Ngaji al-Hikam: Hal yang Harus Dilakukan Ketika Allah Tak Kunjung Mengabulkan Doa

0
33

BincangSyariah.Com—Setiap manusia sudah barang tentu memiliki segudang keinginan yang terselip di dalam masing-masing sanubarinya. Namun terkadang Allah tak langsung mengabulkan doa atau keinginan tersebut. (Baca: Doa Imam al-Ghazali Ketika Harapan dan Doa Dikabulkan)

Ini mulai dari keinginan untuk menjadi kaya raya, dimana segala sesuatu senantiasa siap sedia ketika kita membutuhkan; memiliki pekerjaan dengan pangkat dan derajat yang baik; memiliki pasangan hidup yang sempurna sesuai dengan kriteria yang kita inginkan; lulus sekolah dengan mudah dan mendapatkan predikat yang sempurna; dan apapun itu bentuknya.

Tentu saja tidak ada yang salah dari segala bentuk keinginan yang dimiliki oleh setiap manusia, sebagaimana beberapa contoh yang tersebut di atas. Itu semua adalah hal yang dapat dibilang sangatlah wajar dan biasa-biasa saja. Manusiawi banget.

Untuk mewujudkannya, tentu saja kita harus melakukan apapun syarat dan ketentuan yang ada. Misalnya, ketika kita ingin menjadi kaya raya, kita harus bekerja dengan sangat keras, menabung, dan tidak lupa menyiapkan beberapa strategi khusus.

Kemudian, ketika kita ingin mendapatkan pendampinng hidup yang sempurna, tentu kita harus mempersiapkan diri kita terlebih dahulu dengan sebaik mungkin. Ketika kita ingin lulus sekolah dengan mudah dan mendapatkan predikat yang sempurna, tentu saja kita harus belajar dan berlatih dengan giat terkait. Dan seterusnya.

Setelah serangkaian usaha atau ikhtiar telah kita lakukan sebaik mungkin, berdoa adalah sebentuk hal yang harus dilakukan selanjutnya. Tentu saja ini sebagai wujud kehamba-an kita kepada Allah.

Lantas bagaimana ketika serangkaian usaha dan doa telah kita lakukan dengan semaksimal mungkin namun tidak kunjung membuahkan hasil sesuai dengan apa yang kita harapkan? Apakah yang harus kita lakukan? Mengomel? Frustasi? Menyalahkan sepenuhnya kehendak-Nya?

Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari (w. 709 H)—Allah Yarham—, dalam kitabnya al-Hikam memberikan sebuah nasihat penting kepada kita semua ketika sampai pada titik di mana segala keinginan kita tidak kunjung dikabulkan oleh Allah Swt. Ia memulai penjelasannya dengan menyebutkan:

لَا تُطَا لِبْ رَبَّكَ بِتَأَخُّرِمَطْلَبِكَ وَلَكِنْ طَالِبْ نَفْسَكَ بِتَأَخُّرِأَدَبِكَ

“Janganlah menuntut Tuhan karena doa Anda terlambat dikabulkan. Akan tetapi, tuntutlah diri Anda karena terlambat menjalankan kewajiban Anda”.

Berangkat dari redaksi di atas, hal yang harus kita lakukan setelah serangkain usaha dan doa agar segala keinginan kita tercapai namun tidak kunjung dikabulkan-Nya adalah “Intropeksi Diri”.

Sudahkah kita menjalankan segala bentuk anjuran dan ketentuan-Nya dan tidak melanggar segala apa yang tidak dikehendaki-Nya? Apabila kita merasa belum atau masih seringkali lalai terhadap hal-hal yang dianjurkan-Nya dan sudah menjadi kewajiban kita, maka segeralah perbaiki diri.

Sejatinya, sebagaimana diungkapkan Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, Doa yang makbul adalah akibat dari apa kesesuaian kita dalam menjalankan segala bentuk anjuran dan ketentuan yang diiringi dengan kehendak-Nya. Pun sebaliknya, Doa yang tidak makbul adalah akibat dari ketidaksesuaian kita dalam menjalankan segalan yang telah menjadi ketetapan-Nya. Wallahu’alam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here