada. Inilah hijrah dalam arti perubahan perilaku menjadi lebih bertaqwa, menjadi lebih taat kepada Allah swt. Perubahan perilaku dari yang buruk menjadi yang baik ini masih terus berlaku hingga akhir zaman. Wa Allahu a’lam bis shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here