Ngaji al-Hikam: Perintah Bersikap Rendah Hati

0
1198

BincangSyariah.Com— Kita mendapatkan segala yang kita inginkan dari Allah Swt., baik itu berupa pekerjaan yang bagus, jabatan yang tinggi, rezeki yang melimpah, suami yang sholeh atau istri yang sholehah, anak yang pintar, dan lain sebagainya. janganlah kemudian merasa sebagai sosok yang paling beruntung dan serta merta membanding-bandingkan diantara yang lainnya.

Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari (w. 709 H) dalam kitabnya al-Hikam sangatlah mengecam tindakan yang demikian. Menurutnya:

إِدْفَنْ وُجُوْدُكَ فِي أَرْضِ الْخُمُوْلِ فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نَتَاجُهُ

“Tanamlah wujudmu di tanah kerendahan. Sesuatu yang tumbuh dengan tanpa ditanam hasilnya tidak akan pernah sempurna”

Adapun yang dimaksud oleh Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari tersebut yakni ketika kita telah mendapatkan segala yang kita inginkan, rendahkanlah diri kita dengan serendah-rendahnya. Jadilah layaknya orang biasa yang sangat hina dihadapan-Nya.

Lebih lanjut, menurut Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, segala yang diberikan-Nya kepada kita belum sebanding dengan karunia lain yang dimiliki-Nya. Rendah hati dan senantiasa bersyukur kepada-Nya adalah jalan terbaik dan ampuh untuk menjadikan Allah Swt. senantiasa terus menurunkan karunia-Nya kepada kita dan akan menjadikannya tumbuh dengan sempurna.

Sebaliknya, jikalau ketika kita telah mendapatkan segala yang kita inginkan lantas menjadikan kita sebagai sosok yang riya’, tinggi hati, dan membanding-bandingkan dengan apa yang dimiliki orang lain, dengan sekejap mata, Allah Swt. akan menjadikan apa yang telah diberikan-Nya kepada kita berhamburan sia-sia. Tidak ada berkah di dalamnya.

Dan jika hal itu terus menerus kita lakukan, bukan tidak mungkin justru Allah Swt. akan menariknya kembali. Apabila sudah demikian, kita termasuk golongan orang yang paling di antara hamba-hamba-Nya untu merugi selama-lamanya.

Baca Juga :  Amalan yang Dapat Mengantarkanmu ke Surga

Janganlah terlalu mengharapkan sebuah ketenaran sebelum memang waktu yang telah ditetapkan-Nya. Tunggulah masanya dengan senantiasa berusaha dan berdoa. Jika sudah datang waktu yang sudah ditetapkan-Nya, meskipun kita tidak sama sekali menginginkannya.

Sebagai perenungan, mari kita lihat kepada diri kita dan sekeliling kita, berapa banyak orang yang sangatlah menginginkan sebuah ketenaran, dikenal khalayak ramai, lalu berusaha dengan sekuat tenaga meskipun dengan cara yang dinilai salah, namun justru mereka dihinakan dihadapan-Nya.

Terakhir, hiduplah sebagaimana garis yang telah ditetapkan-Nya, mengikuti segala tuntunan-Nya, niscaya kita akan beruntung dalam menjalani kehidupan dunia maupun akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang demikian. Amin.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here