Ngaji al-Hikam: Penjelasan Ibadah dan Usaha Harus Seimbang

1
183

BincangSyariah — Pada dasarnya ibadah dan usaha harus seimbang, dan keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Keduanya harus berjalan beriringan dalam setiap upaya memecahkan persoalan hidup yang dihadapi oleh setiap manusia.

Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari (w. 709 H),

إرادتُكَ التّجْريدَ مع إقامةِ الله إيّاك في الأسبابِ من الشّهوةِ الْخَفيّةِ وإرادتُكَ الأسبابِ مع إقامةِ الله في التّجْريدِ إنْحطاطُ عنِ الْهِمّةِ الْعليّةِ

“Keinginanmu untuk berkonsentrasi (Ibadah) kepada Allah SWT padahal Dia telah menetapkan agar berusaha, merupakan bagian syahwat yang tersembunyi. Keinginanmu berusaha padahal Dia menetapkan untuk konsentrasi beribadah merupakan bentuk penurunan semangat yang tinggi.”

Adapun maksud dari redaksi yang pertama menerangkan bahwa keinginan setiap manusia dalam upaya memecahkan persoalan hidup yang memusatkan perhatian hanya dengan ibadah kepada Tuhan dan melepaskan segala bentuk usaha, tindakan yang sejatinya tidak melanggar syariat; dan bahkan tidak juga makruh merupakan bagian dari syahwat yang tersembunyi.

Rezeki (dalam hal ini dapat berbentuk apapun) seperti yang dijelaskan Prof. Quraish Shihab, bergerak kepada siapa saja yang bergerak juga. Ia harus dicari dan senantiasa terus menerus diusahakan. Sederhananya, jika kita hanya berdiam diri di masjid  beribadah dengan waktu yang cukup lama, maka rezeki pun tidak akan menghampirinya.

Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam hal dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang senantiasa beribadah tanpa melakukan usaha untuk mendatangkan rezeki merupakan sebuah tindakan kriminal dalam akidah yang sudah seharusnya di buang jauh-jauh.

Sebaliknya, sebagaimana tercantum dalam redaksi yang kedua, jika seseorang hanya memusatkan perhatian kepada usaha tanpa melibatkan ibadah di dalamnya, itu merupakan sebuah tanda keterpurukan. Tindakan semacam ini, menurut Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari tidaklah diizinkan dalam syariat.

Baca Juga :  Kasus Menjuluki "Monyet", Ini Nasihat Islam soal Tatakrama Memberi Julukan

Ketika seorang dengan sengaja dan ataupun tidak melalaikan ibadahnya dan hanya memikirkan urusan-urusan duniawi, maka seorang tersebut akan dengan mudah terperosok dalam sebuah lubang kehinaan.

Sejatinya, sebagai seorang hamba, sudah sehaurnya menjadi rela terhadap segala keputusan dan ketetepan yang telah diberikan-Nya. Artinya, jika Tuhan telah menetapkan waktu-waktu untuk beribadah, maka segerakanlah melakukan ibadah. Dan jika Tuhan telah menetapkan agar seorang hamba untuk berusaha, maka berusahalah.

Allah SWT Yang Maha Bijaksana telah mengatur segala urusan-urusan hamba-Nya dengan sangat rapih dan indah, baik yang kecil sampai yang besar sekalipun. Tidak ada seseorang pun yang hidup di dunia ini yang tidak dalam pengaturan-Nya.

Dengan menjalankan ibadah yang tekun dan diiringi dengan usaha-usaha yang tekun juga, setiap masalah tentu akan terselesaikan dengan sangat mudah dan dipenuhi keberkahan atas izin-Nya. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang demikian. Amin.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here